Selasa, 13 Mei 2014

Gone too Soon




Kalau ada yang bilang pemandangan pantai ketika matahari tenggelam itu menyenangkan, itu tidak ada apa-apanya bagiku jika dibandingkan kalau aku bisa menikmati secangkir teh melati di depanku dan secangkir latte di depanmu. Menikmati bagaimana kamu begitu seksama mendengar setiap ceritaku, menikmati bagaimana kamu duduk bersandar ke kursimu dan melipat tanganmu di dadamu. Aku tahu, kalau kamu sudah seperti itu, berarti kamu sedang fokus kepada sesuatu. Dalam hal ini, berarti fokus kepadaku, mendengarku, memperhatikanku. Rasanya selalu menyenangkan ketika kita berbicara, dan orang yang berbicara dengan kita, mendengarkan.

Aku tidak ingin itu berhenti. Aku ingin menikmati pemandangan yang kulihat ketika aku bercerita ini setiap hari. Diperhatikan, bukan sekedar didengar. Dimengerti, bukan sekedar ditemani. 

Aku juga ingat ketika kita terdampar di sebelah toko buku sambil menunggu hujan reda, kamu mengenakan kemeja merah kotak-kotak dan jins hitammu, lalu aku bercerita dengan semangatnya, dan di depanku kamu senyum-senyum saja. Tidak ada yang tahu, aku selalu membaca, menonton, atau mendengarkan radio mengenai apa pun yang kamu suka, agar ketika bertemu denganmu seperti itu, kita bisa berbicara begitu asiknya.


Kamu tetaplah seperti itu. Menjadi seseorang yang bersedia berlama-lama bersamaku. Kamu tetaplah seperti itu. Menjadi seseorang yang paling betah menemaniku.

Itu menyenangkan. Itu menghangatkan. Itu aku jatuh cinta.

Lalu seperti sebuah komet, yang (katanya) indah ketika menembus langit malam (aku tidak pernah melihatnya, tapi katanya memang tak terlupakan). Bercahaya terang, jarang, dan membuat hati berdebar-debar. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Tetapi kejadiannya hanya sebentar. Dia akan bersinar begitu terang, lalu hilang selamanya. Kita hanya mampu menceritakannya, mengenangnya, tapi tak lagi menikmatinya.

Seperti itu juga kamu.

Atau seperti pelangi yang muncul, membuat orang kegirangan, tapi lagi-lagi hanya berlangsung sebentar. Indahnya tidak sebanding dengan lama berlangsungnya.

Seperti itulah kamu.

Kamu juga hilang begitu saja dalam waktu singkat. Pada saat aku benar-benar menikmati tawaku; benar-benar menikmati momen-momen ketika kamu menatapku, tersenyum, lalu mengelus rambutku; benar-benar menikmati pesanmu setiap hari sekitar jam enam pagi, “Selamat pagi!”. Yang selalu membuatku ingin berteriak bahwa semua itu adalah mood boosterku. 

Semua hanya karena kamu beranggapan bahwa aku di luar jangkauanmu. Aku selalu di dalam jangkauanmu kalau kamu mau tahu. Selalu. Kamu hanya tinggal mengatakannya dan aku akan menjawab, "Iya." Kamu hanya tinggal mengatakannya, dan aku akan ikut ke manapun kamu suka. Kamu hanya tinggal memelukku, dan aku akan menganggap di manapun aku berada, pelukanmulah rumah tetapku.

Aku merasa nyaman seperti ini. Bersamamu. Seharusnya kamu jangan berpikir untuk pergi.

Tetapi, tidak ada gunanya. Kamu masih seperti komet. Cepat datang, menyenangkan, lalu menghilang. Menyerah duluan tanpa mau berjuang. Cinta membutuhkan perjuangan, kalau hanya aku yang berjuang, bagaimana bisa dibuktikan bahwa kita sebenarnya bisa bersama?

Pada akhirnya kamu memilih hati yang menurutmu bisa kamu gapai. Dan itu bukan aku. Padahal, hatiku bisa kamu gapai dengan begitu mudahnya. Kamu hanya tinggal mengatakannya, dan aku berikan semuanya. 

Sekarang, ketika aku begitu rindu, begitu ingin didengarkan, begitu ingin ditatap, begitu ingin dielus rambutku lagi dan mendengar, "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja," aku harus  bagaimana?

Mana bukti dari kalimat saktimu bahwa 'semua akan selalu baik-baik saja'?


______________
Inspired by: "Gone too Soon" - by Michael Jackson





3 komentar:

Dauz Rahmat mengatakan...

keren.

Dian Srg mengatakan...

"Mana bukti dari kalimat saktimu bahwa 'semua akan selalu baik-baik saja'?"

Kalimat yang ingin aku teriakkan kepada seseorang, aarrrghh..

utari damayanti mengatakan...

oke fix bakal ada yg ngeposting lagi setelah baca ini :(