Rabu, 10 Juni 2015

Cinta Pernah Tidak ke Mana-mana Sampai Beberapa Waktu Lamanya



Kita ini seperti sepasang, tanpa pernah benar-benar berduaan.

Jika sudah ngobrol, it was more than fun. Kamu bisa menceritakan apa saja dan aku bisa mendengarnya kapan saja dan berapapun lamanya. Kata demi kata. Bagiku itu seperti menonton sebuah film epic yang mampu membuat kita terpaku dan menontonnya berkali-kali. 

And then, there’s voices in my head, says, ‘Let's talk, and I will happy till the sky get dark’.

Kalau kamu sudah mulai menceritakan sesuatu yang lucu, aku akan terbahak. Don’t you know that it's funny how you can always make me laugh (or should I say happy?). Nobody can make me laugh like you did. Rasanya lebih hangat di dalam sana, di dada. Karena aku juga melihat kamu tertawa. 

Itu menyenangkan. Kita, melakukan hal-hal sederhana. Berbahagia di dalamnya. Tidak muluk-muluk. Tidak harus ke Bali, atau belanja ke Singapore. Tidak harus ke Dufan atau ke menara Eiffel. Cukup seperti ini saja. Ngobrol berdua, dengan kebegoan-kebegoan cerita di dalamnya. Tertawa bersama, melakukan hal bodoh bersama. Karena bahagiaku memang selalu sesederhana, 'apapun, selama bersamamu, aku bisa bahagia.'

Denganmu, aku tidak harus berpura-pura. Tidak harus terlihat pintar, bijaksana, atau dewasa. Cukup menjadi aku saja. Katamu, aku sudah menyenangkan. Tidak perlu menjadi yang bukan aku sebenarnya. Selama itu adalah yang terbaik dari diriku sendiri, berarti itulah aku yang sebenarnya. Kalimat yang tidak pernah bisa aku lupakan dan tanpa kamu tahu, dari sana aku mulai bisa mencari tahu siapa aku sebenarnya. Di situlah aku mulai jatuh cinta. (Apa kamu mengetahuinya?)


Dan tiba-tiba, jatuh cinta tidak lagi sebuah 'old crap' atau 'alay'. Something that i used to believe in. Its real. I fall in love when you smile. I fall in love when you move your eyebrow up and down. I fall in love when you just sit there and read a book. I fall in love when you close your eyes, with your headphone and your lips mumbling making some voice of a song. I fall in love with whatever you do.

I fall ini love with you. Damn! I just know that 'falling in love' is real. Not a myth, not a bullshit thing.

Sampai akhirnya, kalau ada yang bertanya, bahagia itu apa? Aku ingin menjawab, "kamu." Satu kata itu saja. Satu saja. Itu sudah menggambarkan segalanya. Tapi tidak ada yang pernah menanyakan itu, dan aku khawatir tidak akan berani menjawab seperti itu. Jadi, aku aman.

Tentang cinta diam-diam itu, mereka sering mengatakan, ‘Katakan saja!’. Ya, mudah mengatakannya, sulit mempraktekkannya. Karena setiap kali aku mau mengatakannya, lalu melihat kamu tersenyum saja, nyaliku rontok begitu saja. Bertanya-tanya risikonya. Kalau ternyata kamu tidak memiliki perasaan yang sama, apa kita masih bisa seperti ini, sedekat ini? Karena kalau tidak, lebih baik aku tidak mengatakannya. Biar seperti ini saja.

‘Cause I love you without any 'terms and conditions'. Without you should love me back or we have to be together eventually. It just love and love its all. It just me, that can take anything as long as you happy. 

Its stupid, but i can take it.

But, in the end, i know the risk. Kita akan selalu menyesali tidak hanya apa yang terlanjur kita lakukan, tetapi juga apa yang tidak pernah berani kita katakan atau lakukan. Dan, ya, aku menyesalinya. Menyesali kenapa aku dulu tidak pernah mengatakannya.

