Jumat, 25 Mei 2012

Remember When*



Remember when I said my first ‘hello’, and you smiled at me then you said your first ‘hello’ too? 
Itu awal kita saling mengenal. Aku sampai memperhatikan semua detail tentangmu. Tentu saja  aku membuatnya agar tidak terlalu kelihatan. Tapi aku memang memperhatikan dan merekam semuanya sebisaku. Rambutmu yang panjang, tinggimu yang sepundakku, matamu yang cokelat bening, semuanya. Tahukah kamu, itu pertama kali aku berani menyapa seorang gadis? Bahkan sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau aku nekad menyapamu ketika itu. And, by the way, I never forget that first ‘hello’.
Remember when we had silly talks about everything all nights through cellphone? 
Kita bercerita tentang makanan dan minuman apa yang kita suka, film, komik, buku, semuanya. Kita juga menceritakan kebodohan-kebodohan yang masing-masing pernah lakukan, lalu tertawa bersama. Kamu mengolokku atau aku yang terbahak dengan keisenganmu. Tanpa sadar, pagi sudah datang dan ternyata kita belum tidur sama sekali. That was fun. 

Remember when we had our first ‘date’ at that café and we had our ‘coffee talk’? 
 
Kamu terlihat cantik mengenakan terusan kuning itu. Look shiny. Dan lihat, sekali lagi, aku memperhatikan semua tentangmu. Bagaimana cara kamu duduk, bagaimana cara kamu memegang cangkir dan mengaduknya, bagaimana cara kamu selalu ceria, bagaimana kamu selalu berbicara apa adanya tanpa berusaha bersikap pura-pura. Kamu adalah kamu. Dengan semua keterusterangan dan kekonyolanmu. Dan aku menyukai itu. Ah, waktu itu aku benar-benar berharap café itu terlambat tutup, atau bahkan jam 11 malam—jam tutup café itu--tidak usah datang. I enjoyed every moment of that.
Remember when it was suddenly rain, I hold your hand, and we run to the next restaurant? 
Kita sedikit basah, tapi lalu menertawakannya. Kebodohan kita adalah kita sudah tahu mendung, tapi di jalan yang cukup jauh dari tempat parkir, kita lupa membawa payung. Ya. Itu kebodohan. Tapi kita bersenang-senang kemudian bukan? Karena setelah itu, kita terus tertawa sampai hujan reda. Yeah, we had fun. 


Remember when I bought you some banana cake and strawberry ice cream, and you looks as happy as you can be?  
Sejak itu, aku memutuskan, membuatmu merasa senang adalah hobi baruku. Jadi, aku akan berusaha melihatnya selalu. Aku tidak keberatan terus menemanimu, atau mengantarkanmu apa saja. I adore you.
Remember when one day I said, ‘I love you’? Then it was so silence so I can hear my breath? But then, you said, ‘Thank you, but im sorry....’?
I remembered. I remember how it feel.


______
*Tidak berhubungan sama sekali dengan judul novel yang sudah ada.

7 komentar:

namarappuccino mengatakan...

Sedang sambil belajar bahasa Inggris. :) Kalau ada salah dalam bahasa-bahasa Inggris itu, mohon ada yang meralatnya ya...

Terima kasih.


"Write what you love, love what you write."

restu aga subagya mengatakan...

you are great as always bang erik :D terbawa suasana ini pas bacanya haha

Arif Zunaidi Riu Aj mengatakan...

kenapa selalu sesuai dgn suasana hatiku ya... keknya berdasarkan pengalamn nih... gak mungkin kalo hanya imejinatif aja.

Sarnisa Anggriani Kadir mengatakan...

kak..aku nunggu novelnya :)

namarappuccino mengatakan...

Sudah lama gak membalas komen. :) Selagi ada waktu.

@Restu: Hehehe terima kasih. :)

@Arif: :D hmm...

@Aii: Aamiin semoga bisa cepat selesai dek. :) Kayaknya lama. :D Maafkan.

BasithKA mengatakan...

I remember how it feel. What a climax ^_^

Mifta Chaliq mengatakan...

banana cake and strawberry ice cream :)
nice one