Senin, 21 Januari 2013

Orang Ini


Orang yang pernah menjadi yang paling aku sayang, sedang di depanku sekarang.

Dia masih menggenggam cangkir teh hangatnya dengan dua tangan, mengangkatnya, menghirup aromanya sebentar, baru meminumnya. Sesuprut demi sesuprut. Dia selalu melakukan itu, menikmati teh hangat pelan-pelan. Kebiasaannya yang tidak pernah bisa aku lupa.

Dia juga masih memiliki keceriaan yang akan membuatku ikut ceria. Selalu tertarik dengan hal-hal kecil dan menjelaskannya dengan semangat. "Lihat! Ada kupu-kupu!", "Lihat itu! Ada ColdPlay di tv!". Atau kemudian menceritakan lagu yang baru didengarnya dan menyanyikannya pelan sambil tersenyum dan memejamkan matanya. Aku menikmati suaranya, apalagi senyumnya ketika dia memejamkan mata. Aku tidak pernah bisa melupakan bagaimana dia bisa melakukan semuanya, menarik perhatianku tanpa harus dia sengaja.


Kalau bisa, aku ingin mendekapnya sekarang. Erat, agar dia jangan pergi-pergi lagi. Kalau bisa, aku akan mengajaknya lari sejauh-jauhnya, setinggi-tingginya agar tidak ada yang bisa mengambilnya dariku lagi.


Tapi, logikaku mengatakan lain. Jadi, aku melepaskannya. Melepaskan setiap kenangan yang mencengkeram erat di kepala. Mengatakan kepada diriku sendiri, "Dia bukan milikmu. Hatinya tidak pernah menjadi milikmu. Berhenti membodohi kepalamu sendiri dengan harapan-harapan yang dikatakan hatimu tentang perhatian-perhatiannya kepadamu."

Dan di waktu jeda ini, aku memandanginya berlama-lama. Siapa tahu aku nanti tidak akan bisa lagi mendapatkan kesempatan yang sama. Melihat pinggiran rambutnya yang bergerak pelan ketika pintu kafe dibuka atau ditutup kembali. Melihat dia memainkan hpnya dengan tersenyum-senyum sendiri. Melihat dia menatap mataku dengan cepat, tersenyum, sambil masih menggenggam hpnya. 

"Eh, Edo sudah sms, katanya sudah menunggu di depan. Makasih ya sudah menemaniku sambil menunggunya. Jangan lupa, mampir ke rumah kami. Tapi maaf kalau masih berantakan. Maklum, penganti baru," katanya masih dengan keceriaan yang aku tidak pernah bisa lupa.

Aku mengiyakan.

Setelah bersalaman, aku mengacak rambutnya pelan seperti kebiasaanku kepadanya kalau dia mau pergi. Hanya saja kali ini, terasa beda. Aku bukan mengacak, karena sentuhanku lebih lembut, lebih pelan, lebih berhati-hati. Lalu berkata dalam hati, "Damn! Aku sayang sekali pada orang ini."


9 komentar:

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

teh hangatnya tawar atau manis? kalau manis berati bukan aku :)

Joni Arifin mengatakan...

damn.....:(

Anonim mengatakan...

Kisah yg sama :(

ditya isandrini mengatakan...

nyesek bgt deh.. :(

Kartika Rachmada mengatakan...

Baiklah ini nyesek :(

eka mengatakan...

Sedih banget :(

Anonim mengatakan...

kentang

Fikri Maulana mengatakan...

Baru saja mengalami momen ini dalam versiku, tapi kini rasanya telah berbeda antara aku dan dia.

Ayu Octavia mengatakan...

:')