Selasa, 24 Januari 2012

Bolehkah Aku Hanya Mencintaimu Seperti Itu?



Kemari dan duduk di sini. Aku mau bercerita tentang cinta itu seperti apa.

Mereka mengatakan cinta itu melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Berperang seperti yang dilakukan Paris untuk mempertahankan Helen sehingga kerajaan Trojan diserang lima puluh ribu pasukan Sparta. Atau membangun istana megah seperti yang dilakukan kaisar Mughal Shah Jahan untuk istrinya sehingga ada monumen cinta yang bernama Taj Mahal di Agra, India.

Tapi, sayang, aku tidak punya pasukan untuk berani menentang lima puluh ribu orang. Aku juga tidak punya emas dan uang berlipat-lipat sehingga bisa membangun istana sebagai monumen cinta untuk menyaingi Taj Mahal. Aku mencintaimu, sayang. Tapi maaf kalau aku tidak bisa melakukan itu.

Mereka juga mengatakan cinta itu terus menerus bersama dalam sedih maupun senang. Mungkin seperti rela berada di gunung hanya berdua seperti kisah nyata di Cina yang lelakinya sampai memahat 6000 anak tangga untuk perempuannya. Kita berdua pernah membacanya sampai terharu. Kamu kemudian bertanya apakah kamu juga mencintaiku seperti itu? Memahat anak tangga di gunung apabila kita terpaksa berada di gunung?


Tapi, sayang, aku dan kamu sedang tidak berada di gunung. Aku pun tidak bisa menjanjikanmu apa pun. Aku mencintaimu, sayang, tapi maaf kalau aku tidak bisa melakukan itu.

Ada juga yang mengatakan kalau cinta sejati adalah mencintai sampai mati. Seperti cerita klasik Romeo yang bunuh diri karena mengira Julietnya mati, atau seperti kisah roman si Majnun yang menjadi gila karena tidak bisa bertemu Layla. Seingatku, sayang, Si Majnun akhirnya juga mati. 

Sayang, aku mencintaimu. Percayalah, kalau kamu sakit, aku rela menggendongmu sejauh apa pun itu. Kalau kamu ingin sesuatu, aku rela menerobos hujan deras dengan sedikit badai untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan itu. Atau kalaupun kita sedang susah dan kesulitan makanan, aku berikan makananku untukmu biar aku yang berpuasa. Tentu saja aku tidak akan membiarkan kita sampai sesulit itu, sayang. Percayalah, tidak akan. Itu contoh saya, sayang. Untuk menggambarkan seperti apa aku mencintaimu.

Tapi sayang, sebesar apa pun aku mencintaimunya, aku tidak akan meminum racun, atau menyiksa diriku dengan menjadi gila sampai mati. Aku akan melakukan apa pun, sayang, tapi tidak akan sebodoh itu. Biarkan aku mencintaimu sebisaku dengan menjagamu, memberimu rasa hangat dan nyaman, dan menjaga bahagiamu. Aku akan berusaha sebisa mungkin agar kamu tidak pernah menangis. Dan kalaupun kamu sesekali menangis, aku selalu berharap itu bukan karena aku. Jangan sampai karena aku. 

Bolehkah aku ‘hanya’ mencintaimu seperti itu, sayang?



19 komentar:

poenyarika mengatakan...

dengan membaca ini saja, kau sudah membuatku menangis. :(

Kampung Karya mengatakan...

hm... cinta ya?
memang luas banget nih kata

Inggit Inggit Semut mengatakan...

as usual, tulisannya keren banget! saya yakin semua cewek yg baca pasti pd meleleh mirip lintah yg ditaburin garem. dan saya jd heran, sebenernya kamu punya cewek apa nggak sih? karena kalau nggak, kayaknya mustahil banget ada cowok puitis gak punya cewek

orang miskin go blog mengatakan...

wah mantaph sob ceritanya.. ane smpe terkesima membacanya.. terus menulis dan happy blogging sob...

Ririe Khayan mengatakan...

"sebesar apa pun aku mencintaimunya, aku tidak akan meminum racun, atau menyiksa diriku dengan menjadi gila sampai mati"-----> sepakat 100%, juga gak akan ngikutin jejak romeo dan juliet kok...piss:)

Reinta Mirza mengatakan...

ini kenapa sih semua tulisannya bagus-bagus? aaaaaaaaaah ini mah bakal setiap hari mampir nungguin tulisan yg ter'update' :D

BlogS of Hariyanto mengatakan...

sungguh cinta itu memang berjuta rasa :-)

Mine and Me mengatakan...

tidak semua cinta harus berwujud taj mahal kan?
ingin melihat org yang kita sayangi bahagia dan tak ingin melihatnya bersedih juga wujud dari cinta...
jd nggak papa kok...:P
hehehe

priscila stevanni mengatakan...

Aaaa, keren! Setuju banget, cinta nggak butuh sesuatu yang 'wah', cukup hal-hal yang sederhana:D

suci nabbila mengatakan...

analoginya baguuus ^^ cinta yang masih menggunakan akal dan rasionalitas. setujuh, qaqa!

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

loh...loh....kok terlewat ya BW kesini :)
boleh...boleh...deh buat eric oops bener kan ya namanya

namarappuccino mengatakan...

@Rika: :) maafkan. Tapi tetap SHINE ON kok. :D

@Kampung: iya benar. :)

@Inggit: Now, I have. Lucky me. :)

@Orang: Thank you sob. :) selamat datang di namarappuccino

@Ririe: hihihih. Yap. Harus ada pesan tersiratnya kan meski fiksi. Bahwa cinta pun bukan berarti melakukan perbuatan bodoh.

@Reinta: Selamat datang di namarappuccino. Semoga nyaman membacanya. :D

@Hariyanto: Selamat datang mas. :)

@Priscilla: Iya. Sederhana pun bisa mendatangkan bahagia yang tidak sederhana.

@Suci: yap. Harus. :) Cinta bukan berarti harus mengorbankan kebahagiaan sendiri. :)

@mbak Lidya: hehehe bener kok mbak. :)

pinkletters mengatakan...

kak.. ini bagus sekali.. aku membuat cerita jawaban atas postingan ini , boleh kan ? hehe

Seagate mengatakan...

Mas, aku ijin share ini untuk istriku ya..makasih :)

AIIDWY mengatakan...

mas aku izin share ke fb ku yah.. menyentuh amat tulisannya :)

namarappuccino mengatakan...

@Pink: waaa malah senang. langsung ke TKP. :)

@Seagate: tentu saja boleh mas. silakan.

@Aii: iyaaa. tentu saja boleh dek. :)_

Anonim mengatakan...

bang,bang numpang copas boleh? o.O

namarappuccino mengatakan...

Tentu saja boleh. Kalau berkenan, cantumin juga sumbernya. :)

Senang kalau bisa bermanfaat. :)

Anonim mengatakan...

pastinya... thx bang :D