Kamis, 11 Agustus 2016

'Ada'



Ta, bukan jarak yang membuat kita terasa jauh, tetapi karena kita tidak saling berbicara. Maksudku, benar-benar berbicara. Bukan sekadar, “Kamu lagi apa?”, atau menceritakan apa yang hari ini kamu atau aku lakukan. Tetapi, apakah hatimu berubah? Apakah di sana kamu bertemu orang baru, yang awalnya biasa, lalu semakin lama, tumbuh menjadi cinta?

Jarak bukan masalahnya, tetapi komunikasi kita. Di bagian itu, mungkin kamu yang tidak bisa memahaminya.

Aku tidak takut dengan kejauhan, Ta. Di masa sekarang ini, jarak sejauh apapun bisa dipendekkan dengan saling berbicara. Ada Skype, Whats App, BBM, dan lain sebagainya. Semakin rutin kita berbicara, semakin hati kita terjaga. Semakin jarang kita saling menyapa, hati kita pun semakin kentara jaraknya.

Apakah kamu ingat, dulu kita setiap hari kangen-kangenan, berusaha menyempatkan waktu sembunyi-sembunyi untuk saling berbicara? Rasanya, ingin saling mendengar suara dan kalau bisa bertatap muka meski itu dengan skype atau apa saja yang bisa kita lakukan? Bertanya-tanya, apakah kamu bosan di sana, atau apa yang akan kita lakukan jika kita sedang bersama? Itu hanya pada awalnya.

Beberapa minggu kemudian komunikasi kita berkurang menjadi beberapa hari sekali. Mungkin sekadar “Sudah makan belum?” atau “Sibuk gak hari ini?” di pesan pendek kita. Itu yang kemudian paling sering kita lakukan. 

Atau percakapan pendek lainnya, yang jawabannya selalu sekadar “Ya” dan “Tidak” dan dilanjutkan “Kalau kamu?”. Semua berhenti di kamu.

Positif thinkingku, mungkin terlalu sibuk kamu di sana. Tetapi, kamu pun sempat update Instagram, Facebook, atau Path. Makan apa, berwisata ke mana, dan lain sebagainya. Aku sempat berpikir, kalau ya, baiklah, mungkin memang kamu butuh untuk bersenang-senang di sana agar tidak homesick. Tetapi, lama-lama, aku merasa kalau kamu yang memang sedang menjaga jarak.

Bukankah jarak sebenarnya dari kita saja sudah ratusan kilometer jauhnya, Ta? Kenapa sapaan kita pun juga harus diberi jarak?

Kalau diingat lagi, tidak terlalu sulit menebak akhirnya kita akan seperti apa. Pikiranku sudah bisa menebak seperti menebak 1 ditambah 1 hasilnya 2. Mudah, terlalu mudah. Anak kecil pun bisa melakukannya.

Tetapi, seperti biasa, hati terlalu sering berusaha mengelabui logika. Logikaku tahu, kamu akan pergi dariku. Tetapi, hati mengatakan, tunggu dulu, berilah sedikit waktu. Siapa tahu ini kejenuhan sesaat, lalu jenuhnya minggat. 

Ya, seperti itu. Aku memberi waktu. Semoga kamu hanya karena kejenuhan di sana, butuh bersenang-senang, lalu hatimu kembali. Kepadaku, yang cemas menunggumu.

Dan seperti juga biasanya, logika yang selalu memberikan faktanya. Suatu hari, ada unggahan foto kamu duduk dengan seseorang dengan posisi tidak biasa. Kepala kalian terlalu dekat meski duduk depan dan belakang, juga bersama teman-teman. Aku tidak mau curiga, tetapi mungkin aku terlalu banyak membaca Detective Conan, Sherlock Holmes, atau Batman, karena aku ingin tahu siapa dia.

Tunggu, apa itu karena cinta? Aku takut kehilanganmu sehingga aku menjadi siaga pada apapun yang bisa mengambilmu?

Untuk laki-laki itu, juga di tag di sana, sehingga aku bisa mencari tahu di halamannya sendiri. 

1 + 1 = 2 itu memang eksakta. Mau bagaimapun, hasilnya akan 2. Persis seperti dua orang yang komunikasinya terlalu jarang, kalaupun iya, basa-basi saja, perpisahan hanya tinggal menunggu waktu saja.

Di halaman facebooknya, ada beberapa foto kamu dan dia. Berdua. Hanya berdua. Kalau aku bertanya, kamu pasti akan mendebatnya. Tidak akan ada pengakuan yang aku inginkan. Meski beberapa waktu kemudian kamu juga yang akan mengajak kita untuk berpisah saja. Tetapi, sekarang ini kamu akan membantahnya.

Aku terlalu mengenalmu untuk tahu kamu akan mengatakan apa. Ini seperti menanyakan sesuatu yang sudah pasti. Di percakapan facebook kalian saja, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Terlalu kentara untuk tidak disebut sedang saling jatuh cinta. Tetapi, aku memang harus menanyakannya biar semua segera pasti. Biar aku tidak terlalu menunggu lagi.

