Selasa, 31 Januari 2012

Tidak Apa-Apa. Lupakan Saja. Jangan Diulangi.


Pernah, aku mendengarmu berbicara melalui telepon. Tapi sumpah, aku tidak mencoba mencuri dengar, sayang. Aku benar-benar tidak sengaja ketika mendengar kamu bilang ‘sayang’ dengan seseorang yang di telepon itu. Awalnya aku biasa saja karena seorang perempuan sering memanggil nama sayang kepada sahabatnya yang juga perempuan. Sampai kamu menyebut namanya, dan nama seperti itu, jelas bukan nama seorang perempuan, sayang.

Ketika jalanku sudah dekat, kamu melihatku dan gelagapan mematikan telepon. Terlambat sayang, aku sudah mendengarnya. Sejelas mataku yang melihatmu berusaha menetralkan suasana.

Kamu bilang bahwa itu teman dekat. Sangat dekat. Melebihi sahabat.

Kamu boleh mengatakan aku kuno, kolot, atau gak gaul. Tidak apa, sayang. Tapi bagiku, kata sayang tidak boleh sembarangan diberikan. Bahkan pada seorang sahabat terdekatmu sekalipun. Kalau dia perempuan mungkin tidak apa-apa, tapi kalau bukan, boleh aku minta jangan?

Kamu mengiyakan, tidak akan memanggil pria lain dengan sebutan 'sayang' lalu meminta maaf.

Ya sudah, tidak apa-apa. Lupakan saja. Jangan diulangi.

Pernah juga, aku dibuat kaget bukan kepalang karenamu. Masih ingat, sayang? Ketika tiba-tiba salah seorang temanku marah-marah kepadaku sampai membentak di depan umum? Kami nyaris berkelahi ketika itu.

Kenyataannya, aku tidak menyalahkan dia, sayang. Tapi bukan salahku juga karena aku tidak tahu bahwa kamu meminjam uang kepadanya atas namaku. Dia temanku, sayang, jadi dia pasti meminjamkannya kepadamu. Tapi aku merasa tidak pernah meminjam, jadi kami benar-benar bertengkar.

Uang yang kamu pinjam memang tidak begitu banyak, tapi cukup menguras tabunganku karena senilai dua bulan gajiku.

Kamu meminta maaf (lagi) ketika itu.

Ya sudah, tidak apa-apa. Lupakan saja. Jangan diulangi.

Sayang, kadang-kadang kamu juga (maaf) cukup menyebalkan. Sulit sekali kuhubungi pada waktu-waktu tertentu. Aku telepon tidak diangkat dan aku mengirim pesan pun tidak kamu balas. Apa gunanya seluler, sayang?

Kamu mengatakan ketinggalan. Sesering itu, sayang? Seluler ketinggalan? Sayang, yang aku tahu, kamu tidak pernah melupakan hal penting. Kamu bahkan hafal nama dan ulang tahun setiap temanmu. Kamu juga hafal acara televisi favoritmu sehingga seringkali ketika kita pergi bersama kamu buru-buru ingin pulang hanya karena ingin menonton acara itu. Tapi sayang, selulermu ketinggalan?

Kamu mengatakan benar-benar ketinggalan ketika itu, dan mulai berjanji akan selalu membawanya ke manapun. 

Kamu meminta maaf (lagi). Ya sudah, tidak apa-apa. Lupakan saja. Jangan diulangi.

Tapi ternyata, sayang. Kamu masih sering mengulangi ketiga hal itu. Walaupun tidak sesering dulu.Aku harus mengatakan apa agar kamu tidak lagi berbuat hal-hal itu, sayang?

Dan, sayang, tadi malam aku melihatmu. Tidak sengaja, dan kemudian meneleponmu setelah itu. Tapi kamu malah memarahiku dan mengatakan kalau aku kurang kerjaan membuntutimu. 

Sayang, aku tidak mengikutimu. Aku tidak pernah ada niat mengikutimu. Itu hanya kebetulan saja aku sedang berada di tempat itu. Kenapa jadi aku yang salah, sayang?

Aku hanya ingin menanyakan siapa lelaki itu, tapi kamu tidak menjawab dan terus marah denganku. Masih bersikukuh bahwa aku mengikutimu. 

Ya Tuhan, sayang, aku benar-benar tidak mengikutimu. Sampai kapan kamu bisa percaya itu? Bukankah aku tidak pernah mengharuskan kamu mengabari aku di mana pun kamu? Aku memberimu kebebasan jalan-jalan dengan teman-temanmu atau melakukan apa saja, sayang, asal tidak kelewatan. Tapi kamu tidak percaya.

