Jumat, 28 Maret 2014

Itu Lagu Kita, Fey



Banyak yang bertanya tentangmu, Fey. Tentang bagaimana kabarmu sekarang, tentang kenapa kamu tidak pernah lagi aku ceritakan.

Anehnya, mereka malah lupa menanyakan kabarku, Fey. Apa aku baik-baik saja setelah kamu tidak ada? Apa aku bisa melepaskanmu setelah sekian lama? Apa aku masih mencintaimu (misalnya)?

Mereka lucu sekali kan, Fey? Teringat kamu, mungkin juga mengidolakanmu, tapi lupa tentang aku.

Padahal, Fey, mereka pasti tidak tahu kalau kenangan yang kulalui denganmu, maknanya sangat dalam--setidaknya untukku. Mereka tidak tahu kalau saking dalamnya perasaan itu, aku sampai kesulitan melepaskan saat memang aku terpaksa harus melepaskan. Mereka pasti tidak tahu betapa beratnya masa-masa dulu itu ketika aku benar-benar sangat rindu, tapi mati-matian bertahan untuk tidak menanyakan kabarmu. Mereka pasti tidak tahu bagaimana rasanya, aku berusaha agar tidak mencari tahu di semua sosial media tentang apa-apa yang berkaitan denganmu.

Mungkin karena mereka tidak tahu itu, jadi mereka menanyakan tentangmu. Ya, mungkin seperti itu.

Jadi, mungkin juga mereka tidak tahu bahwa melepaskanmu itu butuh hati yang besar. Sangat besar. Karena jika di tengah-tengahnya, tiba-tiba kamu menanyakan kabar, usahaku bisa langsung berantakan. Kembali dari nol lagi. Kembali kepalaku dipenuhi dengan kamu lagi.

Dan juga, seberapa keras pun aku berusaha melupakan, kadang-kadang kalau tiba-tiba ada lagu yang pernah kita nyanyikan tiba-tiba terdengar, fragmen-fragmen kenangan tentangmu datang seperti ratusan pedang. Kalau seperti itu, bagaimana aku bisa melupakan?

Kalau ada yang melintas dan rambutnya mirip denganmu, tanpa sadar mataku mengikutinya dari belakang dan membatin, "Seperti kamu...". Itu aku tahu kalau bukan kamu, hanya saja, reflek mata dan batinku seolah memberi harapan kalau seandainya itu benar kamu.

Kalau tiba-tiba ada yang memiliki parfum yang sama denganmu lewat di depanku, aku langsung teringat betapa seringnya dulu aku mencium wangi itu.Wangimu, suaramu, percakapan kita. Semua langsung melintas di pikiranku begitu saja.

Itu. Melepaskanmu seberat itu.

Padahal aku tahu tentang cinta, Fey. Paham benar teorinya. Bahwa pada saat aku memutuskan berhenti mencintai, pada saat itu juga, apa pun yang berhubungan denganmu seharusnya aku berhenti melibatkan hati.

Tapi teori memang selalu dibuat lebih mudah dari prakteknya kan, Fey? Prakteknya tidak semudah itu.

Fey, kita pernah nyaman, berdua. Tertawa, berbagi cerita, berbagi lagu, menikmati kopi dan cokelat panas (aku kopi, kamu selalu pesan cokelat panas), atau melewatkan waktu di kafe dengan membaca buku bersama. Dua buku berbeda, tentu saja.

Mungkin memang hidup (atau cinta?) itu seperti itu, ya, Fey? Kadang-kadang ada dua orang yang diberi kesempatan untuk meluangkan waktu yang sangat nyaman ketika bersama, berdua. Tetapi kesempatan kebersamaan itu bukanlah kebersamaan yang bersifat selamanya. Mereka hanya diberikan waktu untuk menyimpan kenangan-kenangan keduanya untuk belajar mana yang baik untuk mereka lakukan dan mana yang bukan untuk pasangannya di masa depan (bukan pasangannya yang sekarang). Hanya diberi kesempatan untuk merasakan bahwa  cinta bisa sehangat itu, senyaman itu, tapi juga harus belajar tentang arti melepaskan jika memang harus melepaskan. Hanya diberi kesempatan menahan beratnya rindu di awal-awal ketika tidak lagi bersama, sampai mereka bisa benar-benar melepaskan.

