Senin, 30 Januari 2012

Saya Menyesal Melakukannya

Saya kira pekerjaan saya sudah terlalu banyak dan berat. Terasa lelah sekali ketika pulang dan secepatnya ingin tidur saja agar besok pagi bisa kembali bugar. 

Sampai kemudian, saya tadi di pasar tradisional, melihat seorang nenek berusia 70 tahunan menjadi kuli panggul di pasar. Nenek serenta itu, yang tenaganya jauh lebih sedikit dari saya, dan beliau seorang perempuan, bekerja sekeras itu. Saya jadi merasa tambah malu, ketika menyadari bahwa sepertinya juga, dia bangun lebih pagi dari saya. Mungkin dini hari. Dan setelah selesai dari pasar, dia akan berjalan kaki pulang, untuk mencari uang dengan cara lain. Saya membayangkan kelelahan dia, tapi uangnya tidak cukup untuk pijat. Hanya untuk makan.


Lelahnya saya, sepertinya tidak selelah dia. Dan pendapatan saya pun tidak sesedikit pendapatan dia.


Saya kira, ketika saya menderita sariawan, itu sudah sangat mengganggu. Sakit ketika makan dan tidak nyaman ketika berbicara. Sepertinya tidak ada yang lebih mengganggu dari itu.




Sampai kemudian saya menemukan di sebuah harian, seorang adek kecil yang kepalanya membesar karena tumor. Dia sering menjerit tengah malam karena kesakitan. Lalu saya membayangkannya. Kemudian meneteskan air mata ketika terbayang betapa sakitnya dia dan betapa tidak nyamannya ketika dia harus menahan sakitnya setiap hari, sepanjang malam. Oh, Tuhan anak sekecil itu harus merasakan sesakit itu setiap hari?


Saya kira sesakit apa pun sariawan saya, tidak akan sesakit apa yang anak kecil itu rasakan.

Saya juga mengira kamar saya sempit. Hanya cukup untuk lemari, rak buku dan kasur. Akan sangat menyenangkan kalau kamar saya lebih besar dari itu. Dengan berak-rak buku, satu meja dan kursi, serta berbagai hiasan lain. Kemudian saya bisa bergerak bebas berjalan ke sana kemari. Ya, sangat menyenangkan kalau bisa seperti itu.



Sampai kemudian suatu hari, di sebuah lapangan bola yang jarang saya lewati, saya melihat seorang perempuan tidur di kardus. Dia menatanya sedemikian rupa agar ada atap dan alas, juga dinding. Semuanya dari kardus. Hanya berukuran cukup untuk duduk dan tidur. Saya membayangkan seberapa dingin tubuhnya ketika malam. Lalu saya merasakan nyeri di sekitar dada kiri ketika bayangan tadi sampai pada satu pertanyaan; Apakah dia menggigil? Tiba-tiba saya membayangkan kalau hujan disertai angin, lalu kardusnya terbang dan dia berlarian mencoba mengambilnya. Berbasah-basah, menggigil, dan mungkin lapar. Lapar. L.a.p.a.r.


Saya rasa tempat tidur dia, jauh lebih sempit dari saya. 


Saya kadang menolak makan ketika dimasakkan sesuatu hanya karena saya tidak suka. Tentu saja saya tidak mau makan, kan saya tidak suka. Membayangkan rasanya saja saya merasa tidak nyaman, apalagi diharuskan makan. 


Sampai kemudian saya menangis. Mata saya panas dan dada saya nyeri. Panasnya mata saya lebih dari ketika saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, ketika orang yang saya percayai mengkhianati. Dan nyeri di dada saya juga berkali lipat dari ketika itu terjadi.  Saya tidak akan menjelaskannya dengan tulisan, apa yang saya lihat. Saya akan memberikan foto ini. Itu. Itu yang saya lihat.



Saya membayangkan bagaimana mereka makan? Apakah mereka suka dengan apa yang mereka makan? Apakah kalau hujan mereka punya tempat berlindung? Apakah mereka bisa nonton tv seperti saya? Apakah mereka bisa makan ayam goreng seperti saya? Apakah mereka punya jaket kalau malam? 


Dan hei!!!! Di mana sandal mereka?!! Ya Tuhan! Tolong siapa pun, carikan sandal mereka...





******
Sungguh, selama ini saya selalu mengira bahwa saya selalu bersyukur sebersyukurnya. Lalu saya menyadari, ada momen tertentu yang ternyata saya tidak sebersyukur yang saya kira. Ada momen tertentu, yang tidak sadar, saya mengeluh. Dan saya menyesal melakukannya. Saya menyesal melakukannya. Saya menyesal melakukannya. 

