Selasa, 04 September 2012

Pernah Aku Kenal




Blog Zarry, 4 September 2012, 13.07


Masih ingat ketika dulu kita masih bersama? Begitu banyak kebahagiaan di sana. 

Kita adalah sepasang, tempat di mana orang-orang yang mengenal kita menyatakan kekaguman. Aku pintar merayu, kamu pintar menyanyikan lagu. Jadi, ketika kamu marah dan tidak mau bicara, aku akan merayumu dengan membawa brownies kesukaanmu atau membelikanmu buku. Kadang-kadang, aku akan membuatkan puisi gombal dan membacakannya di depanmu. Biasanya itu sangat manjur. Karena setelah itu kamu akan kembali bermanja-manja denganku. Kalau sedang beruntung, kamu akan mengambil gitarmu dan menyanyikan lagu-lagu favoritku. 

Kamu bahagia, katamu. Sangat bahagia sampai kamu mengatakan bisa mati dalam keadaan bahagia. Aku senang mendengarnya. Itu sebelum aku tahu kebenarannya.

Setelah itu, berulang kali aku meyakinkan diri bahwa kamu adalah yang paling tepat untukku. Seseorang yang bisa membuatku bahagia. Seseorang yang mampu membuatku berlama-lama mendengar ceritamu atau bertahan dari kebawelanmu. Meski kalau boleh jujur, sebenarnya kadang aku merasa kesepian bahkan ketika kamu bersamaku. Aku tidak tahu kenapa aku dulu merasa seperti itu. Tapi itu nyata, aku tidak sedang membual. Kapan pun kita berdua, pikiranmu seperti bukan sedang di sini, di perbincangan kita ini. Kamu terlihat tertawa, tapi kadang pandanganmu sangat kosong. Bahkan sering aku harus mengulang pertanyaan karena sepertinya kamu tidak mendengar. Entah pikiranmu di mana. 

Tapi kemudian hatiku membela diri. Dia (hatiku itu) bersikeras bahwa cinta memang seperti itu, kadang menggebu-gebu, kadang berkurang ketika sedang di titik jenuh. Mungkin masa-masa seperti itu adalah titik jenuhmu. Jadi aku bersedia menunggu. Menunggu sampai perhatianmu kembali penuh untukku. 
Tapi kemudian aku menyadari bahwa itu bukan cinta. Terlihat seperti itu, seperti cinta, tapi di dalamnya menggerogoti setiap kebahagiaan yang aku punya.

Pada akhirnya (untunglah), kita berdua menyadari kalau kebersamaan kita hanyalah guyonan belaka. Terlalu main-main untuk disebut sebagai cinta. Ini tidak masuk akal. Kita terlalu sering bertengkar dan kamu terlalu sering melakukan kesalahan. Sampai-sampai aku harus selalu mengatakan apa yang harus kamu lakukan dan apa yang tidak. Aku seperti bapak yang harus mendidik anak kecil agar perbuatannya benar, atau seperti guru yang mengajari muridnya tentang kebiasaan-kebiasaan baik yang harus dilakukan.

Untunglah kita bubar. Aku rasa itu adalah keputusan paling benar yang pernah kita berdua ambil selama ini. 

Kamu kemudian bilang bahwa meski sudah tidak lagi bersama, kita masih bisa berteman. Klise. Seperti yang selalu semua orang bilang ketika sebuah hubungan mengalami bubar. Ya, setidaknya memang harus seperti itu. Masih berteman. Mari kita nikmati keklisean ini.

Well, untuk kamu tahu saja, aku lega semuanya berakhir. Akhirnya.

Tapi, kalau boleh bertanya, seharusnya kamu tidak harus menyingkirkanku sedemikian kasar, bukan? Memperlakukanku seperti orang asing seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun di antara kita? Mencatat semua nomor telepon temanmu, lalu mengganti nomormu agar aku tidak bisa menghubungimu? Itu keterlaluan. Kamu menganggap aku apa? 

