Rabu, 16 Januari 2013

Seharusnya


Seharusnya, aku bisa menemanimu sekarang. Menjaga bahagiamu, menerima bagian kesedihanmu untuk kudaur ulang menjadi hati baru.

Seharusnya, aku yang pertama kali mengucapkan selamat pagi kepadamu setiap hari dan selamat malam yang terakhir kali. Melihatmu di sampingku setiap akan dan bangun tidur. Merasa bahagia karena di tempat tidur itu ada kamu dan aku. Merasa aneh karena entah kenapa, aku tak pernah berhenti berdebar kapan pun kamu tersenyum meski kita sudah bersama bertahun-tahun.

Seharusnya, senyummu selalu menjadi satu-satunya yang aku nantikan setiap aku pulang. Menikmati teh melati hangat buatanmu yang selalu aku suka dan mungkin kalau beruntung, kamu membuatkan nasi goreng telur ceplok pedas yang selalu aku suka sekaligus satu-satunya masakan yang bisa kamu buat dengan sempurna. Lalu pada waktu malam, aku menemanimu bercerita sampai lelap menghajar mata kita.


Seharusnya, aku yang selalu mendengar omelanmu karena berantakannya meja kerjaku setiap selesai lembur di rumah. Setiap hari pun tidak apa. Lalu aku merasa jengkel karena kamu terus mengomel, tapi tersenyum karena kadang-kadang aku melakukannya dengan sengaja agar nanti, ketika kamu terus mengomel, aku bisa memelukmu dari belakang, lalu membantumu membereskannya.

Seharusnya kita bahagia. Atau bisa dibilang, aku yang akan menjadi paling bahagia di antara kita berdua.

Seharusnya...

Sayangnya, aku tidak pernah berani mengatakan apa-apa kepadamu sejak dulu. Memendam pertanyaan, "Aku mencintaimu, apakah kamu juga merasakan yang sama seperti aku?" karena selalu ketakutan dengan jawabannya. Karena kalau risiko dari mengatakan 'mencintaimu' adalah kamu menjauh, itu terlalu mahal. Lupakan.

Jadi, jatuh cintanya sudah, mengatakannya yang tidak pernah.

Sampai kemarin, teman kita membuka rahasia, semuanya. Kamu sering berbagi cerita dengan dia, ya? Aku baru tahu. Dia bercerita how excited you are when you're talking about me. Dia bercerita kamu hafal detil kebiasaan-kebiasaanku. Dia bercerita kamu selalu mencariku di social media, membaca kata demi kata yang kutulis di sana lalu menceritakannya kepada dia. Dia bercerita kamu sering berandai-andai, how lucky the girl that loved by me. Lalu kamu berbisik pelan melanjutkan, "I wish that girl will be me."

Dia bilang kamu selalu menyangkalnya setelah itu.


...


Aku beritahu satu rahasia, sebenarnya, aku selalu tetap berusaha mengatakannya, tapi kemudian menundanya lagi dan lagi. Berkata kepada diriku sendiri untuk mengungkapkannya lain kali. Lain kali kalau sudah siap, lain kali kalau kesempatannya benar-benar matang, lain kali kalau aku sudah yakin kamu juga memiliki perasaan sama denganku, dan lain kali-lain kali lainnya.

Sayangnya, sekarang tidak akan pernah ada 'lain kali' lagi. Kamu sudah menikah beberapa bulan lalu yang aku bahkan datang juga ke pernikahan itu. Patah hati tentu saja, tapi sejak awal aku sudah bisa menerima kalau kita tidak akan bersama karena selalu mengira bahwa kamu tidak memiliki perasaan yang sama. Sampai kemudian teman kita itu membuka semua rahasia yang sepertinya akan membuatku menyesal selamanya.

Kata teman kita itu, keputusan itu kamu lakukan karena sudah terlalu lelah menunggu.

Aku baru tahu, untuk mendapatkan yang dicintai, juga butuh nyali.




3 komentar:

kira mengatakan...

baru ngalamin ini beberapa hari yg lalu mas...ngikhlaskannya juga berat. tapi mo gimana lagi, mungkin ada benarnya kalo kita harus membagi bahagia kita dgn orang lain. bukan dia...

Hana Ester mengatakan...

Tunjukkan nyalimu kak, hehehe..

ditya isandrini mengatakan...

wahh.. keren kak tulisannya :)