Rabu, 21 November 2012

Polaris*


Kadang aku merasa bahwa aku sedang bermimpi ketika melihat dia terlelap di sini. Lalu aku akan menikmati waktuku dengan memperhatikan setiap detail mukanya saat dia sedang tidur. Jangan tanya kenapa, karena aku bahagia melakukan dan merasakannya. Itu saja.


Kalau ada yang bertemu dengan dia, dia akan selalu bilang kalau dia beruntung mendapatkanku. Aku bilang, aku yang beruntung. Aku tahu itu.


Dan kalau ada yang bertanya apakah aku sebahagia ini karena dia adalah lelaki yang selalu aku impikan? Aku akan menjawab tidak. Sama sekali tidak. Dia jauh dari tipe yang selalu kuceritakan kepada semua orang tentang lelaki seperti apa yang ingin aku nikahi. Jangan salah, dia tidak buruk rupa atau pendek. Dia tetap menarik dan mengagumkan. Hanya saja, bukan seperti dia yang selalu aku bayangkan untuk menjadi suamiku. Masih banyak kekurangan.

Tetapi, meski dia bukan mimpiku, dia adalah kenyataanku, yang sekarang sedang aku lihat muka polosnya saat tertidur. Dan kenyataan selalu lebih berarti daripada impian yang tidak terjadi, bukan?

Dia datang entah dari mana munculnya dan entah kebetulan atau tidak, waktunya tepat pada saat aku terluka. Mungkin ini konspirasi semesta yang seperti kata Rhonda Byrne, "Semesta akan menjawab apa yang kita minta". Dalam bahasaku, Tuhan akan menjawab apa yang dibutuhkan oleh kita, meski kita tak pernah mengucapkannya dalam doa.  Jadi, mungkin karena itu dia datang tepat pada saat aku terluka.

Aku kehilangan seseorang yang aku cintai ketika itu. Jika ada yang pernah mengalami setiap malam menangisi sebuah kehilangan sampai dadanya sesak, ya, aku seperti itu. Dulu. Setiap malam. Aku terlalu jatuh cinta untuk melepaskan. Terlalu buta untuk menyadari bahwa aku sedang meratapi seseorang yang tidak lagi peduli. Jadi, pada akhirnya aku menyiksa diriku sendiri setiap hari tanpa aku sadari dengan meratapi seseorang yang memang sudah lama merencanakan untuk pergi.

Lalu dia datang dan menuntunku. Dia menunjukkan jalan, bahwa bahagia tidak hanya berada di tempat yang kita suka. Kita tidak pernah tahu ada bahagia di tempat lain jika kita tidak pernah berusaha ke sana. Dan dia benar-benar mengajakku ke sana. Ke bahagia, suatu tempat yang dulu aku mengira bahwa hanya ada satu tempat seperti itu di dunia, ... di masa laluku.

"Bahagia bukanlah tempatnya, bahagia adalah perasaan kita," katanya.


Kalau ada yang mengira bahwa dia pasti berhasil membuatku bahagia karena mungkin sering membuatku tertawa, mereka salah. Dia jarang membuatku tertawa. Atau kalau ada yang mengira dia membelikan aku segalanya, mereka juga salah. Dia bukan orang kaya.

Aku bahagia, karena dia mencintaiku. Itu saja. Kenapa orang harus selalu membutuhkan alasan lainnya? Kenapa tidak cukup jatuh cinta dan bahagia saja?


Dan yang membuatku semakin jatuh cinta adalah karena pada suatu hari, dalam cintaku yang membuncah ke mana-mana kepadanya, aku bertanya dengan kemanjaan yang belum pernah aku lakukan pada lelaki mana pun sebelumnya, "Apakah kita akan selalu seperti ini? Saling jatuh cinta setiap hari dan tidak pernah bertengkar?"

Dia menjawab, "Aku tidak bisa menjanjikan itu. Suatu hari nanti, akan ada masa dimana kita bertengkar. Pasti. Tidak ada satu pun orang dan pasangan di dunia ini yang tidak memiliki masalah untuk dipertengkarkan. Tapi aku bisa menjanjikan ini, bahwa kita akan melaluinya, dan jatuh cinta kembali pada akhirnya."

Jawaban itu sudah cukup. Kalau pun bertengkar, akan "Jatuh cinta kembali pada akhirnya." Itu cukup. Sangat cukup. Dia tidak menjanjikan aku kebahagiaan setiap hari, dia menjanjikanku untuk apa pun yang terjadi, kami berdua akan jatuh cinta kembali.

Tetapi jika semua itu belum cukup bagi orang untuk memuaskan jawaban kenapa aku bahagia dengannya, mungkin aku akan menjawab ini, "Karena menurutku dia adalah Polarisku. Mau apa pun, dalam keadaan apa pun, dia akan selalu ada di sana. Seperti Polaris yang akan selalu berada di utara. Seperti ketika dia menemaniku saat aku dalam keadaan paling terluka. Dia Polarisku. Bintang paling terang kapan pun aku membutuhkan jalan keluar. Seperti ketika dia datang pada suatu saat ketika aku mengira tidak akan bisa lagi berbahagia, lalu dia dengan sikapnya seperti berkata, 'Kemarikan tanganmu. Biar aku yang menjaga bahagiamu'."

Look at him. The one that sleep like a Teddy. The one that made me smile with happily tears few monts ago, and say, "I do. I do."




____

*
Polaris (disebut juga sebagai Bintang Utara) adalah bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Meskipun bumi berputar selama 24 jam sehari, Polaris akan selalu ada di tempatnya, karena Polaris berada dekat dengan sumbu bumi. Ia berada nyaris persis di pusat putaran yaitu kutub utara. Oleh karena itu, di India, Polaris disebut dengan Dhuva.
Karena letaknya itu juga, Polaris dianggap oleh nelayan sebagai pusat navigasi. Jika kita ada di Kutub Utara, Polaris akan berada di atas kepala. Jika kita ada di katulistiwa, Polaris akan berada di dekat cakrawala.
Polaris selalu di tempat yang sama sebagaimana bintang lainnya. Tapi dia menjadi istimewa karena cahayanya yang terang dan bisa menjadi rujukan navigasi. Jika tersesat, carilah Polaris bagian dari rasi bintang yang berbentuk beruang. Jika menemukannya, itu adalah Polaris. Itu adalah arah utara.




5 komentar:

Anonim mengatakan...

Bagus kak, :)

Mifta Chaliq mengatakan...

Mas...thank you sudah menuliskannya dengan baik sekali. ceritaku yang bahkan belum pernah aku ceritakan ke kamu :')

Thank you my polaris

Lain kali jangan masuk masuk ke kepalaku dan curi-curi isi kepalaku ya :D

septi ika lestari mengatakan...

hm... mas Ara sih udah nemu polarisnya.. *uhuk
aku juga mau cari ah :p

wilda yusnita mengatakan...

mas erick..this is amaze banget.. :)

Anonim mengatakan...

halooo kawan, cerita itu mirip dgn kisah wanita q yg sangat q sayangi.