Jumat, 20 Januari 2012

Fragmenmu dalam Kepalaku


Ini untuk pertama kalinya, aku melihatmu bisa sekaku itu.

Aku benar-benar tidak mengira kalau kamu akan senekad itu menerobos masuk ke hatiku. Katamu hanya ingin mencari tahu, tapi lihat, kamu menemukan sesuatu yang kamu kira tidak akan pernah tahu. Apa itu yang membuatmu kaku setelah sampai di hatiku? Melihat banyaknya fragmen tentangmu yang jumlahnya beribu-ribu?

Setelah sejenak diam karena keterkejutan, kamu mulai mengobrak-abrik lemari file di sana. Ada ratusan file tentang kamu tertawa. Beralih ke rak lain, ada file tentang kamu bercerita. Ratusan juga. Sampai berpindah-pindah lemari dan rak, tapi tetap saja kamu menemukan banyak hal tentangmu di sana. Maaf, tapi memang sebagian besar filenya tentangmu.


Aku tidak tahu apa yang terjadi di dadamu sekarang ini, pasti berdebar-debar tak tentu. Terkejut pasti. Atau lebih tepatnya, shock karena tidak mengira dengan apa yang akan kamu temukan.

Kamu pun kemudian lari ke kepala. Di sana ada fragmenmu yang sedang diputar, dimana terlihat di layar aku sedang duduk meminum kopi dan menemanimu bercerita. Lalu kamu menyadari, ketika ada potongan gambar dimana kamu sedang tertawa, tiba-tiba kamu merasakan ada yang bergetar. Sebenarnya hatiku, tapi sepertinya gelombangnya juga terasa sampai di kepala. Dan itu selalu berulang setiap kali ada fragmen kamu sedang tertawa.

Aku benar-benar berharap kamu tidak di sana lebih lama lagi. Karena aku takut semakin banyak yang kamu ketahui. Tapi kamu nekat mengamatinya dengan seksama ketika melihat puluhan ribu gigabyte memori yang ada di sana. Lalu menemukan folder file bernama kamu, dan memutar semuanya. Kamu lihat satu demi satu, kadang bahkan kamu ulang untuk memastikan getarannya yang ada di hatiku seberapa besar.

Kamu mungkin benar-benar tercengang. Bagaimana bisa jumlah file di sini, di kepalaku ini, juga mencapai ribuan.

Sejak itu kita masih kadang bertemu. Tapi baik aku dan kamu sama-sama berpura-pura tidak tahu bahwa aku dan kamu sudah tahu apa yang ada di kepala dan hatiku. Canggung tentu saja. Kamu mengetahui sesuatu yang seharusnya lebih rahasia dari dokumen negara. Tapi kita berdua berpura-pura tetap seperti biasa. Melelahkan ketika berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Kamu pasti merasa hal yang sama.

Lama-lama, entah ada kejadian apa, tiba-tiba kamu memunggungiku dan berjalan menjauh pada suatu ketika. Aku merasa, ini sudah punggung yang berbeda. Bukan punggung yang kukenal sebelumnya. Aku selalu membenci bahasa punggung karena aku bisa membacanya sejelas huruf-huruf di novel yang kubaca. Dan punggungmu kali ini berbahasa "Kita akan baik-baik saja. Semoga. Meskipun kita tidak bersama. Tapi kita pasti berbahagia."

Ah, kalau saja punggung tidak pernah punya bahasa. Kalau saja, aku tidak bisa membacanya. Dan kalau saja tidak ada gravitasi, sehingga hatiku tidak akan jatuh sesakit ini. Itu bahasamu untuk pergi, bahasamu untuk mengatakan bisa jadi tidak kembali. Sekarang, sudah mengerti kenapa bahasa punggungmu aku benci?

Tunggu dulu! Sebelum kamu pergi, kenapa tidak kamu bawa serta file-file yang berjumlah ribuan itu? Aku lelah berusaha membersihkannya. Dan lupakan kamu pernah melihatnya.

10 komentar:

Kampung Karya mengatakan...

klik kanan, delete.. hehe.. tak semudah itu sepertinya..

blogwalking sore

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

dipunggung itu tertulis apa memangnya? :)

Arif Zunaidi Riu Aj mengatakan...

iya, penasaran ama tulisan di punggungnya... :)

Mine and Me mengatakan...

knp file2 itu nggak usah dibersihin aja?
kan namara jadi nggak capek?
hehehe

Ririe Khayan mengatakan...

bukan dia yg harus membawa file'file' itu pergi...tapi biarlah file itu tetap ada toh sudah terbingkai dalam fragmen 'pernah'...dan "Kita akan baik-baik saja. Semoga. Meskipun kita tidak bersama. Tapi kita pasti berbahagia."

namarappuccino mengatakan...

@Kampung: hehehe iya tidak semudah itu. selamat datang lagi. :D

@Mbak Lidya dan @Arif: "Lepaskan"

@Mine: itu sudah dibersihkan. Susahnya. *kata tokoh 'aku'. :D

@Ririe: Iya. pernah. pernah. :'(

Inggit Inggit Semut mengatakan...

Can't stop smiling hehehehe

Vargaz Achmad mengatakan...

sebagian bikin saya speechless :)

Wury mengatakan...

Hey, kamu penulis? Kalau bukan, kamu pantas jadi penulis

namarappuccino mengatakan...

@Inggit, Vargaz: ah, terima kasih. Sekarang, aku yang cant stop smiling. :)

@Wury: Sedang belajar menjadi penulis. :D