“O…o… Gotcha! Ketahuan kan!”

Nia. Dari belakangku sambil membawa jus mangga kesukaannya. Secepat mungkin aku letakkan hpku dengan posisi menutup ke meja. 

Sesuatu yang sebenarnya aku pun tahu tidak ada gunanya. Dia pasti sudah melihat foto kalian berdua di hpku yang memang tidak sempat aku tutup tadi.

“Lalu sekarang bagaimana?” tanyanya.

Dia memang orang yang terlalu terbuka. Ngomong apa adanya, apa yang ada di pikirannya. Itu yang membuat dia banyak yang membenci sekaligus banyak yang menyukai. Dia terlalu straigth to the point, di mana terlalu banyak orang di sekitar kita yang lebih menyukai basa-basi dan ingin disenangkan hatinya meski itu kebohongan yang sama-sama tahu tidak ada benarnya.

“Sudah siap ninggalinnya?” katanya lagi. Masih tanpa basa-basi. “Kalau aku mah, gak perlu mikir lagi. Udah dari dulu juga keliatan kalau dia sudah berusaha meninggalkan kok masih dipertahankan.”

Aku tersenyum saja.

“Jadi, gimana? Terima tawaranku saja atau gimana?”

Matanya berkerling. Senyumnya manja. Lalu senyum itu melebar dengan mata berbinar.

Ya. Sejak awal, dia juga yang selalu menyuruhku meninggalkan Dita begitu menyadari kalau dulu setiap istirahat aku dan Dita selalu saling videochat, lalu terus berkurang. 

Dia juga yang tanpa tedeng aling-aling bilang suka, dan kalau Dita pergi, mau menggantikannya. Kalau aku bilang aku saja belum putus, dia juga yang bilang kalau harus sudah bersiap-siap sekarang karena toh pada akhirnya juga akan putus juga. Hanya masalah waktu. Katanya, di sela waktu itu, bisa berusaha menumbuhkan cinta sebelum keduluan yang lainnya.

(Hanya masalah waktu, katanya)

“Hih, malah diem aja. Aku tunggu sampai jawabannya 'iya'!”

Dia tersenyum lalu kembali meminum jusnya.

Dia adalah orang yang membawakanku kopi hampir setiap hari, mengajakku nonton atau jalan, meski aku tidak pernah mengiyakannya kecuali jika ada teman kantor lain yang juga ikut serta. Menanyakan ‘sudah sampai rumah belon?’ atau ‘malam ini maem apa?’, dan lain sebagainya. Berusaha selalu ‘ada’, meski ‘pintu itu’ belum terbuka.

(‘Ada’)

Aku menatapnya. Dia melirikku seperti tahu aku sedang melihatnya, “Jadi, jawabannya, sekarang sudah ‘Iya’?”

Aku tertawa.


Dia mengerlingkan matanya lagi. 


14 komentar:

Namarappuccino mengatakan...

Postingan pertama setelah sekian lama. Sedang berusaha kembali. Semoga, tulisan bisa kembali dengan gaya bahasa semula, dan bisa rutin lagi untuk mengisi blog setidaknya seminggu sekali.

Demi proyek namarappuccino. :)

Doanya.

Debby Diana Margy mengatakan...

Gluck! Aku sukaaaaaaaaaaa!!! sederhana tapi hampir setiap org pasti pernah merasakan nya

Debby Diana Margy mengatakan...

Gluck! Aku sukaaaaaaaaaaa!!! sederhana tapi hampir setiap org pasti pernah merasakan nya

Puji P. Rahayu mengatakan...

Ahh. Akhirnya posting lagiii. Miss Namarappuccino, so much.
Manusia itu memang sulit diatur. Entah hidupnya, hatinya, atau logikanya.

Uswah mengatakan...

Endingnya tak terduga..

Gotchaaaa... Selamat datang kembali di dunia blog.. Selalu suka dengan tulisannya

Sekar✿ mengatakan...

Welcome back, then :)

eldewanie yahya mengatakan...

Welcome back :)

ila mengatakan...

tulisanmu selalu begitu kak, sederhana tapi ngena.
aku juga sudah lama sekali gak mampir blog.
So, welcome back to us! hehe

Jibon Assubqy mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Jibon Assubqy mengatakan...

Ah, akhirnya muncul lagi.. Sehat terus kak, ditunggu postingan2 selanjutnya :)

Claude C Kenni mengatakan...

Welcome back. Selalu rindu baca tulisan-tulisan lu, seperti segelas Cappucino yg selalu gua minum di setiap pagi =)

luthfiyyah rona mengatakan...

Ringan. Ngena.
Gud joob kaaaak;;)

luthfiyyah rona mengatakan...

Ringan. Ngena.
Gud joob kaaaak;;)

D❤ mengatakan...

Sederhana, simple tapi ngena banget 💕