Sabtu, 04 Februari 2012

Aku, Kamu, dan Tentang yang Ingin Kutuliskan Sampai Seribu



Aku menuliskan ini, kalau-kalau kamu lupa bahwa ada perbincangan-perbincangan ini yang kita lakukan dulu.

Entah berapa puluh atau ratusan kali kita sudah saling berbagi cerita. Kadang di kafe, di toko buku, di rumahmu, atau di jalan raya. Aku menikmati setiap momennya. Kalau kamu? Menikmatinya juga?

Dan di antara banyaknya momen-momen itu, ada bagian-bagian dimana aku tidak bisa lupa. Mungkin seperti sebuah peristiwa penting dunia yang kemudian dibukukan untuk menjadi sejarah agar tidak ada yang lupa. Bedanya, ini bukan sejarah dunia, dan aku tidak membukukannya. Aku hanya menuliskannya. Sebenarnya tetap bisa disebut sejarah juga, tapi mungkin sejarahku, bukan sejarah penting bagi orang lain, apalagi (mungkin) bagimu. Karena sebenarnya ini hanya mengungkapkan, banyaknya kalimat yang selama ini aku sembunyikan. Ya, kita selalu berbincang. Tapi yang kamu tidak tahu, sering kali aku mengatakan sesuatu, tapi sebenarnya yang ingin kukatakan bukan itu.

Jadi ini, aku mencoba mengingatkanmu dan memberitahumu apa yang dulu sebenarnya ingin kukatakan kepadamu. Semuanya adalah perbincangan kita apa adanya, kecuali yang dicetak miring dan sengaja aku kurung. Itu adalah kalimat yang tidak pernah kusampaikan kepadamu. Alasannya sederhana, kalimat itu memang masih terkurung sampai sekarang, kecuali kamu yang merusak kurungannya dengan membaca tulisan ini. Setelah itu, kalimat itu akan bebas dan terbang seperti burung. Tidak lagi terpenjara dalam kurungan buatan, tapi juga tidak bisa lagi digenggam karena kalimat itu akan langsung terbang begitu kurungnya kamu rusakkan.

Oya, kalaupun kamu membaca ini, aku tidak meminta apa pun. Aku hanya ingin kamu tahu kalimat-kalimat yang kusembunyikan selama ini. Hanya itu. Dan aku sengaja menulisnya acak, karena sebenarnya memori tentangmunya terlalu banyak.

Ini.

1.
 “Mungkin kita harus berhenti melakukan ini, bertemu sering kali,” katamu sambil mengaduk jus jambu.
(Jangan! Nanti bagaimana kalau aku rindu?)
 “Iya, mungkin kamu benar,” kataku. Semoga kamu tidak mendengar nafas panjangku.

2.
“Aku bahagia ketika melihat hujan. Bisa berlama-lama menyeruput teh melati dan mengunyah beberapa roti. Kalau kamu? Apa bahagiamu?” tanyamu.
(Kamu)
“Tidur,” kataku sambil tertawa. Kamu mencubiti lenganku. Aku menenangkan dadaku.

3.
“Senangnya bisa bertemu dan berbincang lagi denganmu,” katamu sambil tersenyum melihatku.
(Percaya, aku merasakannya berkali lipat dari itu)
“Iya, aku juga,” kataku. Melirik sebentar ke arahmu, lalu kembali membaca menu. Kamu pasti tidak tahu sebanyak apa aku merasakan rindu.

4.
“Aku ingin didoakan oleh seorang laki-laki setiap hari. Untuk bahagiaku, cintaku, dan mimpiku.”
(Ah, kamu tidak tahu. Aku sudah melakukannya sejak dulu. Mendoakanmu dulu jauh sebelum doaku)
“Aamiin. Semoga kamu mendapat lelaki seperti itu.”
Kamu tersenyum, aku tersenyum.



5.
“Berkali-kali cintaku jatuh di tempat yang salah,” katamu.
(Mungkin karena jatuhnya tidak kepadaku)
“Kalau begitu, mulai sekarang kamu harus berhati-hati ketika hatimu jatuh,” kataku.
Kamu menatap luar jendela dan menerawang jauh.

