Minggu, 02 September 2012

Mencarimu


Dua tahun.

Aku rasa kamu pasti masih secantik dulu. Salah satu pertanyaanku mungkin hanya, rambut kamu, apakah masih panjang, atau sudah kamu pendekkan? Atau kamu bersama siapa sekarang? Ya. Mungkin itu. Yang kedua yang benar-benar membuatku penasaran.

Dua tahun. Dan ternyata sudah selama itu.

Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Mungkin, Tuhan memang sengaja menciptakan kebetulan, dengan mempertemukan kita tanpa sengaja, lalu saling jatuh cinta.

Pertemuan kita sangat klise. Seperti cerita novel picisan, atau sinetron gak mutu yang tidak pernah kita tonton karena takut berpengaruh buruk. Tapi adegannya sama. Kita bertemu bertabrakan di sudut jalan perempatan kecil kotamu. Lucu. Ternyata hal-hal seperti itu benar-benar terjadi.

Kamu mengenakan rok selutut berwarna gelap, atasan biru, dan berkacamata. Aku ingat sekali momen itu. Kita berdua sama-sama bermain hp. Mungkin kamu sedang mengirim sms, kalau aku sedang mencari contact list seorang teman untuk meneleponnya.

Hpku jatuh. Berantakan. Hp kamu pun begitu, tapi reflekku sigap menangkap hpmu sebelum sempat menyentuh tanah, jadi dia selamat. Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Atau mungkin sebenarnya aku tidak tahu itu hp siapa, aku hanya reflek saja menangkapnya? Tidak tahu.

Kamu merasa tidak enak, meski sudah berkali-kali aku mengatakan tidak apa. Sepertinya hanya casingnya saja yang rusak, karena pada waktu kunyalakan masih berfungsi normal seperti biasa. Tapi kamu itu gigihnya bukan main. Memaksaku ke counter hp terdekat untuk membeli casing baru.

Ah, singkatnya dari pertemuan yang terlihat tidak mungkin itu, yang aku mengira itu hanya terjadi di cerita fiksi saja, kita semakin dekat. Tiada satu haripun kita lewati tanpa bertukar sms atau saling menelepon. Kadang-kadang di malam Minggu, kita bertemu. Kamu bercerita lucu, dan aku akan tertawa sambil memegang perutku.

Kita ini terbalik. Seharusnya yang lebih rame adalah aku. Tapi malah kamu. Dan aku malah lebih banyak diam. Tapi tidak apa, yang penting kita berdua jatuh cinta.

Atau setidaknya itu menurut kita pada awalnya.

Lalu aku bertemu dia. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga kamu.

Perlahan, kita mulai jarang bertemu, bahkan untuk menyapa pun, selalu kamu yang memulainya terlebih dulu.

“Kalau aku nekad mencintaimu, kamu mau apa?”, katamu pada suatu ketika.

Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menjelaskan perasaanku ketika itu. Aku benar-benar tidak ingin meninggalkanmu. Kamu dengan segala perhatian dan cintamu yang meluap-luap, menahanku. Tapi akhirnya jebol juga. Aku mencintanya. Gadis itu. Gadis yang cantiknya melebihi perkiraanku. Yang ketika dia berjalan, semua orang melihatnya dan memujinya. Yang membuatku selalu bangga jika menggandeng tangannya. Yang aku benar-benar merasa jatuh cinta.

Pelan-pelan. Pertahankanku rubuh. Kamu juga sudah tahu tentang gadis itu. Kita bertengkar hebat. Aku membela diri dengan menyalahkanmu habis-habisan. Aku bukan selingkuh. Aku mengenal dia dan kemudian dekat. Lagipula kita sudah tidak lagi dekat, kataku.

Kamu menunduk. “Itu menurutmu,” katamu lirih. “Kamu yang menjauh. Bukan aku. Aku terus berusaha mendekat. Kamu terus menjauh.”

Aku tidak tahan lagi. Seemosinya aku, aku tidak pernah bisa melihat seseorang menangis. Aku berjalan mendekat, memelukmu, dan mengusap kepalamu.

Cintamu terlalu besar. Aku tidak sanggup menampungnya di hatiku. “Semua akan baik-baik saja. Selalu…” kataku.

Kamu diam, memelukku semakin erat. Aku merasakan bajuku dibasahi air hangat dari matamu.
Menit pertama ketika aku sampai rumah, aku menghubungimu. Seingatku aku hanya mengirim sms bahwa aku memilih dia. Jadi, cerita kita biar sampai di sini saja.

