Selasa, 08 Januari 2013

Suatu Sore Bersama Kamu, Ceritamu, dan Tawa Lepasku




Kamu masih cantik seperti dulu. Lihat, bahkan cara kamu berjalan dan tersenyum pun masih juga seperti dulu. Iya, yang dulu pernah menjadi alasanku mencintaimu. Bedanya, tentu saja kamu terlihat lebih dewasa sekarang. Tapi masih menarik, masih bisa membuat mataku sesekali sembunyi-sembunyi melirik.

Kita bersalaman dengan canggung dan saling tersenyum, lalu duduk berhadapan.

"Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" tanyamu.

"Lama. Terlalu lama." Aku tersenyum. Semoga kamu tidak melihat kalau aku sempat menatapmu sepersekian detik, lalu mengalihkannya ke cangkir kopi di depanku. Tidak ada alasan apa pun, kecuali aku harus menghindari bertatapan mata denganmu agar kamu tidak mengenali kegugupanku.


Lalu diam. Untung saja aku diselamatkan oleh pramuniaga yang membawakan menu. Hot Chocolate, pesananmu dari dulu tidak berubah, masih sama. Sedangkan aku memesan kopi hitam dengan dua gula batu. Kamu tersenyum, melirikku sekilas, seolah mau mengatakan, “Minuman kesukaanmu ternyata belum berubah.” Aku membalas senyumanmu. 

Untuk satu detikan, mata kita saling beradu. Tapi aku kalah. Menunduk dan kembali melihat menu. Jangan terlalu sering memandangku seperti itu.

“Kamu tidak banyak berubah. Kecuali potongan rambutmu.” Kamu setengah tertawa mengatakannya setelah pramuniaga tadi pergi. “Tapi dari dulu memang rambutmu selalu berubah-ubah.” Kamu tersenyum, aku memaksakan diri menatapmu dan ikut tertawa kecil. 

Ah, kamu masih secantik dulu. Seperti ketika kita selalu melewatkan waktu berbagi cerita di mana saja. 

“Gak juga ah. Ini potongan rambut yang sama dari setahun lalu.” balasku sambil tersenyum lebar. Melirikmu sekilas yang masih menatapku, tapi lalu aku mengalihkan pandanganku ke beberapa poster-poster di dinding kafe itu. Walau sekilas, cukup untuk merekam semua tentangmu. Rambutmu lebih panjang. Wajahmu masih bersih dan masih nyaris tanpa make up. Itu juga yang aku sukai sejak dulu. 

Aku merasa kamu menatapku lekat lalu menghela napas panjang. Ada sesuatu di sana, entah apa. Aku sudah berulang kali mencoba membacanya, tapi gagal. Seperti ada rahasia di balik napas panjangmu, bukankah semua orang seperti itu? Ketika menghela napas panjang, ada yang ingin disampaikan tapi tertahan?

Aku sibuk mencari bahan untuk berbicara lagi. Mungkin kamu juga. Karena aku merasa jeda diam kita sudah terlalu lama. 

“Ada urusan apa kamu ke sini?” Aku akhirnya menemukan bahan pembicaraan denganmu. Tapi lalu menyesalinya. Pertanyaan bodoh. Kamu sudah menjelaskan di SMS beberapa hari lalu.

Kamu tersenyum, dadaku ikut tersenyum. “Biasa. Liburan. Mumpung ada cuti bersama.” 

Kamu menjelaskannya tanpa ada penekanan pada suaramu. Aku lega kamu memahami pertanyaan bodohku.

“Kamu apa kabar sekarang?” Kamu bertanya kembali. “You look skinny.”

Aku tertawa. “And you look …

What?! Fat!?” Kamu menatap tajam ke arahku.

Aku tertawa lepas. Baiklah, sudah mencair suasananya. Aku lega. Kamu cemberut melihat tawaku. Ah, cemberutmu pun masih secantik dulu.

I’m not finish yet.” Tawaku mulai mereda. “You’re never look too fat for me.” Kita berdua diam setelah itu. Tapi lalu aku sadar dengan yang baru saja terjadi. Aku mengucapkan sesuatu yang bodoh lagi! Apa barusan yang kuucapkan? Rayuan?

Aku melirikmu dan berdoa semoga kata-kataku tadi tidak merusak suasana. Kamu tersenyum, tapi tidak ke arahku, melainkan ke pramuniaga yang datang membawa pesanan kita. Tapi aku juga melihat pipi memerahmu. Iya, sejelas aku melihat pramuniaga yang kamu lihat itu. Aku tersenyum. Merasa hangat di dadaku.

Lumayan ada waktu jeda untuk berpikir apa lagi yang harus aku tanya. Aku mengaduk kopi, kamu mengaduk hot chocolate-mu.

“Hei, kamu belum jawab pertanyaanku.” Kamu melirikku tajam. Selalu seperti itu dari dulu. Itu cara bercandamu ketika mengingatkan sesuatu. Dulu, biasanya aku akan mengacak-acak rambutmu setelah itu. Itu dulu.

“Aku baik. Selalu sebaik yang diinginkan dan dipikirkan. …”

“Ya, ya, ya aku tahu. Karena keadaan seseorang selalu sesuai dengan yang diinginkan dan dipikirkan,” kamu menggerakkan tangan kananmu yang masih menggenggam sendok ke kanan kiri sambil mencontohkan. Aku tertawa saja. “I know that, the philosopher man.” Kamu melirik tajam sambil cemberut lagi. Dan aku tertawa lebih lebar lagi. The philosopher man, dulu kamu sering menyebutku dengan itu.

