Rabu, 14 Maret 2012

Ruangan Kecil yang Berisi Segala Sesuatu Tentangmu


Kuncinya masih sama, meski sedikit agak berkarat. Pintunya juga sama, meski sekarang lebih berdebu dari terakhir kali aku membukanya, dulu. Tapi tidak apa, kali ini aku ingin memasukinya. Memasuki ruangan yang selama ini aku hindari. 

Ah, pengap sekali ruangan ini.  Aku  menyalakan lampu dan membuka jendela. Semoga udara yang masuk bisa menggantikan udara yang busuk.

Tidak banyak berubah. Ruangan ini masih persis seperti yang aku tinggalkan dulu.

Ini, lemarimu file kamu. Di dalamnya banyak fragmen tentangmu yang kurekam. Mungkin jumlahnya ratusan. Dari mulai cara tertawamu sampai ketika kamu marah dan mendiamkanku. Dari cara kamu meminum teh melati favoritmu, sampai cara kamu menceritakan kisah lucu. Dari cara kamu cemberut ketika aku datang terlambat, sampai cara matamu berbinar ketika aku membawakanmu martabak manis dekat kos ku yang katamu candu.

Aku memutar semuanya satu per satu. Tentu saja tidak banyak. Waktuku tidak cukup untuk itu. Mungkin aku akan melihat du atau tiga fragmen. Ya secukupnya waktuku.

Lihat! Itu pada waktu aku menyanyikan lagu untukmu dengan gitarku. Suaramu fals sekali, katamu sambil menertawakanku. Tapi kamu menyuruhku terus menyanyi.
Tidak apa, bernyanyilah untukku. Kalau nyanyian itu untukku, bagiku akan merdu.” Aku tersenyum, dan mulai menyanyi lagi meski tidak sampai selesai karena aku tetap malu dengan suaraku. 

And when I see you then i know you will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
I'll never leave you

Just need to get closer, closer

Lean on me now
Lean on me now
Closer, closer
 
Kamu tersenyum lalu merangkul lenganku dan menyandarkan kepalamu di bahuku. Lebih mendekat seperti lagu yang kunyanyikan itu. 

Kita melewati malam itu sampai jam sebelas malam. Kamu tahu, itu salah satu malam terbahagiaku. Entah kalau kamu.

Dan lihat yang ini. Ini pada saat kita mengunjungi pantai satu setengah jam dari kotaku. Kalau boleh jujur, berkendara denganmu sepanjang jalan, jauh lebih menyenangkan daripada ketika sampai di pantai itu. Karena ketika itu, aku bisa sangat dekat denganmu, hanya berdua, dalam waktu yang lebih lama. Suaramu juga lebih jelas, sentuhan-sentuhan tanganmu ketika meninju lenganku atau mencubitinya juga lebih sering dari biasanya. Ah, menyenangkan sekali berkendara denganmu. Mendengarmu mengoceh tentang kelucuan-kelucuan temanmu atau kekonyolan yang kamu buat sendiri. See? That’s why I love you.

Tapi, belum selesai. Karena begitu sampai di pantai, kekanakan dan kemanjaanmu muncul kembali. Jangan khawatir, aku selalu suka itu. Tetaplah seperti itu, jangan ditutupi.

Mencintai adalah menerima. Bagiku selalu sesederhana itu. Termasuk kekanakanmu.

Dan lihat itu. Kamu berkeliaran dan berlarian mengenakan topi dan kacamata hitam. Aku harus memotretmu berkali-kali agar kamu senang. Entah berapa kali kamu bergaya dan aku memotretmu. Lalu kita juga berfoto berdua. Ah, sebentar, di mana foto itu?

Aku mematikan fragmennya, lalu melihat ke dinding ruangan. Ini foto kamu ketika cemberut. Lucu. Ini foto kamu ketika tertawa lepas. Ah, aku suka. Ini foto kamu memakai semacam kebaya karena mau ke pesta pernikahan Rina. Cantik. Tapi, mana foto kita di pantai itu? Semua pigura di sini sudah aku lihat satu per satu, dan tidak ada foto itu. 

