Minggu, 10 Februari 2013

Menceraikanmu


Aku menyembunyikan ini darimu. Tentang perasaanku, tentang kekagumanku. Tetapi bukan padamu.

Iya, kamu sekarang yang memang sedang bersamaku. Iya, kamu yang memilihku lewat pernikahan beberapa bulan lalu. Iya, aku yang mengiyakannya. Dan iya juga, aku memang mencintaimu. Setidaknya, ada lumayan rasa itu untukmu. Tapi tidak semuanya. Tidak terlalu banyak, aku rasa. Dan aku selalu menyembunyikan semuanya darimu.

Ini tentang dia. Selalu tentang dia. Aku selalu ingat sentuhannya, perhatiannya, senyumannya.


Aku tidak pernah puas denganmu. Kamu tidak cukup. Kalau kita belum jadi suami istri, aku sudah pasti akan memutuskannya dari dulu dan pergi mengejarnya.

Dia mampu memberiku banyak hal, banyak tawa, banyak kenyamanan. Kalau kamu? Hanya bisa membuatku mengomel setiap hari tentang apa saja yang aku inginkan tapi tidak bisa kamu berikan.

Dan sampai sekarang, yang membuatku bertahan denganmu hanya pernikahan. Selebihnya, ada kekagumanku tentang dia, percakapanku pesan-pesanku dengannya di social media, buku harian elektronikku tentang dia, yang semuanya aku sembunyikan. Dia selalu membuatku nyaman. Bagi seorang perempuan, apa lagi yang bisa lebih menyenangkan?

Aku tidak curang. Tidak selingkuh. Setidaknya tidak sekarang. Aku juga tidak meniatkannya. Aku sudah merasa nyaman dengan percakapanku dengan dia, dengan bercerita tentang kekuranganmu kepadanya. Aku berbagi segalanya dengannya. Dia akan dengan senang mendengarku. Mendengar apa saja yang kuceritakan. Semua yang kucari pada sosok lelaki, ada pada dirinya.

Kita menikah terlalu cepat. Seharusnya aku bisa mendapat yang lebih baik darimu. Seharusnya, aku TETAP mengejarnya.

*****

Aku tahu apa yang kamu sembunyikan dariku. Aku selalu tahu. Aku hanya tidak mau membahasnya denganmu. Tentang lelaki itu, tentang kekagumanmu padanya, tentang harapanmu. Aku tahu.

Kamu yang tidak tahu kalau kamu sudah menjadi perempuan murahan. Sudah bersama seorang lelaki, tapi masih mengharap hati lelaki lainnya, terus memikirkannya. Aku tidak tahu, tapi kelihatannya kamu masih berkomunikasi dengan dia, sepertinya, meski tidak melalui social media. Kamu tidak sebodoh itu. Tidak akan terlalu kelihatan ke semua orang. Mungkin perbincangan kamu dengan dia hanya lewat pesan-pesan, bisa saja. 

Itu mungkin yang membuatmu masih berharap tentangnya, meski kamu sudah menikahiku. Kamu belum 'melepaskan'. Yang namanya belum melepaskan berarti masih akan tetap mengharapkan. Dan kamu belum 'menerima'ku. Yang namanya belum bisa menerima berarti tidak akan pernah bisa merasa cukup.

Kalau kamu mengira aku tidak tahu, mungkin kamu yang memang tidak tahu tentang ketahuanku.

Jadi, sekarang, cepat lakukan kesalahan dengan menjadi murahan bersamanya, jadi aku bisa punya bukti untuk menceraikanmu. 

Karena untuk apa aku hidup bersama seseorang yang mengeluhkan tentangku kepada lelaki lain? Sama saja membuka jalan untuk seseorang tahu tentang urusan keluarga kita. Untuk apa aku hidup dengan seseorang yang tidak pernah bisa menerimaku? Untuk apa aku hidup bersama seseorang yang masih mengagumi lelaki lain dan menyimpan cerita tentangnya di buku harianmu?

Aku sudah menunggu kesalahanmu itu berbulan-bulan. Karena walaupun kamu tidak niat, cepat atau lambat kamu akan melakukan kesalahan itu jika kamu tidak merasa cukup, terlalu menuntut, dan masih berpikir tentang dia dalam kehidupan sehari-harimu.

Aku tahu apa yang selalu kamu sembunyikan. Kamu yang tidak tahu kalau aku sudah tahu.
Kamu pasti akan melakukan kesalahan itu. Pada saat itulah aku bisa terbebas dari kamu yang tidak terlalu mencintaiku dan benar-benar bisa mendapat seseorang yang mampu menerimaku tanpa pernah menyimpan lelaki lain di buku hariannya.




6 komentar:

Uswah mengatakan...

waduh gawat,,, kayak cerita di pilem india yang tak liat kemaren "kabhi alvida na kehna" -______-a

Mifta Chaliq mengatakan...

this is so not namarappuccino isnt it?

Namarappuccino mengatakan...

@Uswah: hehehe gak tahu filmnya. :D

@Mifta: this and DuaHati so not namarappuccino gaya bahasanya. Sedang kadang keluar sebentar dari zona nyaman, dear. :D

Mifta Chaliq mengatakan...

good then, ohya pemilihan judulnya juga terlalu vulgar ya untuk namarappuccino? sebelum baca udah ketauan isi ceritanya. macam sinetron indonesia :p *piss & kiss*

Hana Ester mengatakan...

Jleb kak :((

Anonim mengatakan...

baguss..
Tapi kok kayak plot flm ya??
Hhe..
#Maap sok tau

Aq reader baru, salam kenal..