Minggu, 14 Oktober 2018

Berbicara



Mungkin, aku tidak mengerti apa maumu dan kamu tidak memahami apa inginku. Di sinilah mungkin kita sering tidak menemukan titik temu.

Kamu tidak mengerti kalau aku hanya ingin ada kabar, sekecil apapun itu. Aku tidak akan curiga, tidak akan memberondongmu dengan belasan tanya. Aku percaya, selama kamu bisa dipercaya. Lagipula, untuk apa bersama kalau bahkan kita tidak saling percaya? Tetapi, masalahnya, aku sering terlalu lelah menunggu kabar sampai larut malam dan ketiduran.




Dengar, maksudku seperti ini. Menanyakan kabarmu itu bukan curigaku atau cemburuku. Mungkin ada sedikit tentang itu, tapi lebih kepada kalau ada apa-apa denganmu, aku ingin yang pertama tahu. Aku ingin bisa segera ke sana untuk memastikan kamu baik-baik saja. Tapi kalau menurutmu itu mengganggu, ya sudah tidak apa-apa.

Kalau aku ingin kita lebih sering meluangkan waktu bersama, atau setidaknya saling 'telponan', itu juga bukan ingin mengikatmu dan kamu tidak boleh melakukan apa-apa kecuali denganku. Tidak, aku tidak mau membatasimu. Tetapi, cinta seharusnya membuat seseorang lebih istimewa.

Kita cinta, jadi untukku sendiri, kamu itu istimewa. Setiap kebersamaan atau 'ngobrol' nggak jelas saja itu berbeda dengan ngobrol dengan orang biasa lainnya. Apa kamu tidak ingin lebih sering atau lebih lama bersama dengan orang yang 'istimewa'?

Aku tidak akan mengganggu waktu futsalmu atau ngopi bersama teman-temanmu. Aku hanya ingin seminggu sekali dua kali kita bertemu. Melakukan apa saja. Bahkan kalau sekadar makan kerak telor yang biasa di pinggir jalan raya. Tidak perlu mengubah jadwal futsalmu atau ngopimu. Seluangmu, tetapi setidaknya sempatkan waktu.

Setidaknya kita saling ngobrol meski telponan. Aku sadar kamu, aku, punya kesibukan sendiri-sendiri. Tidak bisa terlalu sering ngobrol atau bertemu. Tetapi setidaknya sebelum tidur atau istirahat siang--5 menit saja, tidak akan mengubah rutinitas kita. 5 menit saja, itu tidak lama. Tetapi, kalau menurutmu itu mengganggu privasimu, ya sudah, tidak apa-apa. Aku bisa apa?

Kalau aku juga sering bertanya kita itu sebenarnya mau bagaimana; mau terus seperti ini atau ada rencana lebih jauh nantinya, itu bukan menyuruhmu atau menuntutmu cepat-cepat melamarku. Aku juga tidak mau tergesa-gesa. Tetapi setidaknya setiap perjalanan harus ada tujuan. Hubungan ini apa juga punya tujuan? Kepastian? Atau sekadar hanya agar tidak sendirian?

Bukan apa-apa. Aku perempuan. Semakin tua, semakin banyak waktu sia-sia kalau menjalani hubungan hanya agar tidak kesepian saja. Setidaknya ya, setidaknya, aku ingin diyakinkan kalau kita punya tujuan sama, bersama selamanya. Bukan sekadar sementara, dan kalau ada yang lebih baik, berarti bukan jodohnya. Di usia kita, cinta tidak lagi sebuah canda. Begitu bersama, seharusnya saling menyesuaikan, bukan kalau tidak sesuai, cari lainnya.

Tapi kalaui menurutmu aku terlalu menuntut, aku harus bagaimana?

Setidaknya, ayo kita saling berbicara. Menyesuaikan yang bisa disesuaikan dan memahami yang bisa dipahami. Apa yang kamu suka aku suka, apa yang kamu tidak suka aku suka? Apa yang bisa diubah apa yang tidak?

Kalau untuk meluangkan waktu saling berbicara saja kamu tidak bisa, aku tidak tahu sebenarnya hubungan kita berdua ini hubungan apa.

Pastinya (ini inginku), semoga dalam waktu dekat ada kepastiannya. Jangan terlalu lama. Bukan berarti kesabaran itu ada batasnya, lebih ke aku tidak mau menunggu yang sia-sia.

Itu saja.

Itu saja.



3 komentar:

:) mengatakan...

Aku banget

Lelaki Jingga mengatakan...

Selalu ikut masuk ke dalam ceritanya. Berasa membaca diri sendiri

Rusydina Tamimi mengatakan...

akhirnya update jugaa T^T