Lagipula, sayang, mataku normal. Walaupun itu malam hari, aku melihat jelas ketika dia membukakan pintu mobil untukmu, merangkul pundakmu lalu kalian berpandangan sesaat sambil tersenyum. Sayang, aku tahu pandanganmu ketika merasa senang seperti apa. Dan aku tahu pandangan lelaki yang juga merasa senang itu seperti apa. Aku ingin bilang bahwa untuk dua orang laki dan perempuan, tatapan mata, bahasa tubuh, dan sentuhan kulit kalian terlalu mesra. Itu yang aku lihat, sayang. Kenapa masih aku yang disalahkan?

Tapi hampir sepanjang pembicaraan kita di telepon kamu terus mengatakan aku ini mengikutimu, berusaha mencari tahu tentangmu, posesif, mengekang, tidak memberi kebebesan dan lainnya. Aku sampai tidak ingat apa lagi yang kamu katakan kepadaku saking banyaknya. Ya sudah, kita bicarakan besok saja, kataku. Aku tidak mau kamu marah-marah malam-malam begini. Kita sudahi malam itu dengan entah apa pikiranmu.

Pagi ini, kamu mengirim pesan kepadaku. Meminta maaf karena sudah marah-marah dan menuduh yang bukan-bukan. Lelaki itu hanya teman, katamu.Tidak ada apa-apa. Kalau memang terkesannya dekat, mungkin karena sudah lama kenal sehingga terlihat akrab, tapi menurutmu tidak terlalu mesra untuk ukuran laki-laki dan perempuan.

Ah, sayang, aku tidak tidur semalaman, sayang, sampai sekarang. Mungkin kamu tidak tahu itu. Aku ingin menghubungimu lebih dulu tapi juga tidak mau kalau kamu masih marah-marah denganku. Baiklah, dia hanya teman. Iya. Iya. Baiklah, dia teman.

Kamu meminta maaf (lagi).

Ya sudah, tidak apa-apa. Lupakan saja. Tapi kali ini aku harus pergi. Aku harus memikirkan juga kebahagiaanku sendiri. Kamu tidak mencintaiku, sayang, kamu mencintai kebodohanku yang selalu memaafkanmu. Dan kamu tahu benar itu.



25 komentar:

Naya Elbetawi mengatakan...

eehh...ini serius kisah lo? klo bener2 kisah lo, miriss banget dah... Tapi, gue rasa keputusan yang lo ambil udah tepat!! lebih baik pikirin kebahagiaan lo kawan :)

Tiesa mengatakan...

akhirnya lakilaki itu mendapatkan kembali otaknya yang entah sempat pergi kemana sebelumnya. ada limit untuk setiap maaf yang terucap.
bagus lho Mas Ara tulisannya :)

Anonim mengatakan...

kalau saja temanku membacanya, pasti komentarnya....
"Haaajaaarr bleeehh.... "
karena memang bisanya cuma ngomong itu...(maap maap..)

Mifta Chaliq mengatakan...

there you go...td hampir minta kamu kenapa ga update tulisan baru?hiihihii ternyata post juga,tapi....ini repost atau memang ada ceritamu yg mirip ini ganteng? *mikir* *acak2 namarappucino*

Mifta Chaliq mengatakan...

ketemu...."Memaafkanmu lagi" setipe ceritanya,tapi kamu tetep hebat,ceritamu benyawa :)

Ely Meyer mengatakan...

semua ada batasnya ya ? :)

namarappuccino mengatakan...

@Naya: Hehehe bukan. Kalau saya, sudah saya lepaskan sejak kesalahan kedua. :)

@Tiesa: Iya. Makna tersiratnya adalah itu. Harus berhenti. Tidak bisa terus membahagiakan orang lain tanpa memikirkan kebahagian sendiri.

@Anonim: Hehehe siapa ya temannya itu? sepertinya familiar ucapannya. ;D

@Tuta: Hehehe yap benar. Yang memaafkanmu lagi. Alurnya mirip, ceritanya berbeda. :)

@Mbak Ely: Iya mbak. Selalu ada batasnya. Untuk berhenti. Untuk melangkah lagi. :)

yudhipasha mengatakan...

mirip saya he.he.

priscila stevanni mengatakan...