Kamu meneleponku hingga puluhan kali ketika itu. Dan beberapa sms, “Tolong, angkat dulu. Sebentar saja. Biarkan aku bicara. Lima menit saja.” Lalu ada juga tentang seperti, “Tolong, sebentar saja. Kumohon.” Atau, “Aku sedang menangis sampai gemetaran sekarang ini, kalau memang kamu mau pergi, angkat dulu teleponku, setelah itu terserah kamu.”

Entah berapa sms dan telepon lagi yang sama sekali tidak aku angkat. Aku takut jika berbicara denganmu, aku akan berubah pikiran. Aku matikan telepon, dan patahkan SIM Cardku. Malam ini juga aku akan membeli nomor baru. Tentu saja sebelumnya aku sudah menyimpan nomor penting di hpku, kecuali nomor kamu. Niatku sudah bulat. Aku tidak pernah main-main dalam setiap keputusanku. Kalau terus berhubungan denganmu, bisa-bisa aku tidak akan melangkah untuk meraih kebahagiaanku.

Itu dua tahun lalu.

Sekarang, aku kembali lagi ke kotamu. Berharap menemukanmu. Berharap kamu memaafkanku. Dan yang paling besar adalah, berharap kamu masih menungguku. Dan aku bisa meminta maaf atas kesalahanku dengan mengaku bahwa aku ini seseorang yang bersembunyi di balik kalimat, “Lelaki normal, yang sangat tertarik dengan kecantikan.”

Dia, gadis yang dulu aku cintai mati-matian itu, kamu pasti melihatnya di tv. Dia sudah menjadi selebriti sekarang. Dan kamu juga pasti sudah mendengar berita tentang video amoralnya dengan seorang penyanyi grup band terkenal. Ya. Dia melakukan itu padaku. Ya. Sekarang aku tahu seperti apa rasanya luka yang dulu kamu alami. Ya. Rasanya tidak karuan sampai menjelaskan sakitnya seperti apa saja aku tidak sanggup mengatakan.

Tapi ini, aku datang lagi ke kotamu, tempat pertama kali kita bertemu. Membawa foto kamu sambil bertanya kepada semua orang di sana, “Anda mengenal gadis ini? Di mana saya bisa bertemu dengannya?”
Aku melakukannya sudah satu minggu.

Tempat yang paling sering kukunjungi dan menanyakan tentangmu adalah jalan dimana kita bertabrakan pertama kali.  Siapa tahu kamu akan kembali ke tempat ini lagi, ke tempat pertama kali kita bertemu. Siapa tahu kamu selama ini berharap bahwa aku akan kembali, dan mencarimu di tempat pertama kali bertemu. Siapa tahu.

Tapi nihil. Bahkan sudah sepuluh hari.

Orang-orang di sekitar sana mulai mengenaliku. Mungkin juga sudah bosan karena setiap kali mereka lewat, aku menanyakan hal yang sama. Mereka mulai kesal dan menjawab, “Kamu sudah menanyakannya kemarin,” atau, “Ini keempat kali kamu menanyakan itu padaku!” atau yang paling parah, “Berhenti mengangguku! Cari kehidupan sana!”

Well, melihat kondisiku sendiri, dia mungkin pantas mengatakan itu. Aku sudah lama tidak mencukur kumis dan jenggotku. Baju yang kubawa juga hanya beberapa jadi aku sering memakainya berulang. Jika ada yang berpikir kejadiannya sama dengan lagu The Man Who Can’t be Move-nya The Script, mereka salah. Aku tidak separah itu. Tidak sampai membawa matras tidur, diusir polisi, atau diberi uang recehan oleh orang-orang yang lewat. Aku masih tinggal di losmen, masih mandi, dan minum di cafĂ© atau makan nasi goreng dan soto di sekitar losmen.

Tepat dua minggu, aku mulai merasa lelah. Tapi, aku masih menanyakan hal yang sama. Terutama pada jam-jam sibuk seperti pagi saat orang berangkat kerja, dan ketika mereka pulang. Juga siang ketika makan siang. Malamnya aku juga menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar situ sambil terus menanyakan ke semua orang yang kutemui. Tapi tetap tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu.

Pada hari Minggu kali ini, seperti biasa aku masih melakukan kegiatan serupa di kotamu. Tapi jawabannya tetap sama. Nihil. Jadi aku memutuskan berjalan agak jauh, melihat sebuah tempat makan kecil yang belum pernah aku datangi, dan menuju ke sana.