Ah, mungkin di meja itu. Ada setumpuk album foto. Iya, pasti di sana.

Baru satu album yang kubuka, tiba-tiba berhamburan semua hal tentangmu. Ini adalah kamu ketika menerima hadiah boneka dariku. Ini adalah ketika kamu tertidur di bahuku. Ini adalah kamu ketika berada di mall. Ah, banyak sekali foto kamu di mall dan tempat makan. Tapi masih belum ada foto yang kucari itu. 

Ah, sudahlah. Udara di ruangan ini masih belum bagus. Aku sudah mulai merasa sesak. Lain kali saja aku kemari lagi. Mungkin besok, mungkin seminggu lagi, sebulan, setahun, entahlah.

Aku tutup lagi semua jendela dan bergegas ke pintu. Sebelum mematikan lampu, aku melihat sekali lagi ruangan sempit dan berdebu ini. Semua tentangmu. Ruangan khusus yang ternyata tidak bisa kuhilangkan ini. Baiklah, sudah cukup untuk hari ini aku kemari.

Aku menutup pintu dan menguncinya kembali.

Lalu aku melihat sekeliling. Ah, luas sekali di luar sini. Tidak banyak sekat. Terasa lapang dan nyaman. Terasa hangat sekaligus menyegarkan. Karena itulah aku tidak akan tinggal di ruangan itu. Di ruangan tadi, hanya ada kamu, tapi dari masa lalu. Sementara di bagian lain hatiku ini, ada banyak hal, ada juga kebahagiaan dan masa depan. Aku bisa melakukan apa saja dan memutuskan apa saja. Hatiku terlalu luas untuk kamu sendirian. Kamu, yang dari masa lalu itu, biar di ruangan kecil itu saja. Aku buatkan sengaja khusus untukmu. Sesekali aku akan menengoknya, tapi tidak akan tinggal di dalamnya. 

Aku sudah melepaskan, tapi tentu saja tidak mungkin melupakan. Jadi biar seperti ini saja. 

Kenanganmu, tetap tinggal di satu ruangan kecil di hatiku. Untuk kutengok, untuk mengenang, dan mungkin untuk belajar. Tapi aku akan tetap keluar lagi dari ruangan itu, untuk kembali ke hidup sebenarnya. Bukan di masa lalu, dan bukan dalam kenangan. 

Hatiku, lebih luas dari sekadar masa lalu.

11 komentar:

Sarita Amalina mengatakan...

nice, kak :')

Nathalia mengatakan...

mencintaimu adalah menerima.. bukankah mencintai juga memberi? :)

kunang kunang mengatakan...

pas banget buat suasana hatiku saat ini..

Aiinizza anggriani mengatakan...

aku harus coment apa???
ahhh lagi2 fiksinya selalu mengenak dihati... #senyum#

Tiesa mengatakan...

"Aku sudah melepaskan, tapi tentu saja tidak mungkin melupakan." ---> mengena :)

Chici Elsa mengatakan...

"Kenanganmu, tetap tinggal di satu ruangan kecil di hatiku. Untuk kutengok, untuk mengenang, dan mungkin untuk belajar. Tapi aku akan tetap keluar lagi dari ruangan itu, untuk kembali ke hidup sebenarnya. Bukan di masa lalu, dan bukan dalam kenangan.

Hatiku, lebih luas dari sekadar masa lalu"

aku suka kalimat yang ini..
katamu, semua tulisanmu ini fiksi. tapi terasa nyata :)

Mine and Me mengatakan...

sangat jujur... suka tulisan kamu setiap saat, apalagi ttg cinta... hehehe ^_^

Hana Ester mengatakan...

Halooww kk erick rajanya bikin galau!!!
Tulisannya unyu sekali !!
Huaaaa,, SUkaa T_T

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

tulisan tentang cinta memang tidak ada habisnya ya

Vika Etiana mengatakan...

"Hatiku terlalu luas untuk kamu sendirian"
"Hatiku, lebih luas dari sekadar masa lalu."
selalu suka tulisan kak ericknamara ini :)

erniee mengatakan...

Sukaa