Kamis, 09 Agustus 2012

DUET

Saya biasanya tidak pernah berduet dalam hal menulis karena takut beda bahasa dan sebagainya. Tapi akhir-akhir ini saya lakukan karena saya harus tahu tantangannya seperti apa dan juga sepertinya mengasyikkan ketika kita tidak tahu akhir ceritanya seperti apa.

Jadi beberapa waktu lalu, saya duet menulis dengan tiga orang yang berbeda. Saya akan urutkan hasil duet kami dimulai dari yang pertama duet. Selamat membaca dan semoga berkenan. :)

*****

Duet 1 dengan Belinda dengan tema 'Luka'



Pelangi Senja

Pernahkah, kamu memegangi dadamu untuk menenteramkan nyeri yang tiba-tiba muncul dari sana yang menyesak hingga menarik napas pun lebih susah dari biasanya?


Pernahkah, kamu mengalami ingin sekali menangis karena dadamu sebak tapi kamu tetap tidak juga bisa menangis? Kamu hanya merasakan panas di mata, tapi airmatanya tertahan entah kenapa? Padahal kamu ingin sekali mengeluarkannya dan kalau bisa memuaskannya agar kamu kelelahan dan bisa tidur karena sudah bermalam-malam tidak bisa tidur lelap?

Ini, ini aku sedang melakukannya.

Saat ini saat aku memandangi langit sore berawan dengan semburat jingga-ungu-kelabu bergradasi begitu indah, saat di mana aku melihat lengkungan mejikuhibiniu setengah lingkaran di cakrawala. Mengantarkan aku pada sekeping kenangan yang kini sedang berputar di benakku. Tentangmu, Pelangi Senja.

Kamu pergi begitu saja. Tanpa mau duduk sejenak mendengarkanku berbicara. Bagimu, janji yang tak kutepati adalah harga mati. Aku telah menorehkan sebuah noda pada lembar putih kepercayaanmu. Bagimu, tak ada alasan lagi di balik itu. Kamu pergi dan tak menoleh lagi. Setiap langkahmu menjauh dariku, setiap itu pula hatiku terkoyak oleh luka.

Kalau ada waktu, datangi aku. Aku masih menunggu dan tidak akan minta apa-apa. Aku juga tidak akan meminta kamu jatuh cinta. Aku meminta waktumu sedikit saja untuk mendengarku berbicara. Untuk memaafkanku. Untuk saling melepaskan, kalau memang setelah berbicara, kita berdua tetap harus melepaskan.

Lalu biarkan sesuatu di dadaku ini melega. Hanya itu satu-satunya cara.

Bolehkah aku meminta itu saja? Jadi aku bisa mengatakan kepada hatiku sendiri, “Sekarang, sudah tidak apa-apa.”

*****

Duet 2 dengan Ayya dengan tema 'Bhinneka Tunggal Ika'

Pelangi Itu Kita


Aku kemarin melihat pelangi. Sepertinya ada kebohongan di sini, karena menurutku pelangi tidak hanya memiliki warna seperti yang diajarkan dulu, tujuh warna. Pasti jauh lebih banyak dari itu. Dan menurutku juga, pelangi bisa dikatakan sebagai salah satu keajaiban. Itu, menurutku.

Lalu aku membayangkan kalau pelangi hanya satu warna biru, atau warna apa pun itu. Mungkin tetap menarik, tapi itu lebih karena jarang terjadi saja sehingga orang akan tetap mengaguminya. Yang membuat pelangi lebih menarik, adalah karena warnanya yang selalu lebih dari satu. Bercampur dan bertingkat, menyesuaikan diri, saling menempel erat, lalu menjadi satu. Keajaibannya ada di situ.

Begitu pun kita. Sadarkah kamu betapa berbedanya 'warna' kita? Kamu memiliki karakter pribadi yang enerjik, penuh semangat, dan ceria. Setiap kata yang keluar dari mulutmu, punya kekuatan menghidupkan suasana. Siapa pun yang berada di dekatmu pasti paham kamu pemercik semangat yang sulit padam. Itu warna khasmu, kan? Kalaupun emosimu terkadang suka meletup-letup, aku tak peduli. Aku tetap suka, karena itu bagian dari warnamu.


Sementara aku, kebanyakan orang berpendapat aku ini bersifat 'air'. Tenang, kalem, pendiam. Mungkin benar, itu warnaku. Beberapa orang sekitarku juga mengatakan aku orang yang sabar. Entahlah. Yang jelas, aku pun sering menjadi orang yang penakut dan peragu. Itu warnaku. Nah.. itu! Itu dia! Di situ, kamu menjadi penyelarasku. Kamu yang menyulap semua keraguan dan ketakutanku menjadi gelombang semangat. Ajaib!

Lagi, aku berpikir betapa berbedanya kita. Hobi, selera, latar belakang. Ah.. Semua penuh warna.