Aku kaget ketika seorang pelayan yang mendatangiku bertanya, “Jadi, kamu pria yang diceritakan itu, ya?”

Aku mengernyitkan dahi.

“Kamu menjadi orang terkenal di daerah sini. Seseorang yang membawa foto dan bertanya kepada semua orang yang ditemuinya setiap hari,” katanya sambil menyerahkan menu. “Boleh aku lihat fotonya?”

Aku memberikannya dan tidak menggubris menu yang dia berikan.

Dia melihat sebentar lalu tersenyum, “Siapa dia?”

“Kekasihku. Dulu.”

“Kenapa mencarinya?” dia mengembalikan fotoku.

“Aku dulu meninggalkannya. Sekarang aku benar-benar merindukannya. Memintanya memaafkanku dan kembali bersamaku. Kalau perlu aku akan berlutut jika harus melakukannya. Dan kalau dia mau memberiku kesempatan untuk mencintainya sekali lagi, aku akan mencintainya dengan benar kali ini.”

Kutatap lekat foto itu. Ini adalah momen dimana aku ingin bertemu dia secepatnya.

Pelayan itu tersenyum, melirik jam dinding. Sepuluh lebih lima belas menit. Dia bergumam.
“Aku tahu di mana dia.”

Aku menatapnya tak percaya. Dia mengambil pena dan menggambar denah di sebuah tisu dan memberikannya kepadaku.

“Cepatlah ke sana. Sekarang juga.” Dia tersenyum, matanya berkaca-kaca.

“Kenapa kamu…”

Dia menggeleng, “Aku hanya mengagumi keteguhan hatimu. Cepatlah ke sana.”

Dia tidak main-main. Aku mengangguk dan segera mengemudikan mobilku. Sebentar lagi aku akan bertemu denganmu. Sebentar lagi. Tunggu aku sebentar lagi.

*****

Ada pesta pernikahan. Aku tidak tahu ini pernikahan siapa. Pasti tidak mungkin pernikahanmu. Itu akan menjadi cerita klise lagi. Terlalu drama untuk sebuah kisah nyata. Terlalu seperti cerita novel. Terlalu mudah ditebak untuk sebuah kisah nyata. Tidak mungkin sekebetulan itu.

Kamu pintar menyanyi. Mungkin kamu menjadi penyanyi di acara ini.

Tapi aku salah. Di luar ada karangan bunga ucapan selamat penuh dengan namamu.

Tiba-tiba saja, entah kenapa, aku jadi tahu rasamu sewaktu aku meninggalkanmu. Aku tahu kecewanya, sakitnya, serta merasakan mata yang panas dan berusaha menahan mati-matian agar tidak ada air mata yang keluar. Ternyata ketika air mata ditahan justru sakit sekali. Seperti inikah kamu dulu ketika aku meninggalkanmu? Atau lebih sakit lagi? Ah, aku bisa membayangkannya jika ternyata lebih sakit dari ini.

Lalu aku diam saja. Duduk di sana memandangimu di panggung bersama seorang laki-laki tampan. Dan sepertinya juga mapan. Kamu cantik sekali. Terlihat bercahaya dengan gaun putih penuh manic-manik itu. Dia membisikkanmu sesuatu lalu kamu tertawa sambil melihatnya mesra.

Lalu di dadaku seperti ada yang meremasnya. Aku ingin segera pergi. Tapi kakiku lemas sekali. Ternyata cerita seperti ini memang benar-benar terjadi.


Jadi, aku duduk saja di sana. Menikmati nyeri karena menyesalku tiba-tiba memenuhi kepalaku lalu meluap dan ingin menumpahkannya melalui air mata, tapi aku berhasil menahannya. Pepatah "Boys dont cry" selalu menahanku.



Sampai pada satu titik, ketika tidak ada tamu yang sedang menyalamimu dan kamu bisa duduk, mata kita bertemu di sana. Kamu terkejut sepertinya, karena cukup lama mata kita bertemu. Kali ini aku tidak bisa menahan lagi. Air mataku keluar begitu saja. Untungnya aku cepat bisa menghapusnya.

Kamu agak menunduk, tersenyum kecil, dan menatap suamimu yang menggenggam tanganmu.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi suamimu juga melihatku, lalu tersenyum kepadamu.

Tamu datang dan menyalami lagi. Ini sudah hampir jam dua belas, sepertinya sebentar lagi acara ini akan selesai. Aku ingin pergi, tapi aku tidak tahu kenapa aku masih di sini. Ini mungkin seperti pertanyaan yang selalu ditanyakan orang kenapa sudah disakiti tetap mencintai? Tidak ada yang tahu jawabannya. Mungkin penjelasaannya adalah pikiran memang ingin pergi, tapi hati selalu ingin tetap di sini. Ya, aku memang ingin segera pergi dari sini, tapi entah kenapa aku tetap di sini.