Sempat gemas di awal, kenapa cowok itu nggak sadar-sadar juga? Ah, tapi akhirnya dia mengambil keputusan ya. Bagus:D

Uswah mengatakan...

hwaaa sungguh terlaluuu... wanita seperti appa itu@#%&*(*^$#!!#$%&*)_))__)(&*^$%#@

*sambi banting2 kulit kacang trus nyruput kopi

Vetpurple mengatakan...

seperti biasa selalu bagus ya ara .... anyway, kalo kalimat terakhirnya dan kamu tahu benar itu dibalik jadi: dan kamu tahu, itu benar... beda ga artinya??? hehehhe ... *just asking

Mine and Me mengatakan...

keren...

kalau aku nggak lihat labelnya "FIKSI", bakal mewek lagi deh mikiran kamu yang disakiti mulu...

untunglah cuman Fiksi, Tuhan... hihihi

ila mengatakan...

ka, kepikirannya gmana toh buat cerita begini rapinya? Kaya benerannya pooollll ..

Hana Ester mengatakan...

Kamu orang china ya??
Kamu telah membakpao kan hatiku!!!
Sabar bener jadi orang mas!!!
Piso mana piso???
#eehhh,,,
hahahhaaa

Faizal Indra kusuma mengatakan...

Bermimpi yah... semoga cerita-cerita Loe jadi Novel atau seengganya Buku deh :). Sukses. Gue suka bahasanya mengalun dan menarik. Go Ahead guys

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

eemmm... ada nggak ya laki2 seperti itu di dunia nyata?? akuu kok nggak yakin. terlaluu baik ato terlalu *maaf* 'bodoh???'

srrriii mengatakan...

bikin keseeelll ceritanya.
langsung putusin aja cewenya.
hahaha

poenyarika mengatakan...

bener, tp harusnya 1-2 kesalahan yg disebut itu kejadian si lakinya udh berhak ninggalin kok. apalagi kalo tjd berulang2 dg kesalahan yg sama.

tapi kalo lakinya ga pergi2, itu namanya bod*h. lama2 ada sebutan "pria dijajah wanita".

hee. *piss

✿ Novitasari ✿ mengatakan...

waw..hebatnya ada laki2 seperti kmu..sabarnya minta ampuunn...
tapi jangan karna kesabaran kamu lantas membuat kamu dipermainkan begitu...sabar yahh..pasti ada yg bs lbh sayang sama kamu...

Mami Zidane mengatakan...

aduuuh,....kenapa nggak di putusin aja tuh cewek mas...hehe...

salam kenal ya...

namarappuccino mengatakan...

@Yudhipasha: Waaa jangan mauuuu. :)

@Stevani: Hehehe ada waktunya berhenti. :D

@Uswah: Hehhehe tenang dek. :D

@Vetpurple: Mungkin sama. Hanya pemilihan diksi saja, untuk menyesuaikan kalimat sebelumnya. Eh, atau beda? Ada yang bisa bantu? :D

@Mine: Hehehe Sayangnya dek, ada orang yang menyembunyikan 'kebodohan' seperti itu dengan mengatasnamakan cinta. :D

@Ila: Kata seorang penulis siapa namanya lupa, dapat dari teman soalnya, "Tulis dengan hatimu, lalu edit dengan pikiranmu."
Aku membayangkan kalau aku lelaki itu dek. :D

@Hana: Hahahaha. *membayangkan membakpaokan hati* ;D

@Faizal: Allahumma aamiin

@Rosa: Ada. Aku pernah bertemu dengan seorang gadis rela menunggu 7 tahun. Aku pernah bertemu gadis maupun laki yang diselingkuhi berkali-kali tetap memaafkan. :)

@Sri: hehehe sudaaah. :D Oleh 'aku'

@Rika: Seharusnya ketika dari kesalahan kedua, juga pergi. Kalau aku lho, Ka. :D aduh Rika ikut baca ini lagi, pasti dibilang blog galau lagi. T_T

@Novita: Hehehe. Ada, tapi kalau aku kenal, aku provokatorin dan kubodoh-bodohin.

@Mami: Hehehe sudah mbak. Akhirnya si 'aku' menyadari kebodohannya. (memang sudah seharusnya)

poenyarika mengatakan...

maksudnya?! trus aku ga boleh baca lagi nih skrg? *siapsiapnyambitpakeduitsegepok*

tapi toss dulu donk kita. kesalahan kedua itu sudah cukup. jadi laki harus punya prinsip. dimana harga diri lelaki kalo terus2an "yasudah, gapapa, jangan diulangi lagi."

*koksayamalahjadiberapiapi?*

namarappuccino mengatakan...

@Rika: Hahahah gak. Boleh kok boleh. ;D

Iyap. harus.

Makanya jangan berdiri dekat kompor Ka, kena api kan?

*laluDisambitKomporOlehRika*

Amy Pratama mengatakan...

Masih ada ga yaa cowok kea gitu? Kalo aku jadi cewek itu pasti bahagia dan sayang banget sama cowok itu :)

namarappuccino mengatakan...

@Amy: Hehehe pasti masih. Kadang, hanya belum ditemukan. :)