Rabu, 31 Agustus 2016

The Worst Part?

Tidak ada lagi yang sama. Tempat yang biasa kita datangi, warung mi ayam langganan kita, atau kacang rebus pinggir jalan di pojok perempatan dekat pos polisi. Rasanya sama, tetapi tetap suasananya berbeda.

Dulu, kalau ada kamu, aku menikmati setiap detiknya. Sekarang, aku ingin semua berlalu secepatnya. Sayang sekali, semua tempat itu adalah tempat yang memang aku sukai, jadi mau tidak mau, aku akan ke sana menikmati hari.

Setiap kali di tempat-tempat itu, bermunculan kamu di mana-mana. Di depanku sambil tertawa, membeli kacang rembus sambil bergurau dengan penjualnya karena seringnya kamu membeli darinya, atau kamu mengerutkan dahi setiap aku menambahkan empat sendok sambal ke mi ayamku. Kamu tahu aku selalu melakukannya, tetapi kamu tetap merasa heran setiap kali melihatku memasukkan begitu banyak sambal ke makanan apa saja.

“Kalau kita menikah nanti, bagaimana ya? Kamu suka pedas, aku sambal sedikit saja sudah kepedasan?”

”Menikah itu kompromi, berpasangan itu kompromi,” kataku memulai jawaban.

Kita memang berbeda usia. 5 tahun 9 bulan tepatnya. Aku belajar banyak tentang hidup, lebih dari kamu. Orang bilang, dewasa itu pilihan. Ya, kadang-kadang. Kalau memang orang itu memilihnya. Tetapi, jika sama-sama memilih untuk dewasa, maka semakin banyak umurnya, juga lebih dewasa.
Dan kamu bilang dulu, suka aku karena aku dewasa. Cukup untuk mengimbangi kamu yang masih kekanak-kanakan dan manja.

“Biasanya,” lanjutku, “kamu akan mulai suka pedas, dan aku mengurangi tingkat kepedasan kesukaanku. Bisa jadi juga kesukaanku akan pedas jadi jauh berkurang. Pada intinya, banyak hal yang berubah. Itu pasti. Karena seharusnya, dua orang akan mulai memikirkan ‘kita’ bukan lagi salah satunya.”

Kamu manggut-manggut dengan bibir merengut. Itu artinya kamu mendengar tapi tidak tahu atau tidak yakin memang seperti itu. Ya, aku mengenalmu sebanyak itu.

Sedetik kemudian, kamu menutupi rambutmu dengan kedua tanganmu. Aku sampai belum sempat mengangkat tangan. Memang aku biasanya segera mengacak rambutmu kalau kamu sudah bersikap lucu. Ya, kamu pun mengenalku sebanyak itu.

Kita, bahagia ketika bersama atau bahkan ketika berjauhan tetapi tetap bertegur sapa. ‘Selama kita jatuh cinta,’ katamu ketika aku mengatakan ingin tetap perasaan bahagia itu ada selamanya. Aku tidak tahu kenapa kamu mengatakannya.  

"Selama kita jatuh cinta," belakangan aku sadari aku mulai menyesal setiap mendengarnya.

Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Secinta-cintanya kita, bisa jadi patah hati nanti. Sebahagia-bahagianya kita, bisa jadi berduka nanti. Kita berusaha untuk berbahagia dengan yang ada, tetapi belum tentu memang itu yang nanti akan menjadi bahagia yang sebenarnya.
Seperti kamu.

Aku sudah berusaha menjagamu. Mengusahakan semua sebahagia-bahagiamu.

Lalu kamu pergi. Kamu bilang aku berubah, mungkin karena ada orang lain. Tidak ada orang lain, kamu hanya mencari alasan untuk meninggalkan. Kamulah yang berubah menjadi orang lain. Kamu bilang kita tidak lagi nyaman bersama. Aku merasa nyaman-nyaman saja, sampai kamu menjawab sms ku hanya dengan ‘Tidak’ atau ‘Ya’. Aku merasa nyaman-nyaman saja, sampai untuk bertemu kamu saja, aku mulai tidak bisa.

Aku yang ada orang lain, atau kamu? Kita yang tidak lagi nyaman, atau kamu yang sudah menemukan kenyamanan baru?

Lupakan. Aku tidak butuh jawaban. Semua jawaban sudah ada tanpa kamu perlu berkata apa-apa. Mungkin ini memang lebih baik untuk kita daripada kita pura-pura baik-baik saja.

Kalau memang itu maumu, aku akan menerimanya semampuku. Aku tidak akan menangisimu. Seperti apa yang aku bilang, kita tidak tahu akan bersama siapa di masa depan. Aku selalu berharap yang terbaik, dan bersiap untuk kemungkinan terburuk. Kita bersama adalah harapan terbaikku, kita berpisah adalah kemungkinan terburukku. Well, at least I’m ready for the worst part.

Mungkin kamu bukan bahagiaku, meski aku pernah mengiranya begitu. Aku sudah bersiap untuk hal terburuk, apapun itu. Bahkan kamu meninggalkanku pergi untuk orang lain. Aku hanya tidak mengira, orang yang kamu pilih adalah sahabatku.


Aku tidak bersiap untuk itu.






4 komentar:

luthfiyyah rona mengatakan...

Nangis gue :'''''

luthfiyyah rona mengatakan...

Nangis gue :'''''

liu mengatakan...

menarik....tapi ngak ikutan nangis sih,,,he,he,he

nadia edmi mengatakan...

😭