Tiba-tiba saja, ketika aku menunduk, aku melihat langkah mendekat. Aku mendongak, dan melihatmu di sana. Tersenyum. Tulus. Seperti senyummu yang selalu aku lihat dulu. Senyum yang selalu untukku.

Rupanya aku melamun cukup lama, karena di gedung itu sudah cukup sepi. Hanya beberapa keluarga dan teman dekat pengantin. Aku mengenali beberapa di antaranya. Orangtuamu, melihatku, mengangguk dari jauh dan tersenyum. Aku melihat wajah khawatir mereka. Aku membalas tersenyum.

Kamu duduk di sampingku. Melihat ke arah suamimu (aku mengikuti arah penglihatanmu), kalian berdua tersenyum, dan suamimu mengangguk. Apa pun yang kamu lakukan padaku sekarang ini, sepertinya suamimu tahu dan mengizinkannya.

Kamu memegang tanganku. Hangat. Sehangat waktu itu, 2 tahun lalu.

"Kamu tidak memberi selamat kepadaku?" tanyamu. Tersenyum. Entah perasaanku saja, atau kamu memang jauh lebih cantik sekarang.

"Selamat..." kataku. Berusaha tersenyum. Kamu tahu, senyumku ini mungkin akan kumasukkan dalam list 'Kebohongan Terbesarku'.

"Bagaimana kamu bisa tahu aku menikah hari ini?" tanyamu lagi. Masih tersenyum. Tapi aku melihat mata sedihmu di sana. Aku mengenalmu, jadi aku sangat tahu tentangmu.

Aku menatap matamu, lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain. Mataku tidak sanggup. Tidak sekuat dua tahun lalu ketika aku bisa menatapmu dengan sebebas-bebasnya.

"Aku tidak tahu. Aku hanya mencarimu. Sudah lebih dari dua minggu aku mencarimu. Tidak ada yang tahu. Sampai tadi, ada yang memberi tahu kalau aku akan menemukanmu di sini." Ah, semoga kamu tidak mendengar getar dalam suaraku tadi. Kumohon jangan.

"Kenapa mencariku?" kamu ikut mengalihkan pandangan ke arah kerumunan orang yang sedang berfoto bersama. Sama sepertiku. Ataukah kamu juga sedang tidak sanggup menatapku?

Aku diam saja.

"Kenapa?" tanyamu lagi.

Aku melirikmu, menguatkan pandanganku. Lalu menarik napas panjang dan kembali mengalihkan pandangan. Aku tidak kuat melakukannya.

"Karena aku menyesal," seperti sudah menggendong beban berat lalu berhasil meletakkannya. Seperti itu perasaanku sekarang.

"Menyesal karena meninggalkanku? Terus?" kamu masih menatap lurus ke arah orang-orang itu. Nadamu meninggi. Aku tahu kemarahanmu dan memakluminya. Aku diam saja.



"Setelah melakukan itu, lalu apa?" sekarang kamu menatapku tajam. Aku menunduk.

"Berharap aku menunggumu dan kemudian kembali kepadamu? Memaafkanmu lalu kembali mencintaimu? Seperti itu?" Itu. Itu kemarahanmu yang meluap-luap tapi kamu tahan. Kalau tidak ada orang, mungkin kamu sudah memukuli dadaku sekarang sambil menangis keras.

Aku diam saja. Menunduk begitu saja.

"Aku menangisimu dulu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Tapi tidak lagi. Kamu pasti tidak tahu sakitnya aku dulu. Dan jangan bilang kamu mengerti. Karena itu bohong sekali. Seseorang tidak akan mengerti kalau dia tidak merasakannya sendiri. Tidak akan pernah mengerti."

Aku diam saja.

"Sekarang kamu kembali, menyesal dan ingin kembali? Berharap aku memaafkanmu semudah itu?
Sayang sekali, kamu terlambat enam bulan. Aku bisa saja mengatakan kamu terlambat satu jam, tapi kalaupun satu jam sebelumnya pun kamu sudah datang, aku tidak akan membatalkan pernikahan."

Aku diam saja.

