Senin, 09 April 2012

Semangkuk Mi dari Orang Asing


Pada malam itu, seorang gadis remaja bertengkar dengan ibunya karena menginginkan sesuatu tapi tidak diijinkan.

Karena sangat marah, gadis itu segera memutuskan meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun. Dia sudah sangat kesal dengan ibunya. Ibunya tidak mencintainya. Kalau sayang, pasti dia akan memberikan apa yang diinginkan anaknya. Mana ada di dunia ini, ibu seperti ibuku. Tidak bisa membahagiakan anak gadisnya! batin gadis itu.

Selang beberapa lama kemudian, saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Dia lapar dan ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tapi ya Tuhan! Ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.


Pemilik kedai melihat gadis itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

”Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab gadis itu dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Gadis itu segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa, aku hanya terharu," jawab gadis itu sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Sedangkan ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah.”

“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu menarik nafas panjang dan berkata, “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi utukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Gadis itu terhenyak.

Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."

Gadis itu segera menghabiskan bakminya, lalu menguatkan diri untuk segera pulang.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kalimat apa yang harus dia sampaikan kepada ibunya untuk meminta maaf.

Belum juga sampai, dari kejauhan dia melihat ibunya mondar-mandir di pintu rumah dengan wajah sangat letih dan cemas. Lalu ibunya melihat ke gadis itu dan berlari memeluknya erat sambil menangis.

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Kau sudah pulang, nak. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang. Ayo, cepat. Kamu juga jangan sampai kedinginan.” Ibunya terus menuntun gadis itu sampai masuk rumah.

Gadis itu tidak dapat menahan perasaannya, lalu menangis sambil memeluk ibunya lebih erat dari yang belum pernah ia lakukan.


Sumber

*****

Kenapa ketika kita marah, kita hanya melihat yang buruk (padahal sangat sedikit) daripada sekian banyak kebaikan yang sudah dilakukan orang lain kepada kita?




3 komentar:

Tiesa mengatakan...

langsung inget Mama, pengen makan mie godok bikinan Mama jadinya :D
thanks sharingnya Mas :)

Hana Ester mengatakan...

Kak ara, bantu doa yaa, adek ku sakit kanker dan kata dokter sudah stadium akhir,,
Makasii kk

Annisa Solikha mengatakan...

I love you, Mom...