Selasa, 03 Januari 2012

Tidak Akan Mencintaimu Lagi Setelah Ini


Aku pernah menangkapi setiap tetes air matamu yang jatuh, menyulapnya, mengeringkannya, dan mengubahnya jadi tawa. 

Aku pernah memelukmu sepanjang malam di mobil sampai kamu ketiduran di pahaku ketika kamu sedang bermasalah dengan mamamu. Mungkin kamu tidak tahu, waktu itu kakiku kesemutan karena kepalamu bersandar di pahaku sepanjang malam. Aku sering meringis untuk sedikit saja menggerakkan kakiku. Dan ketika kamu bangun, aku beralasan kalau aku sedang lelah, kamu cuci muka dan jalan-jalan di pantai saja dulu. Padahal kakiku memang tidak bisa digerakkan ketika itu. Darahku baru mengalir lagi secara penuh ke kedua kakiku lima belas menit kemudian. Itu pun berjalanku masih kelimpungan. 

Kita kemudian bersenang-senang di pantai itu seharian, sampai menjelang sore aku baru berhasil membujukmu pulang. Malamnya, begitu sampai di pintu, kamu dan mamamu langsung berpelukan.

Yang tidak kamu tahu adalah, aku menghubungi mamamu sebelum itu ketika kamu tidur siang di bawah pohon setelah seharian bermain ombak. Aku berbicara panjang lebar, menjelaskan semua alasan, dan memintakan maaf, untukmu. Karena itulah mamamu mengatakan tidak apa-apa, tidak ada yang perlu dijelaskan dan sudah memaafkanmu begitu kamu pulang. 

Aku, melakukan semua untukmu. Aku akan berdiri di depan, di samping atau di belakangmu kapan pun kamu mau. Karena kamu dicintai, selalu. Dan kamu tahu benar tentang itu. Kamu hanya tidak tahu apa-apa yang sudah kulakukan.

Pada momen-momen itu, aku selalu bermimpi kalau kamu bisa saja menjadi seseorang yang awalnya dulu tidak sengaja mencintaiku dan aku mencintaimu. Lalu kemudian tidak sengaja menjadi pasangan sehidup semati .Tidak sengaja kita berdua berbahagia sampai nanti. Menua dan punya cucu lucu-lucu berkeliaran memeluki kita. Seperti dalam lagu Muse, “You could be my unintended…”

Seperti mimpi. Dari sana saja sudah terlihat seperti apa aku mencintaimu. Sangat. 

Semuanya baik-baik saja. Aku mencintaimu dan kamu terlihat bahagia. Menyenangkan. Lebih menyenangkan daripada kopiku setiap pagi dengan setangkup roti. Jauh lebih menyenangkan dari dua hal yang selalu kuanggap surga di setiap pagiku itu.

Masalahnya, suatu hari kamu memberi aku nyeri. Aku tidak pernah menangis, sayang, dan kamu tahu benar itu. Tapi kali itu, sayang, kamu melihat mataku berkaca-kaca. Dan semuanya diperjelas lampu rumah makan Jepang ini, cahayanya memantul dari sembabnya mataku. Tidak ada yang terlalu jauh untuk sebuah air mata, bukan, katamu? Kamu sampai tercekat begitu saja dan tidak bisa bersuara. Dan aku permisi sebentar ke belakang untuk menahan habis-habisan agar tidak ada tetes yang keluar. Kamu tahu, sayang, itu mungkin salah satu perjuangan terberatku.

Setelah sekitar lima menit aku bertahan habis-habisan, aku keluar dan mengajakmu pulang. Kita bicarakan lain kali saja. Aku paham. Aku menerima. Aku hanya tidak mau kalau terus dibicarakan, air mataku keluar. Bagiku air mata adalah biasa saja, bagi orang lain yang melihatnya? Belum tentu. Jadi, lebih baik aku mencegahnya sebelum orang-orang di tempat ini melihat aku kasihan dan malu. Bagiku, itu lebih menyakitkan daripada ditinggalkan kamu. Mungkin. Mungkin.

Aku tetap tersenyum, tentu saja, seperti biasa. Tapi, kita berdua mungkin sama-sama tahu, itu bukan salah satu senyum favoritku, karena di sana ada nyeriku bersembunyi. Nyeri yang baru saja rasanya aku ketahui, karena entah kenapa aku merasa semua sakit yang pernah kurasakan, tidak pernah sesakit ini.

Tapi lalu kamu mengatakan tidak usah saja, karena nanti ada yang menjemput. Jadi tidak perlu mengantarmu pulang.

Baiklah. Apa ini? Persekongkolan nyeri untuk datang beruntun hanya dalam satu hari? Tidak bisakah menunggu jeda sampai nyeri yang tadi berkurang sedikit dulu? 

 “Siapa yang tidak menunggu seseorang untuk dipeluk, yang tidak harus diberi tahu bagaimana cara mencintai itu,”  biar kuulang katamu, sebelum mataku berkaca-kaca tadi. “Yang selalu datang kapan pun aku membutuhkan. Yang membuat tangisku menguap berubah menjadi tawaku. Dan aku sudah menemukan orang itu.” 

Dan sekarang orang itu juga yang akan menjemputmu? Meski kamu mengatakan bukan, karena katamu teman yang akan menjemputmu, tapi yang tidak kamu tahu adalah, tadi, ketika berjalan mendekati meja kita, dan aku hanya beberapa meter di belakangmu, aku mendengar percakapanmu. Seperti ini, “Iya, kamu bisa menjemputku sebentar lagi, sayang. Kalau sudah selesai aku telpon lagi ya?”

