Jumat, 21 Februari 2014

Aku Rasa Kita Seharusnya Mencoba Bertahan Dulu...


Aku suka memandangi hujan berlama-lama, tapi tanpamu, rasanya mungkin tidak akan lagi sama.

Aku suka ngobrol di telepon sampai ketiduran, tapi siapapun yang kemudian menemaniku melakukan itu, mungkin rasanya tidak akan senyaman ketika aku melakukannya denganmu.

Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Tidak ingin kita berpisah, tentu saja. Tapi aku bisa apa? Tiba-tiba saja kamu ingin pergi begitu saja. Kamu bilang hubungan ini tidak bisa lagi dipertahankan. Tetapi kamu tidak pernah mencoba, bertahan, sayang, dari mana kamu tahu hubungan ini tidak bisa dipertahankan?

Pada saat aku meminta untuk kita bicarakan dulu, kamu juga bilang kalau tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Kamu tidak pernah berusaha mencari tahu apa yang sebaiknya kita bicarakan, jadi dari mana kamu tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan?


Sepertinya kamu terlalu tidak peduli untuk mencoba lagi. Terlalu mencari menangmu sendiri untuk berusaha mengerti. Tapi tidak apa. Cinta tidak harus dipaksa.

Aku akan baik-baik saja. Tidak akan menangis selamanya. Kamu jangan merasa bersalah atau terlalu khawtir dan bertanya-tanya apakah aku (akan) baik-baik saja. Karena pada akhirnya juga toh aku pasti akan baik-baik saja. Harus baik-baik saja.

Masih ingat, pada waktu aku menangisimu, kamu bilang kita masih bisa berteman? Aku bertaruh, awalnya ya kita mungkin masih berhubungan, saling menanyakan kabar, mungkin juga ngobrol kadang-kadang. Tapi lama-kelamaan pasti akan berangsur berkurang, lalu saling melupakan. Atau setidaknya, kamu yang sepertinya duluan akan melupakan.

Katamu juga (ketika aku menangis dan mencoba mempertahankan), kenapa aku terus berusaha mempertahankan kalau kamu saja tidak ingin dipertahankan?

Tunggu sebentar. Apa kamu tidak ingat, ketika pernah dulu aku yang memutuskanmu pergi, kamu juga terus memohonku sambil memelukku erat?

Apa kamu tidak ingat, selama setahun pernah tanpa menyerah berusaha menarik perhatianku yang pada awalnya aku tidak pernah menggubrismu? Ke mana sifat tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan yang kamu mau itu? Atau setelah mendapatkan, sudah tidak lagi menantang?

Apa kamu tidak ingat, kamu pernah mengenalkanku kepada teman-temanmu dan begitu membanggakanku? Ke mana sekarang perginya kebanggaan itu?

Apa kamu tidak ingat, kalau kamu pernah mengatakan sangat bahagia dan beruntung mendapatkanku? Kenapa sekarang tidak bisa sebahagia itu?

Kamu bilang, mungkin karena aku berubah, itu alasannya. Sebenarnya aku masih sama, selalu seperti dulu karena kamu bilang mencintaiku tanpa ingin mengubahku. Tidak mungkin aku berubah kalau itu berisiko melunturkan cintamu, di mana aku sedang sangat cinta-cintanya denganmu. Kalau begitu sebenarnya yang berubah itu siapa?

Sekarang, kalau tiba-tiba aku mendengar lagu yang biasa kita nyanyikan berdua, dan tiba-tiba merasa begitu merindukanmu, aku harus bagaimana?

Kalau tengah malam aku tiba-tiba kangen banget ngobrol di telepon denganmu, aku harus bagaimana?

Kalau tiba-tiba aku melewati warung langganan mi ayam kita, tempat nongkrong kita, dan mengingat bagaimana dulu bahagianya kita, aku harus bagaimana?

Ya, aku tahu. Ini yang selalu kamu katakan setiap kali aku mengatakan rindu atau mengajakmu berbicara lagi dulu, "Kamu harus bisa seperti aku. Melepaskanmu. Yang berlalu biarlah tetap berlalu".

Kamu tidak tahu sakitnya aku, jadi sebenarnya kamu tidak boleh berkata harus bisa seperti kamu, membiarkan yang berlalu tetap berlalu. Bagi yang sudah tidak mencintai lagi, itu mudah. Kamu pernah tidak, sedang jatuh cinta-cintanya, tapi diminta untuk berhenti mencintainya? Kamu pernah tidak, sedang kangen-kangennya, tapi disuruh jangan lagi melakukannya? Kalau belum, jangan menganggap 'yang berlalu biarlah berlalu' itu semudah mengatakannya. Tidak semudah itu.

Sebagai catatan, aku melepaskanmu bukan karena tidak mencintaimu, aku hanya merasa untuk apa mempertahankan yang tidak ingin dipertahankan. Untuk apa meminta kamu di sini jika kamu selalu berpikir untuk pergi. Untuk apa menanyakan apa kamu masih cinta kalau jawabanmu bisa ditebak, 'Tidak tahu apa rasa itu masih ada'.

Sebenarnya, saling mencintai itu berpikirnya bukan lagi aku atau kamu. Bukan lagi aku berusaha mati-matian membahagiakanmu, atau kamu mencoba membahagiakan aku. Saling mencintai itu berusaha agar kita bahagia dengan tetap bersama. Sayangnya, memang dari awal pengertian kita tentang mencintai itu beda. Kamu dengan kamu harus bahagia, aku dengan mencoba selalu menerima kamu apa adanya, bahkan dengan egomu yang tidak pernah kusangka bahwa bahagiamu jauh lebih penting dari bahagiaku.

Tapi kalau kamu (seandainya) ingin tahu dulu apa pendapatku tentang ini, sebenarnya aku rasa kita harus mencoba untuk bertahan dulu. Setidaknya mencoba dulu, bukan semua diputuskan oleh kamu.


8 komentar:

sinta endarw mengatakan...

Seharusnya kamu coba dan berusaha menahanku, bkn menyerah. Kemana kamu yg dulu ingin mempertahankan ku.
Aku ijin copas ini ya. Pasti nantu tertera dgn nama namarappuccino

Anissa Nurlia Kusumaningtyas mengatakan...

Mungkin "kamu"nya udah nemu yang lain.. :P

Anonim mengatakan...

bang nama, ini nulis sendiri? ini mirip banget sama cerita saya.

Hidup Sederhana mengatakan...

galau.. :(
kok bisa ya.. hhmmm.. heheheh

Shaqa yeq mengatakan...

aku hanya bisa berkata entah...
melihat dari sisimu mungkin ini sesuatu yang sangat ya sulit... karenanya aku selalu melihat dari dua sisi.

hei..hei..abaikan ini kawand, tapi ku yakin kamu tak serapuh yang terlihat...:)

khoiiru syiffa mengatakan...

Entah, rasa mencinta atau harapan yang terasa pekat terhadap manusia itu atau merelakan kepergiannya. Yang jelas, rasa itu tetap membekas Dan tak semudah membalikkan telapak tangan. Ya , sangat tragis.

Suka banget kak sama tulisan ini ;* benelan, keyen banget :')

Mala Komalasari mengatakan...

Bagus banget..

Nadia Syifa Atikasari mengatakan...

Ini mirip dengan cerita saya. Sangat mirip :')