Selasa, 13 November 2012

Anna


Dia gadis bodoh. Selalu bercerita tentang lelaki yang melukainya berkali-kali sambil menangis, tapi berulang kali juga dia terus memaafkannya. Bagiku itu bodoh. Baginya, dia bilang, itu namanya jatuh cinta. Lalu dia mengomeliku tentang, "Tahu apa kamu tentang cinta? Nanti kalau kamu benar-benar jatuh cinta, baru kamu bisa merasakannya." Aku diam saja. Ya, mungkin dia benar.

Dia gadis bodoh. Lelakinya tidak pernah mau mengenalkan dia kepada teman-temannya. Bagiku, jika memang jatuh cinta dan berpasangan, kenapa harus disembunyikan? Berarti sudah terlihat tentang niat kecurangan atau ketidakseriusan. Sementara baginya, dia bilang, nanti pasti ada waktunya. Hanya masalah waktu saja. Aku diam saja. Ya, mungkin dia benar.


Aku kembali menganggapnya sebagai gadis bodoh. Sudah berulang kali lelakinya berjalan dengan gadis lain. Sudah berulang kali pula di hpnya ada sms-sms mesra gadis-gadis itu. Tapi gadis itu menganggapnya sebagai kewajaran karena selama hati dan tubuh lelaki itu masih bersama dia, tidak mengapa. Lelakinya flamboyan, banyak gadis yang menyukainya. Jadi, itu wajar. Begitu alasan yang dikemukakan gadis bodoh itu. Bagiku, itu tanda dari Tuhan bahwa lelaki itu tidak pantas dijadikan masa depan. Bagi dia, untuk berubah membutuhkan waktu dan kadang cukup panjang. Jadi dia akan memberikan waktu untuk lelakinya itu. Aku diam saja. Ya, mungkin dia benar.

Dia--gadis itu, lagi-lagi berbuat bodoh. Lelakinya sengaja membuat keadaan menjadi rumit dan pahit agar si gadis memutuskannya. Jadi, seolah-olah gadis itu yang bersalah karena memutuskan hubungan mereka. Sementara lelaki itu akan bisa segera kembali berpetualang dengan hubungan lain tanpa merasa bersalah karena bukan dia yang memutuskan gadis itu. Bagiku, gadis itu mungkin tahu bahwa lelaki itu tidak lagi mencintainya, tapi gadis itu terlalu takut untuk kehilangan. Bagi gadis itu, siapa tahu hubungannya masih bisa dipertahankan? Aku diam saja. Ya, mungkin dia benar.

Pada akhirnya, gadis itu terluka. Sangat. Jatuh dengan pertahanannya yang terakhir (kalau dia memang masih memiliki pertahanan terakhir). Lelaki itu benar-benar meninggalkannya bersama gadis lain.

Gadis itu menangis, meraung, meratap. Kesedihannya berlipat karena dia terlalu sering menunda untuk keluar dari situasi cinta yang tidak seimbang. Gadis itu mencintainya, lelaki itu bosan bersamanya. Tetapi, terlalu takut kehilangan membuat gadis itu berusaha mempertahankan seseorang yang tidak ingin dipertahankan.

Sekarang, aku melihatnya menangis hampir setiap malam. Sebelumnya aku sering melihatnya menangis ketika bercerita tentang lelaki itu, tetapi tidak pernah separah ini. Dia tidak bisa berhenti bercerita dan aku tidak bisa berhenti mendengar. Aku akan mendengar isaknya dan dia akan memberiku pelukannya. Sepertinya menjadi sebuah pertukaran yang adil. Aku suka pelukannya meski aku terluka oleh tangisannya.

Lalu entah kekuatan dari mana, gadis bodoh itu bangkit. Pelan. Merangkak meski kadang masih tertahan. Kata dia, ada seseorang yang mengatakan kepadanya,
"Jangan khawatir, ketika sebuah kisah bahagia berakhir, kisah bahagia lain sedang menunggu untuk terlahir."

Dan gadis itu meyakininya. Jadi, dia akan bertahan dari rasa sakitnya, melepaskan semua, dan akan kembali jatuh cinta. Nanti, nanti.