Aku hafal. Sangat hafal. Bagaimana mungkin aku tidak menghafal sesuatu yang membuatku semakin nyeri? Setidak inginnya aku menghafal pun, otomatis begitu saja nangkring di kepala. Sayang? Tapi ya sudahlah, kalau berlama-lama di situ, aku bisa lebih nyeri.

Sebenarnya apa yang terjadi? Caraku mencintaimu salah? Atau … ah aku tak mengerti. Aku hanya mengerti tentang kenapa di dadaku sakit sekali. 

Setelah itu, aku mencari tahu apa yang salah dariku tentang mencintaimu ketika itu, sampai berbulan-bulan, mungkin sudah mencapai hitungan tahun. Di sela-sela itu, kamu masih datang sesekali, menanyakan kabar atau mengajakku makan. Menyenangkan, kecuali pada bagian dimana kamu dan aku kini melakukannya sebagai teman.

Dan aku tak juga menyerah. Masih mencintaimu lagi dan lagi. Seperti sudah menderita infeksi akut sehingga terus bertanya sebenarnya ada apa? Apa kesalahanku? Apa kekuranganku? Bagian mana dari caraku mencintaimu yang salah?

Sepertinya kamu bosan menerima pertanyaan berulang. Ya, tentu saja. Aku pun mungkin akan begitu, bosan. Sampai akhirnya kamu pun setengah marah, memandangku tajam dan berkata, “Aku hanya tidak mencintaimu lagi seperti kemarin hari! Bagian mana yang tidak kamu mengerti?! Habis, musnah, hancur. Tidak lagi mencintai!”

Aku shock. Merasa telingaku panas, mataku panas, hatiku panas. Kamu pasti belum pernah mengalami seperti apa yang kurasakan saat ini. Jadi kamu mengatakan seperti itu. 

Selama ini, aku selalu mengira caraku mencintaimu yang salah sehingga kamu pergi. Bukankah alasanmu yang pertama kali adalah itu? Menemukan seseorang yang tahu cara mencintaimu? Jadi, sebenarnya bukan itu? Sebenarnya hanya pada bahwa kamu tidak mencintaiku lagi? I see. I see.

Sebenarnya, aku juga sudah lelah seperti ini. Mencintaimu berkali-kali. Melakukan kebodohan berkali-kali. Sudah mengerti dalam hati kecilku bahwa kamu tidak lagi mencintai, tapi 'kebodohanku' ngotot untuk berlama-lama di sini. Di masa lalu. Lebih memilih tinggal dan terus sakit hati daripada melangkah lagi. Sementara ‘matahari’ menyinari tawamu, aku masih berharap suatu hari cinta akan menghujaniku. Tapi ternyata tidak terjadi. Ternyata, sudah lama kamu memutuskan untuk pergi. Ternyata, aku selama ini terus menerus menyakiti diriku sendiri. Sekarang aku mengharap semua rasa yang di dadaku hilang. 

Tetapi, baiklah. Mungkin, kali ini, aku hanya harus belajar tersenyum dan tertawa, tapi bukan bersamamu dan bukan karenamu.

Ini tangisanku yang terakhir untukmu. Terakhir kali saja izinkan aku melakukan itu. Jangan marahi aku, jangan membentak lagi. Aku membenci itu. Tapi kamu juga tidak akan tahu kalau aku menangis lagi, kali ini. Lebih dari yang dulu kamu lihat, ketika kamu memutuskan pergi. Aku berjanji tidak akan melakukannya setelah ini. Tangisan ini, untuk berterima kasih karena telah memberikan beberapa waktu terbaik dalam hidupku. Untuk tawa, untuk cerita, untuk rasa cinta dan rindunya. Dan tangisan ini, juga tangisan 'kelegaan' untuk melepasmu. Aku rangkum semuanya menjadi tangisan yang terakhir ini.

Aku tidak akan mencintaimu lagi setelah ini. Tapi setelah ini. Tepat setelah tetesan air mata terakhirku ini.


7 komentar:

Ririe Khayan mengatakan...

"aku mengharap semua rasa yang di dadaku hilang"

Jika rasa ini tak mungkin tersambut pada temali rasamu, biarlah hujan mengikis jejakmu, meski sosokmu tak akan pernah bisa benar-2 hilang dr sel memmoriku. Setidaknya aku bisa tertawa karena aku tak lagi mencintaimu

namarappuccino mengatakan...

@Ririe: yang bagian akhir Rie, i like that. "Setidaknya aku bisa tertawa karena tak lagi mencintaimu."

auuulya mengatakan...

karena itulah, boleh berharap bahwa cintanya hari ini akan sama dengan cintanya esok hari, tapi jangan terlalu meyakininya.

kecuali cinta yang kamu maksud adalah cinta Tuhan terhadap makhlukNYA :)


aaah, tapi selalu suka sama postingannya kakak, rasanya dari hatiii :')

Joni mengatakan...

Rasanya seperti.......susah banget digambarin..tapi nyesek banget kalau dirasain....

"kalau ada obat yg dapat menghilangkan rasa sayangku,rasa cintaku padanya,akan q beli berapapun harganya"

namarappuccino mengatakan...

@Aulya: yap dek. benar. jangan terlalu meyakininya. Yakini hati kita, pilihan kita, tapi bukan dia. :)

@Joni:: waaaa aku juga mau bro obat itu

Joni mengatakan...

hehehe...kita sama-sama nyari ya,,:)

obat sebenarnya adalah,,orang baru yang bisa kau kagumi,,;P

Kiky Saky mengatakan...

Terhanyut dalam cerita #ngelap airmata

sumpah nyesek banget.