“Kamu gak pernah bosan apa, berfilosofi mulu sejak dulu.” Baiklah. Ini momen saat kamu akan meracau panjang lebar dan aku mendengarkan dengan dada penuh kehangatan. Ya. Persis seperti dulu. “Enjoy your life! Go out and have fun. Tertawa, bercanda, bla-bla-bla. Tidak bersama dengan buku-bukumu yang tebalnya selalu lebih dari 200 halaman itu atau berkutat dengan komputermu. …”

Aku masih mendengarkan. Aku masih tersenyum. Aku masih berusaha merekam momen ini, setiap detiknya saat kamu masih berbicara panjang lebar. Syukurlah. Kali ini aku bisa memandangmu lebih lama. Teruslah berbicara, biar aku mendengarnya, biar aku merekamnya.

“Hei!” Kamu melirikku tajam sambil tersenyum lagi. “Im talking to you!”

Aku tertawa. “Iya. Aku dengarkan juga kok. To me, everything I did is fun.”

“Dia pikir aku penyiar apa? Aku berbicara dan dia diam mendengar… lalu menjawabnya selalu singkat!” Kamu mulai mengomel kecil sambil mengaduk cangkirmu. Aku terbahak. Ah, kebiasaanmu masih banyak yang belum berubah.

Aku meminum kopiku pelan.

“Aku membaca novel terbarumu,” katamu. Masih sambil mengaduk cangkir yang pasti sebenarnya gulanya juga sudah larut dari tadi. 

“Dan?”

“Oh, GOD! Bisa tolong makhluk satu ini dibuat ngomongnya jangan singkat-singkat?” katamu. Lalu mengangkat kedua tanganmu seolah berdoa. Mulutmu komat-kamit. Aku tertawa. Lepas. Belum pernah tawaku selepas ini lagi. Apakah barusan ada kata ‘lagi’?

“Hei! Ini abad dua satu tau! You have to change!” katamu.

Aku menenangkan tawaku. Lalu diam, dan mengaduk kopiku. Tentu saja alasannya sama seperti dia mengaduk cangkirnya, ini juga basa-basi. Mencari kesibukan saja.

“Aku mengenali tokoh perempuan di novelmu itu,” katamu kemudian sambil memegangi cangkirmu dengan dua tangan.

Aku berhenti mengaduk. Terkejut. Dia tahu.

“Rambut panjangnya, kulit putihnya, kelucuan dan kekanakannya, kecerewetannya, semuanya.” Kamu tersenyum, lalu menatapku.

Aku berpura-pura mengaduk kopiku lagi. Seharusnya aku menuruti kata hatiku dulu agar tidak semirip itu. Aku kira kamu tidak akan mengetahuinya. Setahuku kamu tidak pernah suka fiksi. Aku memang selalu mengirimimu bukuku dari yang pertama sampai yang keempat ini. Tapi setahuku kamu tidak akan membacanya. 

“Kalau kamu mengira aku tidak pernah membaca bukumu, kamu salah.” Kamu mengatakannya tanpa beban seolah bisa membaca pikiranku. Aku masih diam. Jangan sembarangan membaca pikiranku lagi.

“Setidak sukanya aku membaca fiksi, aku selalu membaca karyamu. Dan kamu selalu memasukkan diri kamu sendiri dari buku pertama sampai keempat. Entah menjadi figuran, atau sekadar, memasukkan sifatmu sebagai salah satu tokohnya. Dan yang terakhir ini, kamu kentara sekali.”

Kamu masih memegangi cangkirmu dengan kedua tangan, aku masih mengaduk pelan kopiku.

“Dira ini… tokoh nyata. Aku mengenalinya. Dan walaupun Raka, ciri-cirinya tidak seperti kamu, tapi perasaan cintanya adalah kamu, kepadanya. Kepada Ran. Kepada gadis itu.” Kamu tersenyum lalu menatapku. Seperti ingin tahu benar seperti apa reaksiku.

Aku berhenti mengaduk , tersenyum lalu memandangmu. Kamu tersenyum lucu, menggodaku.

“Dira adalah Ran. Ya kan?” kamu masih menggodaku.

 .....


------
(Sampai di sini, sedang blank. Tapi alurnya sudah ada. Nanti mungkin dilanjutkan lagi. Tapi kalau ada yang mau menebak jalan ceritanya seperti apa, dengan senang hati saya akan mendengarkan.)




4 komentar:

uTit MarcUtit mengatakan...

ditunggu lanjutannya ka... ^_^

septi ika lestari mengatakan...

aaaaak penasaraaan.
mas Ara kan kalo bikin suka jarang ketebak :/
ayok lekas lanjutin maaas :D

Namarappuccino mengatakan...

@Utit: Iya dek. :)

@Septi: Itu karena seringnya di tengah nulis kepikiran beda. Jadi, malah saya sendiri gak tahu akhirnya gimana. Yang ini sih sudah, tapi gak tahu kalau nanti juga berubah pikiran. :) Semoga masih enak dibaca ya dek. :)

maryam ulfah mengatakan...

Apa ini..? Mas erik bkin penasaran aja..
T.T