Senin, 31 Agustus 2015

Epiphany*


Bapak tua di depan kami bukanlah siapa-siapa. Waktu itu kami hanya mampir di sebuah warung remang-remang kecil di tengah perjalanan ke Wonosari dari Yogya.

Pada saat kami datang, dia sudah duduk di sana. Berceloteh apa saja. Kata pemilik warung, namanya Yanto, dan meminta kami untuk memakluminya.

"Biarkan saja, mas, mbak. Wonge memang gitu. Tapi gak bahaya, kok."

Ya, sudah kami menurutinya.

"Wektu ra bakal mandeg mlaku, mbok'o koe terus nunggu (Waktu tidak akan berhenti, meski kamu menunggu)," katanya.


"Nek kesuen le mu nunggu, eman-eman wektumu (Kalau kelamaan kamu menunggu, sayang waktumu). Durung mesti sing mbok tunggu peduli yen mbok tunggu (Belum tentu yang kamu tunggu peduli kalau kamu sedeng menunggu). Durung mesti sing mbok tunggu ngerti yen mbok tunggu (Belum tentu yang kamu tunggu tahu kalau kamu tunggu)."

Aku mendengarnya, pasti juga dua teman yang bersamaku.Tetapi, mungkin cuma aku yang paham betul artinya, karena dua temanku bukan dari Jawa.

Pak atau mas Yanto itu lalu menyeruput tehnya yang cokelat pekat. Khas orang Jawa, Nasgitel, katanya. Panas, Legi, Kuenthel. Lalu menerawang lagi. Kami juga menyeruput minuman kami, sambil sesekali makan gorengan.

Karena capek, dua temanku memilih pindah ke tempat lesehan untuk menyandarkan punggungnya. Aku lebih memilih di sini. Mendengarkan pak atau mas Yanto terus berceloteh. Ada banyak hal yang dia katakan ada benarnya.

Sesekali dia ngobrol dengan pemilik warung. Tetapi, ya itu. Ngobrolnya ngalor ngidul, ngelantur. Sepertinya orang-orang sini terutama pemilik warung sudah paham kelakuan pak atau mas Yanto ini.

Di sela ocehannya, sesekali pak atau mas Yanto ini ngomong tentang Tuhan, sesekali lain tentang manusia yang kacau, dan lain sebagainya. Tapi tiba-tiba, dia bisa ngomong hal lain seperti ini.

"Opo gunane meksakke sing wes ngerti hasile ora bakal koyo sing dipeksakke (apa gunanya memaksakan sesuatu yang sudah tahu hasilnya tidak akan seperti yang dipaksakan). Wes ngerti ora iso bareng, kok mekso bareng (Sudah tahu tidak akan bisa bersama kok memaksa bersama). Wes ngerti ora bakal disetujui wong tuane mergo agamane bedo (sudah tahu tidak akan disetujui orangtuanya karena agama yang berbeda), kok yo isih ngengkel nek iso urip bareng suk mbene (kok ya masih yakin kalau nantinya pasti bisa bersama). Mikir duwur kui penting, neng nek ra logis, malah marakke loro ati suk mbene (berpikir tinggi atau berharap tinggi itu penting, tetapi kalau tidak logis nantinya akan membuat kita sakit hati)."

Di sana, aku teringat kamu. Tidak, bukan karena agama kita berbeda. Agama kita sama. Tidak masalah. Hanya teringat pada memaksakan sesuatu yang hasilnya sepertinya tidak akan seperti yang dipaksakan. Itu yang aku pikirkan.

Aku memaksa bertahan selama ini. Kamu tahu benar itu. Aku juga tahu benar itu.

Sekarang coba ingat, sudah berapa lama kamu dan aku, tidak pernah lagi duduk berdua untuk saling berbicara? Sudah berapa lama kamu ingin pergi dan aku terus menahanmu agar tidak pergi? Sudah berapa lama kita seperti orang asing? Hanya ada pertanyaan basa-basi 'sudah makan?' atau 'lagi apa?'

Dulu, sewaktu kita masih saling jatuh cinta, dua pertanyaan itu bisa sangat menyenangkan. Dulu. Dulu waktu masih jatuh cinta. Sekarang, kita berdua sama-sama tahu, kalau itu basa-basi saja. 