6.
“Cantik, kan?” katamu dengan baju baru ketika kita mau pergi ke toko buku.
(Kamu selalu cantik sekali di mataku)
“Ah, kamu ini. Sudah, ayo berangkat,” kataku. Kamu mengikuti langkahku sambil cemberut.

7.
‘Kalau terus seperti ini, bisa- bisa salah satu dari kita akan jatuh cinta,” katamu sambil tertawa dan menatapku lekat nyaris tanpa jeda.
Aku tidak mengatakan apa-apa ketika itu. Karena aku bergetar. Aku sudah mencintaimu. Lain kali, jangan bercanda seperti itu.


Aku ingin menuliskannya sampai seribu, tapi sebanyak ini saja, aku sudah lelah menenangkan hatiku. 
Sudah. Ini saja dulu. Kamu juga mungkin tidak membacanya. Kalau pun membacanya, momen-momen itu, kamu pasti sudah lupa.


______

33 komentar:

ila mengatakan...

ka aku belum baca ih ka, tapi kaya'a roman..

mari bacaaa :)

Reinta Mirza mengatakan...

ketika semua memori seperti ini hadir dan membuat kita jadi ga bisa bergerak dan melangkah ke depan, apa iya kita harus tetap bertahan? Bertahan terkadang indah, tapi terkadang juga menyedihkan? Padahal mungkin yg kita pertahankan takkan pernah mempertahankan kita :p enaknya gmana ya?
:p

sedih bangeeeeeeeeeeeet ini bacanya, kayaknya tuh hanya 1 pihak yg bener2 tulus.

Tiesa mengatakan...

aduhhh Mas Ara, yg nomor 2 & 5 itu makjlebbb banget dehh bacanya >___<

kondisinya mendukung banget lagi ini pas baca, gerimis& sepi hadeehhh

bagus mas, teruskan :D

Mine and Me mengatakan...

aduh... gemes-gemes-gemes...
rasanya pengen banget cewek itu bisa tahu semua tulisan ini...

ingat suci, ini hanya fiksi.. hehe

keren namara, bacaan ringan namun sangat nikmat...

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

ahh, tulisan2 di blog ini selalu membuatku tersenyum... laki2 yg mas namara ciptakan terlalu sempurna...

Faizal Indra kusuma mengatakan...

Haha, puitis. Jadi buat para wanita kelepek2 bacanya^^ semangat^^

fauziyah mengatakan...

aaaaaa, so sweeeetttt..pipiku smpe memanas baca ini, ^__^',

ila mengatakan...

aku baru beres baca, ka hehe
Sumpah ya demi apaaaaaa, kalau beneran ada cewe'a dan akhirnya baca ini, ternyuh nyuh nyuhhhh :D :D

suci nabbila mengatakan...

ya ampuuun sedih banget sih cinta yang bertepuk sebelah tangan. ayo dong nyatakaaan gemes nih!

Ninda Rahadi mengatakan...

hai namarapuccino
nama blogmu mengingatkan aku pada judul chicklit yg populer jaman aku SMA hehe

Ririe Khayan mengatakan...

nah ini au membacanya...jadi tanda kurungnya rusak dunk dan kalimat-kalimat yg ada dalam kurung sudah bebas terbang sekarang....#Ngaco

Vika Etiana mengatakan...

sesering apakah anda galau? sampai bisa menulis seperti ini dan selalu bikin geregetan -- [ ? ]

alaika abdullah mengatakan...

saya sependapat dengan Suci... ayo kejar cintamu jika masih terkejar, jika tidak, cukup sudah tepuk sebelah tangannya, the show must go on dan hidup ini tetap bisa indah walau tidak bersamanya....

#emang ini kisah beneran atau hanya imagi sih? :)

Andaka Pramadya mengatakan...

satu momen penting bagi kita terkadang adalah satu momen yang sangat biasa bagi sebagian lainnya. :D salam kenal

Tirta Darmantio mengatakan...

aku nggak ingat memori tentang kita karna aku,, aku udah nggak punya otak *LOL* 5 dan 2 oke

Eel Pecidasase mengatakan...

wess mantaf nih kata2 nya..,,,,

prashasti wilujeng putri mengatakan...

