Minggu, 02 November 2014

Seandainya, Fey. Seandainya.


Ya, aku tahu. Kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Ya, aku juga tahu. Sebenarnya sudah bukan waktunya lagi aku berbicara mengenai cinta, rindu, atau apa pun yang berkaitan dengan itu.
Tapi, Fey. Kadang-kadang aku memang kangen kamu. Kangen obrolan kita. Kangen meluangkan waktu bersama. Kangen melihatmu menggodaku sambil tertawa.
Kalau menurutmu aku sengaja mengingatnya, tidak juga. Aku tahu berdasar pengalamanku, Fey. Tidak seharusnya mengingat masa lalu jika memang sedang berusaha melupakan masa lalu. Itu sama saja berniat ke arah selatan, tapi kita berjalan menuju utara. Jadi kangen kamu itu bukan sesuatu yang kusengaja. Itu terjadi begitu saja. I dont want it, but it just happen like it.

Karena pada saat aku minum kopi hitam sendirian, aku teringat kalau kita sedang ngobrol berdua, aku akan memesan kopi hitam, dan kamu memesan cokelat hangat. Atau pada saat di tv sedang ada film “50 First Date” aku akan ingat, kita dulu menonton film itu berdua. Atau juga ketika di radio diputar lagu “Never Gonna Leave This Bed”, dalam hati aku akan mengatakan kita pernah karaoke menyanyikan lagu itu bersama. Suaraku sering fals, dan kamu selalu berhenti menyanyi sambil tertawa.
Satu yang kusadari kemudian, setiap kebersamaan kita entah kenapa secara otomatis terekam. Sayangnya, di memori manusia tidak ada tombol delete atau format. Kita juga tidak bisa sengaja berusaha amnesia untuk memori tertentu saja. Apalagi kalau memori itu istimewa karena kita sedang mengalami jatuh cinta. Kalau tidak bisa dibilang tidak mungkin lupa, mungkin bisa dibilang akan susah untuk sengaja lupa.
Dan setiap rekaman itu, menjadi semacam tabungan kenangan, yang bisa muncul kapan-kapan untuk kurindukan. Seperti yang pertama kita bertemu, kamu mengenakan kacamata dengan baju biru dan rok gelap biru. Tetapi kamu jarang lagi mengenakan kacamata setelah itu. Atau kamu selalu mengeluhkan mata sipitmu, padahal justru itu yang paling aku suka darimu. Atau kamu juga mengeluhkan badanmu yang tidak tinggi, dan aku selalu mengatakan tetap saja seperti ini, kalau tidak ada yang menerimamu, kamu bisa kembali ke sini. Di sampingku ini. Kamu akan tertawa dan mengatakan gombal. Kalau saja kamu tahu, aku selalu menyembunyikan kenyataan perasaanku dalam setiap gombalanku.
Ya, aku memahaminya. Kita tidak bersama. Jarak mungkin juga salah satu penyebabnya.

Tetapi seandainya, Fey, seandainya. Kalau waktu itu kamu tidak pergi, atau aku berani mengatakan mencintaimu. Apakah saat ini kita yang bersama? Dan jika saat ini kita bersama, bahagiakah kita?

8 komentar:

Tiesa mengatakan...

Ahh mas ara, sekian lama ngga pernah mampir kesini
Tulisanmu masih aja ngenaaaa T_T

Mungkin bisa dilanjut mas,
Jika saat ini kita bersama, bahagiakah kita?

Namarappuccino mengatakan...

Usul bagus. Izin aku gunakan ya dek. :) Terima kasih banget.

Ayu Rara Kartika mengatakan...

Mas ara, selalu ditunggu ya postingannya ;)

hgarihal mengatakan...

Indah.. tapi harapannya aku enggak suka. Soalnya saya juga sedang berharap. Dan saya harap bisa berhenti berharap.

Elin P Herdiana mengatakan...

Jarak juga mungkin salah satu penyebabnya :(

terapi pengobatan mata minus mengatakan...

ngena mas :D
ditunggu update annya :)

Rahmatya Rosi mengatakan...

mencintai dalam diam

mak beL mengatakan...

susah untuk sengaja lupa >< melawan lupa :)