Selasa, 25 September 2012

Don't You Remember?

Malam itu kamu ceria sekali. Bercerita tentang kedekatanmu dengan dia. Kamu sepertinya sedang jatuh cinta, atau setidaknya menurutmu begitu.

Aku mendengarkan seksama. Kamu bahagia, aku ikut bahagia. Tapi kalau boleh jujur, aku juga mengelus dada. Aku bahagia tentu saja, tapi sebenarnya aku berharap kepadakulah kamu jatuh cinta, bukan dia.

Malamnya, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku sudah mencoba melihat televisi, membaca buku, atau mendengarkan lagu riang. Sama saja. Aku gagal. Aku tidak juga bisa melelapkan mata. Kepalaku terlalu berat. Mengingat kamu sedang jatuh cinta, membuatku sulit terlelap.


Lalu, ada telepon darimu tengah malam. Kamu bertanya sudah tidur? Aku menjawab belum. Kamu tidak bisa tidur. Kamu sedang jatuh cinta. Sama. Aku juga tidak bisa tidur, bedanya, alasanku adalah sebaliknya. Kamu pun mulai bercerita (lagi) tentang dia, dan aku juga selalu mendengarnya. Ikut tertawa ketika kamu selalu mengatakan, "Aku jatuh cinta. Aku bahagia dengan dia."

Kamu tahu, itu tawa bohong terbesarku.

Don't you remember?

Lima bulan sepuluh hari kemudian, kita bertemu lagi. Ya, aku menghitungnya. Tapi kali ini kamu tidakceria lagi. Katamu, dia tidak sebaik kamu kira. Dia menginginkan lebih dari sekadar berjalan-jalan dan keluar untuk makan. Lebih dari sekadar bertukar cerita dan bertukar dengar. Kamu juga bilang dia terlalu sering mengajak bermesraan. Kamu beda. Untuk milikmu yang paling berharga kamu akan menjaganya sampai waktunya tiba. Kamu kolot, tapi aku menyetujuinya. Kamu hanya ingin berbeda, tentu saja kamu menghargai orang yang berpendapat berbeda, tapi kamu juga ingin dihargai pendapatnya.

Dia tidak terima, katamu. Itu cinta, buktinya harus seperti itu, kata dia lagi.

Dia memperdayamu, batinku. Kalau cinta, dia juga harus menghargai keputusanmu. Dan menerimanya.

Pada akhirnya, 'hanya' gara-gara itu, dia tersinggung, dan kamu di sini lagi malam ini. Menangis bersamaku. Dia bukan jatuh cinta sepertiku, katamu. Aku menemanimu sampai malam, mengantarmu pulang, dan menemanimu lagi dengan telepon. Sampai kamu terlelap, teleponnya masih nyala. Aku bisa mendengar napas halusmu yang tidur kelelahan.

Don't you remember?

Beberapa bulan kemudian, kamu mengenali cintaku. Terlambat, cantik. Aku sudah melakukannya dari dulu. Menurutmu kenapa aku selalu mau menemanimu sesering itu? Menurutmu kenapa aku selalu datang kapan pun kamu meneleponku semalam apa pun itu? Menurutmu kenapa aku selalu menanyakan kabarmu?

Tapi, tidak apa. Sekarang, aku tidak perlu lagi menyimpan rahasia karena kamu sudah tahu semuanya.

Kamu selalu mengatakan suka caraku memperhatikanmu dan memperlakukanmu sebagaimana perempuan satu-satunya. Kamu juga selalu mengatakan mengagumi bagaimana aku bisa betah mendengar ceritamu berlama-lama. Semua itu membuatmu jatuh cinta. Dan aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.