Tetapi tidak apa. Pada akhirnya, mau tidak mau, seseorang akan dipaksa melepaskan sesuatu yang bukan untuknya. Seperti kamu, yang seberapapun nyamannya aku bersamamu, seberapapun inginnya aku menua bersamamu, berbagi cerita, menikmati teh dan tempe buatanmu sepulang kerja, pada akhirnya, kalau memang bukan untukku, mau tidak mau, aku harus melepasmu.

Hmm...

Kamu pasti sudah bahagia sekarang, Fey. Aku tadi melihat sosial mediamu. Dulu mungkin aku langsung patah melihatnya, sekarang, setelah sekian lama, setelah aku mampu melepaskan, entah kenapa melihatmu bahagia, aku justru juga ikut bahagia. Cinta memang benar-benar aneh, ya, Fey? Meskipun perasaannya sudah tidak ada, tetapi kita bisa ikut bahagia jika orang yang pernah kita cinta ternyata berbahagia. Mungkin itu cinta yang sebenarnya, Fey. Karena ada juga yang namanya obsesi memiliki, yang seolah mencintai, padahal hanya sekadar obsesi. Biasanya, perasaan seperti ini rapuh, Fey. Terlalu mudah patah hati.

Aku nanti juga pasti bahagia karena seperti katamu, kita tetap akan bahagia, sendiri-sendiri atau bersama. Aku percaya pada bahagiaku seperti kamu percaya pada bahagiamu. Dan kalau ada yang bertanya kenapa aku menulis ini dan mengingatmu sampai mencari tahu tentangmu, karena malam ini, setelah lama kamu tidak datang ke pikiranku, tiba-tiba tadi ada yang menyanyikan sebuah lagu .... di televisi.

Itu lagu kita.

Dulu lagu kita.



6 komentar:

Dian Srg mengatakan...

"Dan juga, seberapa keras pun aku berusaha melupakan, kadang-kadang kalau tiba-tiba ada lagu yang pernah kita nyanyikan tiba-tiba terdengar, fragmen-fragmen kenangan tentangmu datang seperti ratusan pedang. Kalau seperti itu, bagaimana aku bisa melupakan?"

Selalu mengalami ini :'(
Culiiik yaaa mas :)


Kartika Rachmada mengatakan...

Dan ketika membaca ini .. fragmen fragmen tentang dia kembali datang seperti hujan turun tanpa mendung, cukup deras. huft --"

Shaqa yeq mengatakan...

dan ini adalah fragmen-fragmen yang mengingatkanku kepadanya yang telah menghilang. menghilang dari semua orang. termasuk dariku.

entah apakah dia menjadi pangeran atau apa dikerajaan abadi. tapi pernah menjadikannya pangeran yang menjadikanku seorang putri adalah kebersamaan indah yang pernah kumiliki.

kisah kita berbeda, tapi sedikit sama.. tentang melepaskan..hehe

ANita Aprilia mengatakan...

Memang...
Ketika rasa itu masih ada dan dipaksa untuk tidak ada, bagaikan ribuan pedang menghujam dan itu sakit

utari damayanti mengatakan...

dengan membaca ini, fragmen-fragmen tentang perihnya rasa rindu tapi bertahan untuk tidak menanyakan kabarnya muncul kembali :(

Hermionce mengatakan...

Jadi, mungkin juga mereka tidak tahu bahwa melepaskanmu itu butuh hati yang besar. Sangat besar. Karena jika di tengah-tengahnya, tiba-tiba kamu menanyakan kabar, usahaku bisa langsung berantakan. Kembali dari nol lagi. Kembali kepalaku dipenuhi dengan kamu lagi. :')