Tapi bukankah itu yang membuat kita sangat menarik? Ketika kamu meletup-letup, aku akan mengguyurmu agar tidak melebihi itu. Dan ketika aku terlalu ragu, kamu akan mendorongku dengan percayamu bahwa aku bisa melakukannya, bahwa yang menghalangiku hanya ketakutanku saja, bahwa kamu... Mencintaiku. Kamu akan bersamaku sesulit apa pun itu. Untuk menemaniku, untuk menjaga bahagiaku.

Aku semakin bersyukur. Perpaduan ini menyadarkanku bahwa yang berbeda itu justru bisa saling melengkapi dan mempercantik. Aku dan kamu adalah sebuah sinergi yang harmonis. Sebagaimana pelangi yang selalu menarik dengan warna-warninya. Pelangi itu indah. Pelangi itu kita.

*****

Duet 3 dengan Tuta tanpa tema (lebih ke puisi)


Jari-jariku yang mengatakan rindu untukmu
meski tidak semahir bibirku mengatakannya
sementara biarlah ini dulu
tunggu waktu kita bersua

Lalu jari-jari itu tidak akan lagi menuliskan tentangku
Tapi tentang kita
Tentang tertawa bersama dan berbahagia bersama
Untuk sementara, jaga jari-jari itu untukku.

Untuk menjadi cerita, aku membutuhkan kamu
Seperti pena membutuhkan tinta
Meski sekarang terasa jeda, yakinku mengatakan inilah cinta
Seperti tombol spasi dibutuhkan untuk memisahkan kata demi tercipta kalimat
Sementara aku menjaga jari dan mengarang cerita
Maukah kamu mempersiapkan diri menjadi sutradara?

Aku ada.
Tidak perlu menjadi tombol spasi atau menjadi tinta yang dibutuhkan pena.

Aku ada.

Bersama miliaran molekul oksigen yang menelusup masuk ke saluran pernapasanmu, untuk memberi hatimu sekumpulan udara.
Aku bukan O2 tentu saja.
Aku hanya menitipkan rasa rinduku kepadanya.
Kalau titipanku sudah sampai di tempatnya, bisakah kamu membalasnya dengan hanya menuliskan pesan untukku dari handphonemu bahwa kamu (juga) merindukanku?

*****

Itu semuanya.
Duet lagi? Mmm untuk sementara mungkin belum bisa. Sedang banyak pekerjaan dan nulis novelku aja belum juga dimulai. T_T
Selamat siang. :)

19 komentar:

bella sirait mengatakan...

Woow ƪ(♥ε♥)ʃ keren...suka sekali sama "Pelangi itu Kita"

Fraterrby mengatakan...

kak mau bikin novel? wuaa sukses deh. Tapi kenapa gak coba bikin isi blognya yg bagus ini dijadiin buku hehe :)

oiya kak saya terinspirasi dr blog ini buat nyoba nulis fiksi bisa mampir kalau mau liat dan ada waktu http://linckiara.blogspot.com/ :D

Tiesa mengatakan...

suka yang Pelangi Senja ^^

ayooo mana novelnya? cepat dimulai nulisnya :P

Faizal Indra kusuma mengatakan...

Ia, aku suka nih. Novelnya?

Chici Elsa mengatakan...

baguuuussss.. suka yang pelangi senja, karena aku emang suka senja :)

salam kenal..
jejak pertama nie hehe

Kiky Saky mengatakan...

duet yang keren ... suka puisi tanpa tema....

lanjutkan!!!

nonasan mengatakan...

Duetnya kerenkeren , ditunggu duet selanjutnya :D

Nurul Khaliza mengatakan...

Suka sekali Pelangi Senja! :D

Dan, kalimat "Bahwa kamu... Mencintaiku. Kamu akan bersamaku sesulit apa pun itu. Untuk menemaniku, untuk menjaga bahagiaku." di Pelangi Itu Kita! ^^

Aiinizza anggriani mengatakan...

ditunggu novelnya kak ara.. SEMANGAT :)

Mine and Me mengatakan...

aku suka semuanya...^_^
nggak tahu, setiap kata yang kamu tulis terasa kena' aja gitu di hati aku... pas, tidak berlebihan, tapi dalam...

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

nice... selalu...
ditunggu novelnya :)

titon mengatakan...

aku suka pelangi senja :)
kenangan yang hadir selalu saja membuat kepala menjadi berat. seperti dibebani setumpuk besi berarat,ah sungguh penat! kenangan keparat.

Nathalia mengatakan...

suka yang pelangi senja :)

Mifta Chaliq mengatakan...

Wah...ternyata di posting sama mas erick, makasih lho (malu sebenernya) eheheh semoga lain kali ga ada missing link pas overlap ^.^

Ririe Khayan mengatakan...

Lovely...tatanan katanya so beautiful..tapi identitas untuk tulisannya Erick kok gak di kasihh?

Zy Al-Fikriyah mengatakan...

wooooww
lagi-lagi aku menyukai

"pelangi itu kita"

bagus... kali ini bukan dengan nagis guling-guling :)

salam kenal ya ka erick..

RIAN Ra-kun mengatakan...

puisi duet maut :D
saya ngapain aja sendirian, gak pernah duet-duetan :D

birthday party mengatakan...

nice post :D

Nonasan mengatakan...

yah repost, sudah baca ini sih T.T