"Koe ra bakal neng endi-endi nek karo sing biyen wae koe ra iso lali (kamu tidak akan bisa ke mana-mana kalau dengan masa lalumu saja kamu tidak bisa lupa). Ra iso nduweni sing nggawe koe seneng yen sing nglarani koe malah isih mbok goceki (tidak bisa memiliki yang membahagiakanmu kalau yang justru melukaimu masih kamu pertahankan)," pak atau mas Yanto berceloteh lagi.

Lagi-lagi ingatanku kembali kepadamu.

Masih ingat, berapa kali kamu berbuat salah dan aku memaafkanmu lagi? Berapa kali aku melewati malam-malam dengan menangis, kamu merayuku, setelah berhasil, kamu bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang pernah terjadi.

Lalu kamu merayu dan meminta maaf lagi untuk ke sekian kali. Bodohnya, aku memaafkanmu lagi. Seperti de javu. Aku terus bertahan, kamu terus melakukan kesalahan.

Dan tiba-tiba saja kamu ingin pergi. Kamu pikir selama ini aku bertahan itu untuk siapa kalau bukan untuk kita? Terus kenapa kamu yang terus melakukan kesalahan, tetapi kenapa kamu juga yang malah ingin pergi?

Ada apa dengan kita? Ke mana kata-katamu sewaktu berbuat kesalahan dan terus merayu, "Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku. Maafkan aku."

Ke mana itu semua? Apa bisa tiba-tiba hilang begitu saja, atau memang malah sebenarnya tidak pernah ada? Yang artinya kamu sebenarnya tidak pernah mencintaiku tetapi mencintai kebodohanku yang terus memaafkan kesalahanmu yang sama?

Ajaib. Sekarang ini, melintas semua waktu yang sudah kita lewatkan bersama. Lalu, semua menyimpul menjadi satu akhir yang baru aku tahu: pada akhirnya, pertahankan hanya yang memang layak untuk dipertahankan.

Akhir-akhir ini, sudah berulang kali aku melihat handphone, menunggu nada dering. Siapa tahu itu dari kamu. Tapi, tidak. Kalau bukan aku yang menghubungimu lebih dulu, tidak akan ada dering apapun di handphoneku dari kamu. Berarti hanya aku yang menunggu. Hanya aku yang bertahan. Hanya aku yang ... jatuh cinta. Sendirian.


"Kadang wong kui ngerti nek dikandani (kadang, orang itu tahu kalau dikasih tahu), ning emoh ngakoni lan emoh nglakoni (tetapi tidak mau mengakui dan tidak mau menjalani)."

Pak atau mas Yanto ini benar. Tidak ada artinya bersama, jika salah satu dari dua orang tidak 'benar-benar' mau bersama.

Karena itu aku akan berhenti bertahan karena kamu memang tidak mau aku pertahankan. Bagaimana bisa benar-benar 'berpasangan' jika hanya satu orang saja yang memperjuangkan?

Ini batasnya. Ini batas waktunya aku menunggu nada dering darimu. Ini juga batasnya mempertahankanmu.



It's like epiphany. I'm no longer have the feeling for you like I used to be.






--------
Epifani menurut googling, "Adalah peristiwa istimewa dalam kehidupan seseorang yg menjadi titik balik dengan pengaruh berbeda-beda, bisa negatif atau positif tergantung besaran epifaninya."









----
Sedang berusaha menulis kembali. Maaf kalau masih agak belepotan. Harus membiasakan diri lagi.

4 komentar:

Rahmi Aziza mengatakan...

Akuu jadi inget sama lagunya Cakra Khan... Kuberlari kau terdiam....

venilla mengatakan...

"Akhir-akhir ini, sudah berulang kali aku melihat handphone, menunggu nada dering. Siapa tahu itu dari kamu. Tapi, tidak. Kalau bukan aku yang menghubungimu lebih dulu, tidak akan ada dering apapun di handphoneku dari kamu. Berarti hanya aku yang menunggu. Hanya aku yang bertahan. Hanya aku yang ... jatuh cinta. Sendirian."

nyesek :')

ezra Rahardian mengatakan...

Iki blog e spoooo?

Joel Alta mengatakan...

Jleb mas, tulisan mas Ara aelalu membawa perasaan. Jempol