Senin, 21 Januari 2013

What If?

To: wardaniema@gmail.com
subject:


Yap, beneran. Sekarang tinggal bagaimana caranya ngomong ke romo.

Kemarin sih romo nanya baju ijab dan resepsinya sudah apa belum, aku bingung, Em. Ya sudah aku jawab saja belum.

Aku belum siap ngomong sama romo, Em. Nanti saja ya. Aku rancang dulu saja cara ngomongnya.

Dipikir-pikir kamu bener juga sih, Em. Masih mending Dira ngebatalinnya sekarang, kalau tinggal sebulan lagi pasti katering sudah pesan, baju sudah siap, undangan sudah nyebar. Kalau sekarang yang tahu sih masih orang-orang dekat saja. Masih memalukan, tapi mungkin gak sebesar kalau sebulan sebelum acara kemudian batal. Iya, mungkin karena Allah masih sayang aku, ya, Em.

Eh, tapi aku tetep marah sama Dira. Gadis bodoh dan egois. Kekanak-kanakan dan gak bertanggung jawab.


Tapi kalau sama papa mamanya, tenang aja. Aku masih tahu unggah ungguh kok. Isih ngajeni wong tuwo. Yang salah kan anaknya. Bukan orangtuanya. Tapi aku belum tahu apa papa mama Dira sudah tahu tentang hal ini atau belum. Atau aku sowan ke tempat mereka ya, Em? Being gentleman, gitu. 

Iya, aku lihat di tv banjirnya parah. Meski belum pernah ke kantormu, aku ingat kalau kantormu dekat Thamrin. Tapi syukurlah, kalau kamu gak apa-apa.

Yaelah, Em. Tahu kok hidup gak akan berakhir hanya gara-gara batal nikah, tapi malunya itu lho. Lagian umurku sudah segini, anak satu-satunya romo dan ibu lagi, teman-teman yang lain juga udah punya anak. Lha mosok aku meh nikah wae malah batal? Rak yo ra lucu, to, Em?

Sudahlah, bantuin aku cara ngomong sama romo dan ibu saja. Kalau gedungnya, nanti bisa kubatalin gak apa-apa. Baru bayar DP kok.



-----
What If Part 9

Untuk keseluruhan cerita What If dari Adit bisa dilihat dari sini dengan balasan dari Ema dari sini.

Tidak ada komentar: