Rabu, 08 Mei 2013

Senang





Kamu pernah bertanya apa bahagiaku. Aku ingin mengatakan, “Seperti ini. Seperti sekarang ini. Meluangkan waktu bersama kamu. Bisa melihat mata kamu yang menyipit ketika kamu tertawa, atau merapikan rambut panjangmu yang terkena angin ketika pintu café terbuka.” 

Tetapi akhirnya aku malah mengatakan, “Banyak. Makan yang enak, pergi ke pantai, menonton film, atau mendengarkan musik yang enak di telinga.”

Mata kamu membesar. Senyummu mengembang lebar. “Ah, kita sama. Kenapa lain kali kita tidak melakukannya berdua?”

Aku senang mendengarnya, sekaligus menyesalinya. Seharusnya jangan berkata seperti itu, karena aku akan terus menginginkannya.

“Bagaimana kalau jazz? Kamu suka? Ayo kita nonton berdua!” katamu lagi. 

Kamu harus melihat dirimu sendiri ketika mengatakannya, tapi bukan dari kaca matamu sendiri, melainkan dari kaca mata pikiran dan hatiku. Jadi, kamu tidak lagi sembarangan mengatakan hal seperti itu sambil sumringah dan alismu kamu naik turunkan. Pasang wajah semenyenangkan mungkin. Karena setiap kali kamu melakukannya, aku ingin merekam tiap mili detiknya, untuk bekal nanti malam biar bisa aku setel ulang di ingatanku dengan kecepatan pelan. Sangat pelan. Sampai aku tertidur. Juga sangat pelan.

“Mana ada konser Jazz di sini. Java Jazz adanya, itu pun di Jakarta, dan mungkin harus menunggu lama,” kataku.

Dulu, kalau kamu pernah mengingatnya, kamu selalu menggodaku. Menggoda karena aku selalu gugup ketika bertemu kamu. Kamu mengira itu karena aku pendiam. Jadi kamu malah menggodaku. Hobi baru, katamu. Sekarang keadaan sudah berbeda. Aku sudah bisa mengatasi kegugupanku. Tetapi sebenarnya setiap kamu melakukan hal seperti itu tadi, aku masih belum bisa mengatasinya, hanya saja aku mahir berpura-pura. Aku bisa berpura-pura tenang bahkan ketika aku merasa sangat senang melihat kamu seperti itu.

“Oiya,” katamu sambil menepuk jidatmu sambil memasang muka konyol seperti biasanya. “Kalau begitu nonton musik apa ya?”

“Angklung,” sahutku, “di jalanan Malioboro.”

Kamu terbahak. “Yaaaah, masak angklung? Di jalanan lagi. Gak ada tempat buat duduknya dong. Gak ada buat ngopi dan ngemil kentang goreng.”

Aku tersenyum saja. “Mau gak?”

“Hih!” kamu mendelik. “Kamu ini gak bisa bercanda sedikit apa. Ngomong kok singkat-singkat. Hih!”

Aku tertawa. Kamu masih pasang muka cemberut. Nah, gila kan? Bahkan kamu sedang cemberut pun aku menyukainya. 

“Kalau kita melihatnya, kamu akan senang?” 

Lagi. Kamu melakukannya lagi. Tersenyum di depanku sambil menanyakannya, memasang muka ceria, dan menaikturunkan alismu. Sial! Kalau kamu terus melakukannya bisa-bisa aku nekat bilang cinta. Sesuatu yang aku masih takut mengatakannya.

Oya, tentang apa aku akan senang, aku bahkan tidak perlu memikirkan apa-apa. Kamu pasti sudah bisa langsung tahu jawabannya dari hanya melihat senyum lebarku dan cara aku memandangmu saja. Lama...

Pada saat aku menulis ini pun, aku senyum-senyum sendiri sambil mengatakan kepada hati, “Betapa menyenangkannya…”

“Kalau kamu? Kamu juga akan senang?” balasku tanpa menjawab pertanyaanmu.

Kamu tersenyum lebih lebar dan menatapku dengan muka ceria. 

Lama...



3 komentar:

septi ika lestari mengatakan...

uuuuuh ikut senyum senyum bacanya, di lanjut dong mas, di bikin jadian gitu~

obat kusta mengatakan...

info yang sngat menarik obat kusta

eree,k mengatakan...

It is me ii:((