Sejak itu, kamu selalu mengirimi fotomu di mana saja. Ternyata seperti ini caramu mencinta. Aku suka. Apalagi kadang kamu mengirim foto kamu sedang bersama hadiah dariku, seperti ketika memeluk boneka merah jambu dariku itu, atau flashdisk berbentuk kura-kura tapi berwarna ungu. Bukan fotonya, tapi senyummu di foto bersama hadiah dariku yang membuatku tersenyum lalu rinduku mengalikan diri sampai seribu. Siapa bilang surga itu jauh? Surga bisa sedekat kamu.

Lalu aku akan meneleponmu dan kamu malah menggodaku, "Pasti jadi kangen aku, kan? Iya kan?" Sambil tertawa. Ah, meneleponmu benar-benar tidak baik buat rinduku. Dan tertawamu benar-benar tidak baik buat jantungku.

Malam ini pun kamu bersamaku. Masih secantik biasanya. Akhir-akhir ini gantian aku yang selalu bercerita dan kamu mendengarnya.

Kali ini aku bercerita tentang apa-apa yang pernah kamu lakukan untukku. Seperti ketika menyanyikan lagu untukku, atau membingkai foto kita berdua di kamarmu. Ah, aku suka tiap kali kamu melakukan apa pun untukku, sekecil dan seremeh apa pun itu.
Hei, kamu pernah mencintaiku. Tidakkah kamu ingat itu?
Aku mendesah. Merasa nyeri sekali. Kenapa kamu juga tidak mengingat ini?

Ibumu tersenyum, mendekatiku, lalu menyediakan teh untukku. "Diminum, Nak."

"Iya, Ma."

"Besok lagi saja."

"Tapi sudah tiga bulan dia seperti ini. Tidak mengingat apa pun lagi."

Ibumu berubah murung. "Terima kasih, Nak sudah hampir setiap hari datang kemari. Mencoba menceritakan apa saja agar ingatannya kembali. Kami saja sudah hampir menyerah. Tapi kamu tetap kembali setiap hari selama tiga bulan ini sejak kecelakaan itu. Tidak apa, Nak. Mungkin lain kali." Ibumu tersenyum.

13 komentar:

mohamad rivai mengatakan...

wow.
ini kisah nyata bukan sih pak??

kok sedih banget gitu?

kalo kisah nyata aq no koment ah.
semangat aja trus..
semua pasti ada jalan keluarnya :D

Mifta Chaliq mengatakan...

another twisting story, eheheh hayo kapan bukumu jadi? *cambuk*

Javas K. Niscala mengatakan...

haduh, udah nebak bakal happy ending, eh ternyata amnesia. huft...
kenapa gak pernah happy ending ya... :)

Namarappuccino mengatakan...

@Rivai: bukan. Fiksi. :)

@Mifta: hiks. Kapan ya. Banyak kerjaan nulis soalnya.

@Javas: Hehehe. Awalnya iya, mau bikin happy ending. Di tengah jalan, langsung pengen ubah (twist). :D

Nurul Khaliza mengatakan...

Ah. Satu lagi ceritamu, kak, yang membuatku tersenyum penuh arti.How a sweet story :')

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

fiksi2nya mirip kisah nyata, enak dibaca. smeoga ingatannya kembali ya :)

isti mengatakan...

"Siapa bilang surga itu jauh? Surga bisa sedekat kamu"...hmm, that's true...

restu aga subagya mengatakan...

ending ngetwist itu semacam penulis lg ngetroll pembaca :| nice one bang :D

septi ika lestari mengatakan...

aaaakkk...
baca ini disekolah, bikin nggak konsen...
ceritanya bigini amat mas... :(
semoga nggak mengalami ya

wilda yusnita mengatakan...

mas erick,bener2 makjleb banget nih kisah nya *tisu mana tisu* keep inspiring ya..bikin buku dong,mas :D

Reinta Mirza mengatakan...

masyaAllah............ ternyata amnesia. kasian bangeeeeeeeeeet aaaaaaaaaah sedih, ga nyangka ending nya begitu :")

Ghalih KJ mengatakan...

ceritanya keren. nice post :)

Anggi Navytiani mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.