Kamis, 24 Januari 2013

Aku menulis ini untukmu


Aku menulis ini untukmu. Untuk semua tawa yang sudah kamu buat dan untuk ingatanku yang sudah kamu ikat.

Aku tidak menyesali semuanya meski pada akhirnya kita tidak bisa bersama. Kamu sudah pernah membuatku tertawa, itu sangat cukup, lebih dari cukup. Dan aku juga menikmati setiap perbincangan kita, menikmati proses menunggu pagi setiap hari agar selalu bisa berbincang denganmu lagi, menikmati ceplas-ceplosnya kamu, menikmati komentar kamu tentang berbagai hal di depanmu. Kita pernah memiliki waktu yang sangat menyenangkan berdua, bersama.

Aku menulis ini untukmu. Untuk semua perbincangan kita yang bisa aku ingat dan untuk perpisahan kita yang pernah membuat matamu sembab.


Aku masih akan menyimpanmu di bergiga-giga byte memori di kepalaku. Suatu saat mungkin akan tertumpuk dengan memori baru tentang orang lain, bahagia lain, atau peristiwa lain. Tapi memori itu di sana, tetap di sana, karena aku tidak pernah menghapusnya. Dan mungkin akan muncul begitu saja seperti sudah diciptakan secara otomatis ketika mendengar lagu kita berdua atau film yang pernah kita tonton. Tapi kenangan hanya kenangan, bukan? Tidak pernah menjadi masa depan.


Aku menulis ini untukmu. Untuk semua kalimat yang pernah atau belum aku ucapkan dan untuk perpisahan kita meski kita tidak pernah menginginkannya.

Karena kalau Tuhan berkata tidak, seberapapun jatuh cintanya kita berdua, Tuhan akan memisahkannya. Jadi, ini. Kita harus menerimanya. Seberapapun pahitnya.

Suatu hari nanti, kalau Tuhan berkenan, mungkin kita akan dipertemukan lagi bersama kebahagiaan kita sendiri-sendiri. Mungkin itu cara Tuhan mengajarkan kepada kita, bahwa kebahagiaan itu bukan satu jalan, bukan satu orang, tapi ada banyak jalan, dan ada banyak orang yang memiliki kesempatan yang sama untuk membuat kita berbahagia.

Bahagia selalu datang tepat waktu. Mungkin kitanya yang selalu terburu-buru mengartikan kalau bahagianya sudah datang, sementara menurut Tuhan belum. Hanya sebuah batu loncatan untuk belajar membina hubungan, sebelum orang yang benar-benar diciptakan untuk kita, didatangkan.


3 komentar:

ditya isandrini mengatakan...

wah.. so sweet deh :')
terharu jadinya

Anonim mengatakan...

1 Paragraf terkhir suka banget kata2nya :)

Maharanisyah mengatakan...

Like this...
Jempol deh untuk penulisnya, bisa membawa pembaca untuk larut dalam kegalauan saat membacanya >.<
*nangis