17 komentar:

Vetpurple mengatakan...

aha ...ternyata kejadian yang sama juga aku rasakan tatkala mengeluhkan tentang pekerjaan, padahal banyak yang jauh lebih kurang beruntung dari kita..... kata selanjutnya adalah terimakasih tak terhingga... by the way, kenapa tulisan fiksinya ga dijadikan buku? I'll be the first one to get that book for sure! :D

Ririe Khayan mengatakan...

mengeluh dan berkeluh kesah...menggerutu..sangat sering kita ( terutama diri saya sendiri), bahkan oleh hal-hal yg sebenarnya tak perlu aku menggerutu, seperti mencari pensil yg tak kunjng ketemu misalnya. Namun seakan keluh kesah sdh bagian dari membenarkan kebiasaan yg kerang tepat. Seolah aku sah-sah saja untuk bersikap yg sedemikian....sejatinya aku pun belum sebenar-benarnya orang yg bisa bersyukur.

namarappuccino mengatakan...

@Vetpurple: I'd love to. Sedang membuat yang lebih panjang. Mungkin novel. Makanya malah jadi intensitas update blog di fiksinya berkurang. Doakan ya. :D

@Ririe: Yap, Rie, sejatinya ternyata kadang-kadang kita juga belum sepenuhnya bersyukur.

Tiesa mengatakan...

mungkin ga Ra, kamu dan saya ada di kelas yang sama, mengambil mata kuliah Ilmu Syukur di Universitas Kehidupan ini, masih samasama belajar untuk bisa bersyukur secara penuh, bisakah?

Ely Meyer mengatakan...

pengen memeluk dua anak difoto itu :(

namarappuccino mengatakan...

@Tiesa: Sangat mungkin sekali. Dan bisa. Karena kita tidak pernah berhenti belajar. Pada hal-hal kecil. Ah, saya mensyukuri hidup saya. Maafkan saya Tuhan, kalau sesekali saya mengeluh. Ingatkan.

@mbak Ely: Pas lihat foto itu mbak, mata saya benar-benar berair. :'(

poenyarika mengatakan...

ini namanya bersyukur. postingan ini bakalan diinget terus pas kita lg banyak maunya. jadi bahan tolak ukur kemampuan kita juga. biar ngga selamanya "nengok ke atas".

syukurlah, hari ini saya ikut disadarkan dg adanya postingan ini.

thanks, nara! :D

Vetpurple mengatakan...

sipo sipo... wah ...wah ..pasti banyak yang suka .... btw tadi aku ijin share ya ke facebook, pada suka tuh... jadi kayaknya sih bisa booming... semangkaaaaaa :D

Mine and Me mengatakan...

mamaku selalu bilang, "lihat ke bawah, lihat ke bawah, lihat ke bawah."

aku kira aku makhluk yang penuh syukur, tp kalau diingat2 lagi, aku juga sering mengeluh...

nice post mas..

alaika abdullah mengatakan...

trims atas postingan yang sangat berarti ini.... sungguh, membaca tulisan ini langsung menghentikan keinginanku untuk melanjutkan keluh kesahku...

benar, keberuntungan dan kenyamanan yang kita miliki, harusnya mampu meredam rasa tidak nyaman yang kadarnya sebenarnya 'sangat sedikit' dibanding dengan yang mereka alami.

Trims atas postingannya, saya tidak akan melanjutkan keluh kesah yang tadinya begitu menumpuk di dada... :)

keep posting ya mas! great article!!

Hana Ester mengatakan...

Tisu mana tisu??
*Terharu*
*LapIngus*
#Ploookk *tampar pipi sendiri*
Keseringan ga bersyukur saya kaka :(

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

ternyata sebaik - baik sekolah memang sekolah kehidupan. berjuta hikmah terserak di tiap jengkalnya semoga selalu membuat kita selalu lebih bijak :)

Seagate mengatakan...

Bersyukur itu kata kuncinya, sedikit apapun nikmat yang kita terima wajib kita syukuri, karena dengan bersyukur insyaallah Allah akan menambah nikmat itu, terlebih masih banyak orang yang masih tidak seberuntung kita. :)

Uswah mengatakan...

Sabar dan Syukur kunci dari iman :)

namarappuccino mengatakan...

Rika: terima kasih juga Rika. :)

@Vetpurple: Waaaa tentu saja diizinkan pakai banget. *salim* terima kasih. :D

@Mine: Ah, mamanya hebat. Iya. Lihat ke bawah, lihat ke bawah, lihat ke bawah. :)

@Alaika: Ah, saya juga berterima kasih mbak. :)

@Hana: :) Iya, sama. Semoga besok lebih bersyukur dan tidak merasa bahwa kita sudah sangat bersyukur.

@Rosa: Benar. Inilah sekolah sebenarnya. :)

@Seagate: Iya, masih banyak. Jauh lebih banyak dari yang kita kira.

@Uswah: Nah dua itu. Kalau ditambah berbagi, maka akan menjadi ikhlas. :)

Mami Zidane mengatakan...

yah, sesekali kita memang harus liat ke bawah juga mas...karena ternyata masih banyak sodara-sodara kita yang hidup dalam kepedihan.
semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu pandai bersyukur dengan semua yang sudah di berikan tuhan kepada kita.

Dinnar mengatakan...

Seringkali kita lupa bahwa hanya mereka yang ikhlas dan penuh rasa syukurlah yang akan mendapatkan haknya, yakni kebahagiaan, dalam arti yang sebenar-benarnya. Tulisan yang sungguh inspiring mas.