Kamis, 07 Februari 2013

What If?

To: wardani.ema@gmail.com
Subject: 
Hemmm. Gimana ya ngejelasinnya?

Oke. Awalnya, mungkin iya. Its all about me. To save me, to save my ass.
Tapi beberapa hari ini aku juga mikir, Em. Swear. Gak ada yang lebih baik dari kamu untuk menjadi pendampingku.
Lihat, kamu kenal aku sudah lama. Dari remaja. Kalau aku ada apa-apa tebak ceritanya selalu sama siapa? Meski kita udah jarang ketemu, kita masih komunikasi kan? Lewat telpon, email, bbm, facebook, twitter.
Kalau aku dekat dengan cewek, siapa yang pertama kali tahu? Kamu. Meski aku gak pernah ngomongin itu. Kamu selalu melihat tanda-tandanya dari facebookku atau twitterku. Kamu akan bbm nanya lagi deket sama si A ya? See? Kamu selalu tahu.
Pas aku mau usaha warung makan Moro Lenggah ini, siapa yang aku ajak konsultasi? Kamu.
Tentang Dira, siapa yang aku ajak cerita untuk melamarnya atau tidak? Kamu. Meski kamu di awal bilang dipikir dulu, jangan tergesa, aku yang tetap nekat. Aku salah. Kamu benar. Aku patah, dan berceritanya juga kepada siapa? Kamu.
Em, kamu yang selama ini paling tahu apa yang terbaik untukku dan yang bukan. Kamu, kamu, dan kamu.
Aku tidak tahu apa bagimu aku juga sama, tapi pikirkan dulu tentang apa yang aku katakan ini.
Aku akan tetap ke Jakarta, meski tanpa izinmu. Aku tungguin kamu di kos kalau perlu. Kalau sampai berhari-hari kamu menghindari aku di Jakarta, aku akan mampir ke kantormu jam makan siang. Aku gak akan ganggu kerjaan kamu. Aku janji. I just need to talk.
Beri aku kesempatan itu saja.

 ----
Balasan dari email Ema yang di sini: What If?



2 komentar:

Uswah mengatakan...

ga brani nebak jenis kelamin, takut salah lg :D

Namarappuccino mengatakan...

Kalau ini, cowok kok, dek. :)