Senin, 16 Juli 2012

"Nanti," Katanya

Aku ini penakut. Aku benar-benar sangat tidak nyaman dalam tempat yang sepi. Aku sering menjerit kalau tiba-tiba aku merasa di sekitarku tidak ada siapa-siapa. Lalu akan ada yang berlari, memegang tanganku dan memelukku. Dia membiarkan aku menangis di dadanya, menenangkanku sambil berkata bahwa sudah tidak apa-apa dan aku tidak sendirian.

Pelukannya selalu hangat, dan suaranya juga sangat merdu. Aku suka. Tapi aku tidak bisa melihatnya.

Kapan pun aku meminta untuk bisa melihatnya, dia akan selalu berkata, nanti. Dan aku selalu bertanya nanti itu kapan? Dia tetap menjawab, nanti. Ketika aku meminta dia untuk berjanji, dia tidak mau. Dia hanya selalu mengatakan, nanti.

Selain ingin bisa melihatnya, aku juga ingin tahu bagaimana dia bisa selalu di dekatku. Apa dia tidak lelah? Apa dia tidak punya pekerjaan? Kenapa bisa?

Kapanpun aku menanyakannya, dia akan menjawab, “Tidak apa-apa. Jangan masalahkan aku. Aku akan menjagamu.”

Malam ketika aku hendak tidur, dia akan datang lagi. Dia akan selalu melakukan itu. Lalu dia akan tidur di sampingku dan menyanyi. Aku akan memeluknya habis-habisan. Menciuminya juga. Meski aku tidak bisa melihatnya, sentuhan kulit-kulitnya sangat terasa. Jadi aku selalu tahu ke mana harus menciumnya.

Kadang, di sela aku menciuminya, aku menyentuh setetes air hangat. Air hangat yang sama yang muncul dari mataku ketika aku menangis karena merasa sangat sepi. Aku tidak mau merasakan tetes air hangat dari mata dia lagi. Karena setiap merasakannya, dadaku perih dan mataku ikut menghangat, sembab, lalu airnya tumpah. Dan dia, akan memelukku sambil menciumiku tanpa henti.

‘Tidak apa-apa,” katanya. “Jangan menangis lagi.” Lalu dia menghapus air mataku dengan jari-jarinya, dan mulai menyanyi lagi. Biasanya setelah itu, suaranya bergetar.

Dadaku perih lagi.

Sudah lama aku tidak bisa melihat apa-apa. Gelap adalah keseharianku. Tapi aku merasakan kehangatan di sana. Karena ada dia. Selalu ada dia, meski aku masih belum pernah bisa melihatnya.

Aku tidak tahu dia sebenarnya malaikat atau manusia. Aku hanya selalu memanggilnya… 'Mama'. Dan katanya, aku sudah tidak perlu bertanya tentang Papa. Hanya ada kami berdua. Dan dia, akan berusaha sebisa mungkin agar aku tidak lagi buta. Nanti, katanya.

Kalau boleh memilih, aku ingin dia jangan pernah pergi. Tidak apa aku tetap tidak bisa melihatnya. Tapi jangan sampai dia terlalu mengusahakan penglihatanku sampai dia melupakan dirinya sendiri. Melupakan bahwa dia juga harus beristirahat, melupakan bahwa dia juga harus menjaga kesehatannya, melupakan bahwa dia juga harus bisa berbahagia. Aku benar-benar tidak ingin dia pergi.

Aku tidak butuh penglihatanku yang kata dia masih ‘Nanti’. Aku butuh dia tidak pernah pergi. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia sampai pergi.

Dadaku perih lagi.


9 komentar:

Happy Fibi mengatakan...

Endingnya gag ketebak, Mas Na..
Kirain tadi lagi ngomongin kekasih, ternyata tentang 'Mama'..

Kereeen :D..

Mifta Chaliq mengatakan...

aduh sayangku ini...aku ikutan nangis T_T

Ririe Khayan mengatakan...

sOSOK IBU YG yg memang tak pernah berhenti mengalirkan perhatian, kasih sayang dan pengorbanan demi anak-anaknya,,,,benar banget jika kasih ibu sepanjang masa...

AfraidOfHurtingSomeone ButFinallyTheOneHurted mengatakan...

Aku butuh dia tidak pernah pergi. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia sampai pergi.



I'm afraid of hurting someone, but finally I'm the one hurted.

nonasan mengatakan...

setuju sama komen pertama hihi ku kira juga ngomongin kekasih :D
keren, suka banget :)

Laini Laitu mengatakan...

Jadi kangen Malaikat tak bersayap yang jauh di Jogja ka(*__*),

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

barusan juga aku habis peluk2an tapi sama anakku hehehe

Stephen Cokro mengatakan...

Mom... I love you so much!

Santi Utami mengatakan...

Aku sukaaaa.... makasih untuk semua tulisannya.... Aku menyukai semuanya ini adalah favorite ku...