Dia bukan lagi gadis bodoh sekarang. Dia sudah jauh lebih pintar. 

Sampai pada suatu ketika, di sebuah obrolan ringan kami berdua, tidak ada lagi ceritanya tentang lelaki itu. Dia sudah benar-benar melepaskan. Aku kemudian menyinggung semua kebodohannya itu di masa lalu dan bagaimana bisa dia bertahan sampai selama itu.

Gadis yang dulu bodoh itu tersenyum, membelai rambutku, lalu mengatakan,  "Sebodoh-bodohnya aku, masih lebih bodoh kamu. Menungguku bertahun-tahun untuk jatuh cinta kepadamu, padahal aku sudah mengatakan berulang kalau aku tidak akan bisa mencintaimu. Anna, berhentilah menungguku. Kalaupun aku nanti bisa jatuh cinta lagi, aku akan tetap jatuh cinta dengan lelaki, bukan denganmu."

Aku diam saja. Ya, mungkin dia benar.




12 komentar:

Mifta Chaliq mengatakan...

Tunggu tunggu, awalnya aku akan berkomentar "Hei..." karena kenal banget sama ceritanya.

Tapi begitu nyampe di dua kalimat terakhir, yang tadinya berkaca-kaca jadi terbelalak.

Anna, berhentilah menungguku --> jadi yang nunggu namanya anna? perempuan atau laki-laki?

Aaaaakkk jadi ackward gini

maryam ulfah mengatakan...

TUngGU DUlu...

Kupikir, kupikir..
Td.y...
Aduh.. Bingung..
Err.,
tp aq paham..
Kaget skali..
Ehehe..
Tp keren...
:D

Uswah mengatakan...

hahahaaa... aku tau aku tau

dia = cewek

aku = anna

jeruk makan jeruk bo' ceritanya wkwk :D

Anonim mengatakan...

Terharu diawal baca, terkaget-kaget sama endingnya.
Keren bangeeeettt :')

Anonim mengatakan...

Terharu diawal baca, terkaget-kaget sama endingnya.
Keren bangeeeettt :')

dmeisella mengatakan...

ceritanya mengejutkann.. :)
padahal aku pernah mengalami seperti gadis bodoh itu .

Namarappuccino mengatakan...

@Tuta: Karena istriku yang cantik ini pernah mendengar bahwa namarappuccino tidak akan menulis cinta sejenis. Jadi, paradigma nya sudah tokoh akunya cowok. :)
Well, ini bukan tentang sejenis, sayang. Look at the end, si gadis tidak akan bisa mencintai Anna.
Dan lebih ke memberi tahu ke semua orang (terutama gadis), bahwa laki-laki serius atau tidak itu sebenarnya sudah bisa dibaca sejak awal.
"Jangan beralasan cinta dan takut kehilangan, sampai-sampai sudah tahu masa depannya akan seperti apa tapi tetap bertahan."
Hope gadis-gadis seperti itu, segera bangun dari harapannya yang berlebihan. :)

@Maryam dan @Uswah: Iya, ceritanya diubah pas terakhir kali. Even i dont knoe the end of this story until the last paragraph. I suddenly want to change the end. :)

@Dmeisella: Kalau begitu, itu sebuah pelajaran agar jangan lagi. :)

Arifiani Agustin Amalia mengatakan...

aku pernah jadi gadis bodoh itu, ini benar benar real cerita hidupku. Tapi tidak dg endingnya. Haha

septi ika lestari mengatakan...

aaakkk... akhirannya mengejutkan banget.
keren mas :)

rindu sendu mengatakan...

sekali lagi itu aku bgt kecuali endingnya... rasanya aku mau cerita pengalaman hidupku biar bisa ditulis kk. pasti tulisannya ok!

Rachma I. Lestari mengatakan...

Nice ending! :3

Dila mengatakan...

udah obrak-abrik blog ini. tapi cuma cerita ini yang bisa melempar ke kanan kemudian kekiri. menjengkelkan.

hahahhahahaha