Karena waktu berlalu, begitu juga kesempatanku. Terlambat mengetahui kalau kamu pun dulu punya rasa yang sama sepertiku. Sepertinya benar kata orang, hanya karena dua orang pada akhirnya tidak bersama, belum tentu keduanya tidak pernah saling jatuh cinta.

Masih ingat yang aku katakan kalau kita ini seperti sepasang? Ya, benar, ada kata 'seperti'. Hanya seperti. Tidak pernah benar-benar sepasang, atau benar-benar berduaan berbagi gombalan.

Cinta di udara, katanya. Love is in the air. Mungkin karena itu cinta tetap di udara, tidak benar-benar bersama kita. Karena pada kenyataannya, kita tidak pernah benar-benar 'sepasang'. Hanya diberi kesempatan untuk memandang bintang yang sama dari tempat yang berbeda. Bersyukur bahwa sejauh apa pun jaraknya, kita bisa menikmati hal yang sama. Diberi kesempatan untuk merasakan cinta dan membatin, alangkah menyenangkannya kalau kita bersama. Diberi kesempatan untuk belajar melepaskan pada saat justru sedang merasa nyaman.

Mungkin Tuhan memang membuatnya demikian, untuk mengajarkan kita tentang kebersamaan (dan mungkin keberanian?) dan kenangan (mungkin termasuk melepaskan?). Karena pada akhirnya, love is love and life is life. You can not guess what will happen next. You just have to just accept it,and go with it. Kamu bersama seseorang yang memang untukmu, dan aku pada akhirnya juga bersama seseorang yang memang untukku. Berbahagia sendiri-sendiri dengan orang lain.

Tetap bisa bahagia, meski tidak bersama. 

Kadang-kadang, aku ingin pada suatu hari kita akan bertemu lagi. Kamu membaca buku sambil mengayun-ngayunkan kakimu--mungkin sesekali minum sirup dingin di mejamu, dan aku menikmati musik dari hpku. Bahkan tanpa kita berbicara, aku bisa bahagia hanya berada di sana. Bersamamu, berdua. Kita, melakukan hal-hal sederhana dan berbahagia di dalamnya.

Well, in the end, we have to accept the reality. Tentang kita. Tentang kenyamanan yang pernah tercipta, meski harus berakhir juga pada akhirnya.


Sampai bertemu nanti. Kalau Tuhan mempertemukan kita lagi. But even its just a memory, would you say 'Hi' when you see me?





*By the way, dulu pada masa kita, aku pernah menjaga rinduku dengan kadar yang selalu sama setiap harinya, apakah kamu juga?





10 komentar:

Happy Fibi mengatakan...

Ya Tuhan, nyesek sekali, mas :")

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

:') :'(

gica mengatakan...

:(

venilla mengatakan...

yaampun, langsung keinget kenangan perasaan-perasaan yang cuma bisa disimpen dalam diam :(

Nopi Nurhidayanti mengatakan...

Selalu sendu tulisannya. Kayak rangkuman pribadiku.huhuuu
Mas namara..

Yanuarty Paresma Wahyuningsih mengatakan...

ijin share ya bang

vivi rahmayani mengatakan...

Mas ara, tulisannya selalu membuar saya masuk ke dunia fiktif itu dan ikut merasakan apa yg dirasakan setiap tokohnya. Selalu jatuh hati dengan tulisannya

Sekar ; Echa ✿ mengatakan...

Ditunggu update terbarunya mas :)

Kalau ada waktu, boleh lho berkunjung ke blog saya di http://belantarasekar.blogspot.com. Saya juga suka nulis yang sendu-sendu, dan kadang terinspirasi dari postingan blognya mas namara, hehehe.

Buat teman-teman yang lain juga, silakan mampir ya :)

Lotus Lover mengatakan...

Selalu mendayu dan sendu :(

my dream mengatakan...

"hanya karena dua orang pada akhirnya tidak bersama, belum tentu keduanya tidak pernah saling jatuh cinta"