Hi! Tulisannya ngena banget ke gue. Yeah, I just wish it was HIM who made this post, not you. Hehehe.. Salam kenal, btw ;)

Ely meyer mengatakan...

kira kira bunyi kalimatnya apa ya yg terkurung itu ?

Nurmayanti Zain mengatakan...

nyata?
bener deh, berdebar nih!

namarappuccino mengatakan...

Saya coba jawab satu per satu.

@Reinta: Seharusnya tidak bertahan. Dalam hal ini, 'aku' sudah melepaskan. Dia hanya mencoba memberi tahu apa yang disembunyikan. Tidak mengharap kembalian.

@Tiesa: Hehehe. waaa mendukung banget itu cuaca membaca tulisan galau ini. :p

@Mine n Me: Yang nulis juga ngegemesin kok. #LaluBloggerHang :D

@Rosa: hehehe. Justru sama sekali tidak. Karena dia terlalu takut dengan apa yang akan dikeluarkan mulutnya. ;'( poor him

namarappuccino mengatakan...

@Faizal: Hehehe. semangat

@Fauziyah: Aduuuuh dek Fauziyah ini memang benar-benar pembaca favoritku. Membaca dari a sampai z blog ini.

@Ila: hehehe *membayangkan kalau ada ceweknya nyata*

@Suci: Hahahha di cerita lain, si 'aku' menyatakan dan happy ending. Sayangnya dua cerita ini tidak bersambungan.

namarappuccino mengatakan...

@Ninda: Cintappuccino kah? hehehe mirip ya.

@Ririe: hahaha sudah tidak terkurung lagi berarti sekarang.

@Vika: Hahahah. sebenarnya saya malah jarang galau. tapi imajinasi saya berkeliaran ke mana-mana ketika menulis. Dan membayangkan menjadi tokohnya, malah jadi ikut galau seperti tokohnya.

@Alaika: Hehhe nanti aku bilangin ke si 'aku' mbak. Eh atau nanti ada updatean ternyata berani mengatakan? Siapa tahu. :D

namarappuccino mengatakan...

@Andaka: Yap. kadang sepahit itu. :D Salam kenal

@Tirta: Waaa mas Tirta selamat datang di namarappuccino

@Eel: hehehe. tengkyu

@putri: wish someday, he post better than this, for you. salam kenal. :)

@mbak Ely: :)

@Nurmayanti: Hehehe di dunia sana, bisa jadi ini nyata.

Vetpurple mengatakan...

mau...mau... mau baca yang lainnya :D hehehe.... coba ya suami bisa semromantis ini wekekekek pasti istri2nya pada masak super enak wkwkwkw.... *sedikit tidak berhubungan tidak apa apa ya..hihi

namarappuccino mengatakan...

@Fitria: Hihihi Lucky him bisa makan masakan seenak itu terus. Syaratnya 'hanya' harus romantis. :D

Chocolate Girl mengatakan...

Ah, sukaaaaaaa~
Salam kenal, Kakak ^^

AiiDWYnata mengatakan...

1 kata "KEREN"
izin share ke akunq yah mas erick ^^

namarappuccino mengatakan...

@Chocolate: Salam kenal Amalia. :) terima kasih sudah ngopi di sini.

@Aii: Tentu saja boleh dek Anggriani. Silakan. :)

nunaminoz mengatakan...

tiba-tiba kok nangis ya kakak , pas baca postingan ini., huhu

Rani Kartika Nur Rahmatullah mengatakan...

hm-
sampe ndak kerasa meneteskkan air mata :)

Disqa Ardityasari mengatakan...

Sayang sekali...Seharusnya dikatakan saja...
Kami para wanita akan sangat bahagia kalau kalian mengungkapkan itu..
Kami bukan Romi Rafael.. yang bisa membaca pikiran dan mengerti kalau kalian juga mencintai kami,, jika tidak kalian utarakan...

*based on my own story #curcol ;p

Nice posting, ;)

Anonim mengatakan...

Aku suka yang ini, :)

destiniplestari mengatakan...

wah nemu yang bagus lagi...keren banget kak :D
suka sekaliiii