Jumat, 05 April 2013

Sebelum Kamu Bertemu Dia


Kamu apa kabar? Sudah berbahagiakah sekarang?

Sebenarnya aku ingin mengatakan ini dengan duduk berdua bersamamu, berhadapan mata, tapi setelah aku pikir lagi, mungkin menuliskannya seperti ini juga sudah cukup.

Aku punya rahasia yang selalu aku simpan dan kamu tidak pernah mengetahuinya. Setidaknya, sampai sekarang, karena aku akan mengatakan rahasia itu sekarang kalau kamu bersedia membaca apa yang sekarang aku tuliskan.


Sebelum kamu bertemu dia, --sebagaimana yang kamu tahu--ada aku yang menemani ceritamu berlama-lama. Menikmati senyumanmu, menikmati ketika kamu mengambil sejumput ujung rambut lalu memainkannya, menikmati ketika kamu tertawa dengan matamu yang menyipit sambil menutupi mulutmu. Aku selalu bercanda kalau kamu tertawa lebih lama, aku bisa menghilang darimu karena kamu tidak bisa melihatku. Tapi kamu malah kembali tertawa sambil menepuk punggungku. Lihat, matamu menyipit lagi.

That was fun. 

Sebelum kamu bertemu dia, aku merasa kita berdua memiliki perasaan nyaman yang sama. Aku akan betah berlama-lama berada di depanmu, menerima teleponmu, atau chat di layar monitor denganmu. Aku tidak tahu dengan kamu, tapi kalau aku, aku merasakan kenyamanan versiku. Kenyamanan yang membuatku ingin bertemu lagi dan lagi denganmu.

Sebelum kamu bertemu dia, ada aku. Ada perhatian-perhatianku, ada duduk diamnya aku mendengarkan setiap ceritamu, ada yang menikmati setiap detiknya kebersamaan denganmu untuk kenangannya kubawa pulang sambil tersenyum, bekal untuk aku ingat lagi di malam harinya. 

Sebelum kamu bertemu dia, aku sudah mencintaimu. Hanya saja dia yang berani bergerak cepat dengan mengatakan cinta kepadamu, aku bergerak lambat hanya karena berpikir 'Bagaimana jika aku hanya dianggap teman berbagi cerita olehmu?'

Well, setidaknya, kamu sekarang sudah tahu. Walaupun mungkin tidak ada artinya untukmu untuk tahu.

Jadi, bagaimana? Sudahkah kamu berbahagia sekarang?


Yang tidak berani kamu katakan atau lakukan, kelak bisa saja menjadi penyesalanmu yang paling dalam.

7 komentar:

Namarappuccino mengatakan...

Sepertinya saya agak tergesa-gesa menuliskannya. Kalau ada waktu, untuk dikumpulkan menjadi sebuah buku, akan saya perbaiki dulu.

rossy aditya mengatakan...

Keren mas dab...nunggu bukunya....

rossy aditya mengatakan...

Keren mas dab...nunggu bukunya....

Anonim mengatakan...

Nyeseeelll :'(

Anisa Yura mengatakan...

bagaimana denganku?
aku wanita. aku tak berani mengutarakannya. aku selalu dan tetap memendamnya. sepertinya si 'rasa' lebih tak ingin berpindah tempat. tapi aku, aku-pun sudah bersiap sepertinya untuk menerima si sesal, kelak.

Laini Laitu mengatakan...

Yang tidak berani kamu katakan atau lakukan, kelak bisa saja menjadi penyesalanmu yang paling dalam.


Kata katanya diatas maknyuss banget ka Ara .. Suka :)

Dian Fernanda mengatakan...

Saya sudah ungkapkan, dan sekarang tak menjadi beban & penyesalan :)