Senin, 22 Agustus 2016

Sampai Kapan?



Dua tahun mengenalmu, membuatku hafal dengan kebiasaanmu.

Yang selalu menambah satu air mineral kalau memesan minuman apa pun. Katamu, yang manis untuk nongkrong sama aku, yang air mineral untuk hausmu.

Yang selalu geleng-geleng kepala setiap aku memborong buku atau sedang mengetik fiksi untuk blogku.

Yang selalu tertawa melihatku menghirup aroma kopiku sebelum meminumnya.


Yang selalu bilang, 'Aku lapar lagi' setiap habis makan. Membuatku selalu tertawa. Badannya kecil, tapi makannya banyak. Kamu akan memukul lenganku sambil ikut tertawa. Badannya iya, lambungnya bisa melar, katamu. Lalu tertawa bersamaku.

Aku suka ketika kamu menyanyi. Bersenandung menyesuaikan melodi. Diam-diam aku sering merekamnya ketika kita karaoke berdua. Untuk aku dengarkan lagi nanti malam sambil memejamkan mata. Sambil membayangkan kamu tertawa, atau kamu sedang tertidur di depanku dengan muka polosmu.

Kamu selalu memiliki selera lagu yang membuatku harus mencari dan bertanya "Lagu siapa itu?". Baiklah, aku akui, aku kurang dalam mengenal lagu-lagu bagus. Sampai kamu menyanyikan lagu Brian McKnight, Natasha Beddingfield, Norah Jones, dan lain sebagainya. Aku tidak banyak mendengarkan radio apalagi menonton tv. Jadi tidak tahu lagu apa saja yang bagus. Tetapi, kamu dengan senang hati akan menyetel lagu-lagu The Beatles dan kita akan menyanyi berdua. Kalau John Lennon sudah menyanyi lagu "Yesterday', kita akan galau berdua. Dan kalau lagunya selesai, kita akan tertawa terbahak-bahak. Itu seperti otomatis.

Kita selalu melakukannya. Tidak ada kata bosan. John Lennon, why do you have to die so soon? Itu motto kita setiap mendengar lagu itu.

Kapanpun kamu mengajak menonton film, aku akan mengatakan kalau aku sukanya film laga, bukan film menye-menye romantis-romantisan segala. Lalu kamu terbahak. Kalau begitu kenapa kamu menonton film "Hitch" sampai puluhan kali? Begitu ledekmu. Sampai hafal setiap adegan dan dialognya. Jangan-jangan kamu suka karena lihat seksinya Eva Mendez ya?

Aku akan tertawa dan memencet hidungmu. Tetapi kita berdua mengakui Will Smith memang bermain bagus sekali di situ. Hail Will Smith! Itu motto kita yang lain setiap menonton film yang dibintangi Will Smith.

Aku suka membuatmu tertawa. Meski aku bukan komedian, tampangku gak ada lucu-lucunya--kamu malah sering meledekku The very very very serious man (Ya, very nya selalu kamu triple! Hahaha), tapi karena aku suka tawa kamu, jadi aku sampai harus sibuk membeli banyak buku humor untuk membuat lelucon di depanmu. Kadang kamu bilang sangat garing, tapi justru kamu tertawa karena garingnya semua usahaku melucu itu. Dengan mukaku yang kebingungan, aku selalu bertanya, "Kalau garing kenapa tertawa?" Dan kamu malah terbahak.

Bukan karena kamu cantik kalau tertawa. Kamu melakukan apa pun juga bagiku akan cantik--you can call it 'ngegombal' atau apa, but its how i feel. Bukan karena kamu terlihat lucu ketika tertawa, dengan matamu yang menyipit, kepalamu yang mendongak dan mulutmu yang kamu tutupi pakai tangan kirimu (selalu pakai tangan kiri) lalu kamu menunduk lagi. Bukan karena suara tawamu yang sering ketika sudah berhenti pun masih terngiang di telingaku.

Tapi juga karena aku menikmati auramu. Menikmati bagaimana semuanya juga membuatku entah kenapa..., berbahagia. Ya, berbahagia. Mungkin tawamu adalah mantra bahagiaku, bedanya tidak perlu mengucapkan kata-kata ajaib, hanya tertawa saja, hanya berada di sekitarku saja.

Dua tahun kita sering berbagi oksigen bersama saking seringnya melakukan apa pun berdua.

Semuanya menyenangkan. Kita bisa melewatkan waktu berjam-jam, pergi ke mana tanpa rencana, atau sekedar nongkrong di warung susu segar. Mungkin sesekali bercanda kalau teman-teman mengira kita ini pacaran, padahal cuman berteman. Lalu kita tertawa. Kamu benar-benar tertawa, aku tertawa berpura-pura.

Kamu tidak pernah menyadarinya, kalau memang itu yang aku inginkan. Kita bukan sekadar berteman. Entah aku yang kurang menunjukkan kalau aku jatuh cinta, atau kamunya yang kurang peka.



2 komentar:

Alethea Yoris mengatakan...

aduhhhh, udah romantis banget dan diakhiri dengan baper berat di paragraf terakhir :')

nadia edmi mengatakan...

udah stahun lebih gak baca namarappuccino. masih suka 😊