Senin, 18 November 2013

Kenapa Dia Bukan Kamu


Dia adalah yang pertama kali selalu mengucapkan 'Selamat pagi' padaku. Dan pasti akan dilanjutkan, "Sarapan apa hari ini?" dan "Yang semangat kerjanya, ya." Kapan pun dia melakukannya, ada perasaan hangat di dada. Mungkin memang benar apa kata orang, sangat menyenangkan ketika kita diperhatikan.

Aku akan senang dengan setiap telpon atau pesan pendeknya di hpku. Meski itu sekadar, "Hai, kamu sedang apa?" atau "Dor! Hayoo lagi apaaa? Ngelamunin aku ya?" atau juga sesederhana, "Jangan lupa makan, nanti maagmu kumat. Kalau aku gak lagi di sana, siapa yang akan merawat?" Menyenangkan ketika menyadari sebenarnya kita tidak sendirian. Ada orang di luar sana yang selalu ingin kita baik-baik saja. Memastikan agar kita tidak kenapa-kenapa. 

Aku akan merasa nyaman kalau sedang ngobrol sama dia. Dengan cerita-cerita konyolnya, dengan keriangannya, atau dengan rela diamnya dia mendengarkan ketika giliran aku bercerita. Padahal aku tahu seberapa cerewetnya dia. 

Malamnya, seperti biasa, dia adalah yang akan mengucapkan "Selamat malam" entah melalui pesan singkat atau telepon. Kalau beruntung sinyal sedang bagus, mungkin menggunakan video call. Kami di kota yang sama, tapi tentu saja tidak tidur di kamar yang sama.

Dia juga yang sering membuatku tertawa, menghiburku ketika sedang lelah atau berduka.  Menemaniku semalaman begadang melalui telepon kalau aku sedang butuh teman bercerita. Kadang-kadang aku malah yang sampai ketiduran. Kalau sudah begitu, paginya, pasti sudah ada sms yang dikirim tadi (pasti setelah aku ketiduran), "Selamat tidur, ganteng. Sampai bertemu besok pagi. Karena mungkin kamu lupa berdoa, biar aku yang menggantikanmu berdoa." 

Aku selalu tersenyum membacanya. 

Dia pernah menangis ketika aku bersedih. Padahal aku sendiri tidak menangis. Gantian aku yang kemudian menenangkan dia kalau aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Kemudian aku menyadari, kalau baru kali ini ada yang menangis untukku. Benar-benar baru kali ini.

Pada saat aku berulang tahun malam tadi, dia mengumpulkan teman-temanku. Sudah membelikan kue, snack, dan minuman ringan. Dia juga memberikan kado jam tangan karena memang jam tanganku sudah rusak bulan lalu. Dia tidak bisa datang tentu saja. Kosku tidak boleh memasukkan perempuan kalau sudah jam 9 malam. Apalagi kejutan yang dia rencanakan ini tepat jam 12 malam. Tapi dia minta bantuan teman-temanku dan minta semuanya direkam. Dia pun tidak lupa meneleponku dengan terlebih dulu begadang menunggu jam 12 malam. Yang aku tahu, dia paling tidak biasa bergadang karena pekerjaannya di depan komputer sering membuat matanya lelah kalau malam. Tapi tadi malam, lagi-lagi dia melakukannya untukku.

Dia adalah wanita sempurna. Cantik, riang, perhatian, dan penuh cinta. Dan hatinya itu dijatuhkan padaku. Tidak sedikit, tidak sebagian, tetapi seluruhnya.

Seharusnya aku bahagia. Seharusnya. Tetapi, ... aku tidak tahu apakah dia akan tetap melakukannya jika sampai sekarang pun, aku masih berharap bahwa seandainya saja bukan dia yang melakukan semua itu, tetapi kamu. 

Kamu.


11 komentar:

Namarappuccino mengatakan...

Kita terlalu sering terus mencari, tanpa menyadari bahwa yang terbaik sudah di sisi.
Terlalu fokus pada apa yang diinginkan padahal sudah diberi yang dibutuhkan.

adeirmapratiwi mengatakan...

Mencintai dan memiliki itu selalu dijual terpisah.. Jadi Bersabarlah Wahai Aku , Dia Dan mungkin juga Kamu (?)

Okta Pinager mengatakan...

Kenapa berlian di depan mata selalu tidak terlihat padahal ia jelas berkilau? Apa mungkin karena terlalu silau? Saya pernah punya rasa seperti ini. :')

ila mengatakan...

tapi bukan tidak mungkin bahwa yang selalu dicintai akan lambat laun tergantikan oleh yang selalu ada. karena terkadang cinta bukan sebatas rasa keinginan, tapi bisa jadi cinta ada karena selalu ada dan memberikan apa yang dibutuhkan.

Ace Maxs mengatakan...

Belajar memang Melelahkan, namun akan lebih Melelahkan lagi bila saat ini Kamu tidak Belajar.

Shelviana Shelvi mengatakan...

Semua tulisan kak ara gw banget.. hiks hiks..

Bella Vlinder mengatakan...

kalau merasa dia wanita sempurna, pasti akan segera mengantikan si "kamu" mas ara.
Kecuali jika si "dia" memiliki kekurangan.
ah, pengen nangis baca awalnya. :')

sTarLoVe mengatakan...

Nangis mas, baca ending nya.. merasa menjadi -dia-

Bunga Ariyanti mengatakan...

jleb banget baca endingnya :'(

ima fatma mengatakan...

Bagian akhir, njleb bangettt!
Persis banget!
Seandainya bukan dia tapi kamu.
Hiksss

Anonim mengatakan...

ish