Tahukah kamu, menurutku, kamu cantik sekali mengenakan kacamata itu. Dengan terusan hitam, tas hitam dan perpaduan kulit putihmu itu, sempurna sekali. Seperti itulah yang selalu aku suka darimu. Semua yang kamu kenakan saat ini adalah yang selalu aku bilang kalau kamu cantik sekali mengenakannya.
Masalahnya menjadi beda. Sesuka apa pun aku melihatmu saat ini, tetap membuatku nyeri. Kamu melakukannya, … lagi. Ini untuk ketiga kalinya.
Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya diam memandangimu dari kejauhan. Sesekali menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. Sesekali lain, aku menengadahkan kepalaku memandangi langit-langit lobi hotel yang meski menarik, tidak pernah bisa membuat fokus perhatianku di situ. Ya. Pikiranku ke mana-mana. Terutama ke arahmu dan lelaki berkemeja putih itu. Tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Aku penasaran, tapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak mau membuat keributan. Jadi, di sinilah aku. Duduk di dekat pot-pot tanaman besar sambil meminum kopiku. Aku suka kopi, tapi kali ini rasanya tetap pahit sekali.