Senin, 07 Oktober 2013

Dia


Kamu, yang menjanjikan cintamu lebih besar daripada dia. Yang mengajakku pergi sejauh-jauhnya dan bersumpah bisa membuatku lebih bahagia daripada dia.

Sekarang ini, di tengah malam buta ini, aku sedang teringat dia. Dia yang memang tidak memiliki banyak hal di dunia. Tidak memiliki apa yang kamu miliki dan tidak bisa memberikan kemewahan seperti yang kamu janjikan. Dia, yang memiliki banyak kekurangan.

Aku ingat, dulu, pada saat dia melihatku selalu naik angkot, dia kemudian bekerja lebih keras dari sebelumnya. Kadang sampai larut malam dan bangun lebih pagi dari biasanya. Dia mengumpulkan semua uang hasil lemburnya, lalu menggunakannya sebagai uang muka untuk membeli sebuah sepeda motor untukku; meski bekas, meski dengan cara kredit. Lalu untuk membayar angsurannya, dia tetap bekerja lembur seperti biasa, dan juga mengurangi uang makannya. Kadang aku melihat dia hanya sarapan dengan lauk tempe dan kecap. Makan siang pun akan membawa dari rumah dengan bekal seadanya.


Kalaupun ada rezeki lebih, dan kami memiliki kesempatan untuk masak daging ayam, dia akan memberiku jatah yang banyak. Kadang dia bahkan tidak menyentuh ayam goreng yang saya masak sama sekali, karena katanya, aku harus makan banyak daging, biar kuat, biar sehat. Kalau aku berkata seharusnya dia juga, dia selalu mengatakan kalau tempe cukup. Gizi di tempe setara dengan daging ayam.  

Pembual, batinku.

Yang aku ingat, dia juga sangat suka sekali kulit ayam goreng. Katanya asinnya selalu pas di lidah. Tapi semua kulit ayam goreng (kalau saat rezeki kami lebih, dan dia juga kebagian ayam goreng), selalu diberikan kepadaku dengan tersenyum, "Ah, semua rasa sama. Toh nanti juga masuk perut, enak di lidahnya akan hilang juga," katanya kapan pun aku meminta dia juga memakan kulit ayam gorengnya.  

Pembual, batinku lagi.

Lalu aku menangis. Semua memori tentang dia tiba-tiba bermunculan di kepala.

Dia juga pernah berjanji kepadaku seperti kamu. Tetapi, dia tidak menjanjikan rumah mewah, kenyamanan, belanja baju, mobil, dan lain-lainnya seperti kamu. Janjinya lain. Dia memang tidak menjanjikan aku untuk selalu berbahagia, dia hanya menjanjikan selama dia masih bisa melakukan apa saja, dia akan berusaha membuatku berbahagia. Dia juga tidak pernah menjanjikan aku bisa membeli barang apa saja yang aku suka, dia hanya menjanjikan untuk berusaha tidak membuatku hidup dalam kekurangan.

Aku tidak tahu denganmu, tapi kalau dia, aku berani menjamin dia selalu menepati janjinya, meski kadang memakan waktu yang lama bagi dia untuk melakukannya

Aku menangis lagi. Senyumnya bermunculan di kepala.

Pernah dia berlari menyeberang jalan untuk membeli lumpia hanya karena aku berkata kalau aku suka lumpia. Kami sedang berteduh dari gerimis hujan, lalu dia melihat agak jauh di seberang jalan ada yang menjual lumpia. Ketika tahu itu, dia akan membelikannya untukku, aku mencegahnya tentu saja. Meski tidak deras, tapi bisa membuat sakit kepala kalau tidak menggunakan jas atau payung. Tapi dia nekad, berlari, membeli beberapa lumpia, lalu kembali lagi. Dengan rambutnya yang basah, dia tersenyum riang dan berkata, "Lumpiaaa!"

Lumpianya tidak enak. Tapi senyum dan usahanya membuatku tidak tega mengatakannya.

Jadi, kamu pasti berbohong kalau cintamu lebih besar darinya. Tidak ada yang mencintaiku melebihi cinta dia. Dia tidak hanya mencintaiku dengan hatinya, dia mencintaiku dengan jiwanya, kebiasaannya, pemikirannya.

Kalau kamu tidak memiliki apa-apa lagi, kamu mau bekerja lembur seperti dia hanya untuk membelikanku sepeda motor? Kamu mau memberikan makanan yang paling kamu suka untukku ketika kita tidak bisa sering memakannya? Kamu mau menerobos hujan untukku meski hujan sedang turun?

Yang aku tahu, dia akan melakukan apa yang dia bisa untuk membuatku berbahagia. Itu lebih dari cukup untukku. Sangat cukup.

Aku tidak pernah menyangka, sekarang aku bisa serindu ini kepadanya.

Justru pada saat aku sudah terlanjur meninggalkannya.




3 komentar:

isti thoriqi mengatakan...

*nangis**nyesek*

Dia memang tidak menjanjikan aku untuk selalu berbahagia, dia hanya menjanjikan selama dia masih bisa melakukan apa saja, dia akan berusaha membuatku berbahagia. Dia juga tidak pernah menjanjikan aku bisa membeli barang apa saja yang aku suka, dia hanya menjanjikan untuk berusaha tidak membuatku hidup dalam kekurangan.

Tidak ada yang mencintaiku melebihi cinta dia. Dia tidak hanya mencintaiku dengan hatinya, dia mencintaiku dengan jiwanya, kebiasaannya, pemikirannya.

Anonim mengatakan...

Menyakitkan.. Lalu harus bagaimana??

Anonim mengatakan...

cinta dia lebih besar dari kamu...
Menyedihkan :'(