Tapi tidak apa-apa. Lagipula aku sudah tidak terlalu membutuhkan nomormu. Aku sudah melepaskanmu. Aku hanya berpikir kenapa harus berpura-pura? Dan di bagian mana bukti ucapanmu bahwa kita bisa saja tetap berteman sedang aku saja kamu asingkan? 

Ah, sudahlah. Lagipula aku tidak mengharap cintamu lagi. Aku sudah melepaskanmu (aku mengulang kata ini lagi ya?), mengikhlaskanmu. Tidak mau mengingat lagi. Terserah kamu mau melakukan apa saja.

Sekarang, biar kamu hanya menjadi seseorang yang dulu pernah aku kenal.

*****

Blog Rahne, 4 September 2012, 14.17


Iya, dulu aku bahagia. Tapi tidak lagi. 

Kamu manis sekali pada awalnya. Entah kenapa beberapa waktu kemudian, kamu tidak lagi menjadi orang yang sama. 

Apakah seperti itu ketika orang ingin mendapatkan? Bersikap manis dan selalu membuatku tertawa? Tapi setelah mendapatkan, mengira bahwa apa yang sudah digenggam, bisa digenggam selamanya jadi tidak harus berusaha mempertahankan? 

Kalau menurutmu seperti itu, kamu salah. Sesuatu yang sudah digenggam, harus dipertahankan. Harus dijaga kebahagiaannya jadi dia tidak merasa digenggam. Merasa nyaman meski dimiliki. Merasa senang meski tidak sebebas dulu lagi.

Dan lihat seberapa sering sebenarnya kamu mengacaukan hidupku. Tapi kamu berhasil meyakinkanku dan semua orang di sekitar kita seolah-olah semuanya adalah salahku. Lalu, kamu menjadikannya sebagai alasan agar aku harus menuruti apa katamu. Bahagia katamu? Dengan menjadi seseorang yang bukan diriku dan menuruti semua katamu? Ada orang yang bahagia seperti itu? Dikendalikan, untuk menjadi orang seperti yang kamu harapkan, tapi bukan yang aku harapkan? Bisa seseorang bahagia seperti itu?

Tapi aku tidak mau lagi hidup seperti itu. Melakukan, mempercayai, dan menerima apa pun yang kamu katakan. Aku harus berhenti. Aku punya kebahagiaanku sendiri. Cinta adalah bahagia berdua, bukan salah satu orang harus mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan yang lainnya.

Lagipula, lihat yang kamu lakukan. Bahkan setelah kita tidak bersama pun, kamu masih sempat melakukan propaganda kepada semua orang bahwa aku, seseorang yang (katamu) pernah kamu kenal, adalah yang bersalah dan kamu bisa memaafkannya. Kamu sudah melepaskan semua kesalahanku. Bersikap seolah-olah kamu malaikat dan aku meninggalkanmu dengan sebegitu kasarnya. Membuatku terlihat sebagai orang yang tidak punya perasaan sama sekali. Can't you see now why i leave you?

Oya, kamu bilang bahwa kamu sudah melepaskan dan mengikhlaskan semuanya. Tidak mau mengingat lagi dan terserah aku mau melakukan apa. Lalu yang kamu tulis itu apa? 

Kamu hanya berpura-pura melepaskannya.

Baca kembali tulisanmu. Dan bertanya kepada dirimu sendiri, “Melepaskan dari mana jika kamu masih mengungkit hal lama?!”















_____
Inspired by Gotye - Someone That I Used to Know

5 komentar:

Hana Ester mengatakan...

Kereeennnn kaka :)

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

udah balikan lagi aja :)

Uchank mengatakan...

Kolaborasi yang ciamik :)

Namarappuccino mengatakan...

@Hana: terima kasih.

@Mbak Lidya: hehehe. seoga mereka kembali

@Uchank: :)

outbound Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.