"Aku mencintaimu. Dulu. Sangat. Aku berani melakukan apa saja untukmu. Apa saja. Dan kamu tahu itu. Tapi aku tidak bisa menunggumu selamanya. Kamu tidak bisa meninggalkan seseorang yang mencintaimu lalu berharap dia akan terus mencintaimu selamanya. Itu tidak terjadi bahkan dalam dongeng sekalipun. Itu hanya terjadi pada puisi. Dramatisir sebuah situasi. Pada kenyataannya tidak akan ada orang yang mau melakukannya. Tidak aku, apalagi kamu."

Aku masih diam.

"Aku bahagia kini. Aku rasa akan tetap bahagia sampai nanti. Aku juga tahu tentang gadis itu. Apakah setelah dia memperlakukanmu seperti itu, kamu baru ingat aku?"

Di perkataan itu, hatiku terasa tertusuk sekali. Tapi aku masih diam.

"Dia bukan bahagiamu. Kamu akan menemukan bahagiamu nanti." Kamu tersenyum. Sekarang aku berani menatap kamu.

"Semoga..." kataku. Ikut tersenyum. Masih senyum yang akan menjadi kebohongan terbesarku.

Aku mengulurkan tanganku, "Selamat. Semoga menjadi keluarga bahagia nanti." Aku harus segera pergi dari sini. Sebelum air mataku keluar lagi dan kamu melihatnya.

Kamu menyambut tanganku, "Terima kasih." Lalu tersenyum. Ternyata bukan perasaanku. Kamu memang menjadi jauh lebih cantik sekarang ini daripada dua tahun lalu. Apalagi ketika kamu tersenyum seperti baru saja tadi.

Aku melihat ke kedua orang tuamu. Lalu kamu berkata, "Tidak apa. Aku akan menyampaikan salammu kepada mereka."

"Juga maafku?"

"Juga maafmu." Kamu tersenyum.

Aku menatapmu sekali lagi dan tersenyum. Lalu melangkah keluar, memegangi dadaku, mengelusnya perlahan, dan berbisik di sana, “Bodoh! Apa yang sudah kamu lakukan?!”

Dua tetes air mata mengalir dan mengambang di lautan hingga akhirnya saling bertemu.
Salah satu tetes air mata itu bertanya pada tetes air mata lainnya, "Siapa kamu?"
"Aku tetes air mata yang dijatuhkan oleh seorang gadis yang ditinggalkan seorang laki-laki. Dan siapa kamu?"
"Aku tetes air mata dari laki-laki yang menyesal telah meninggalkan seorang gadis."
-anonim-


12 komentar:

Ririe Khayan mengatakan...

Mencarimu dan menemukannmu sdh tak mungkin lg ku genggam jemarimu : will you stay with me...

It's really such hurting

cemara-angin mengatakan...

Aaaastaagaa.....jleb.....

Sarnisa Anggriani Kadir mengatakan...

astaga kakak.. tissueku ditaruh dimana si?? T.T

ini sgt mengundang air mata :(

Eun Hee Sa mengatakan...

jantung terasa teremas bacanya.. sakit :'D

septi ika lestari mengatakan...

ah,yang ini sedih banget :(

rada oot ya mas,cuma mau bilang,kalo aku sering iri sama tokoh-tokoh gadis yang sering mas buat.
mas selalu menggambarkannya dengan penuh cinta dari laki-laki...
pengen ada cowok yang kayak gitu ke aku,kelak :))))

Rabbani Haddawi mengatakan...

Ini sedihnya keterlaluan ceritanya. Berharap banget suatu saat bisa bangkit kayak perempuan yang ditinggl itu deh :')

Endah mengatakan...

udah lama gak mampir, rasanya sepereti kembali ke rumah hehe

Anonim mengatakan...

Satu kata.
KEREN!!!!

Anonim mengatakan...

aku menelepon mu hingga puluhan kali ketika itu. Dan beberapa sms, “Tolong, angkat dulu. Sebentar saja. Biarkan aku bicara. Lima menit saja.” Lalu ada juga tentang seperti, “Tolong, sebentar saja. Kumohon.”

Anonim mengatakan...

aku menelepon mu hingga puluhan kali ketika itu. Dan beberapa sms, “Tolong, angkat dulu. Sebentar saja. Biarkan aku bicara. Lima menit saja.” Lalu ada juga tentang seperti, “Tolong, sebentar saja. Kumohon.”....yaaa aku pernah ngelakuin itu ya....tp tetap g ad respon

Anonim mengatakan...

malam minggu dadi galaw mergo iki :'v

nurul uno anisa mengatakan...

sedihnya gini amat, apalagi bagian mohon-mohon minta angkat telepon :')