Selasa, 16 Juli 2019

Kalau Memang Mencintai

Aku kangen kamu, kadang-kadang. Cukup boncengan berdua, entah ke Parangtritis atau Prambanan. Menikmati gak hanya tujuannya tapi juga perjalanannya. Mungkin aku menikmati itu karena teman perjalanannya adalah kamu, entah kalau lainnya. Kangen suasananya, naik motornya, perjalanannya, dan .... kamu tentu saja.

Aku ingat kamu; tidak sering, tapi bisa tiba-tiba ingat saja. Bisa karena lagu, kopi yang sama, tempat dulu kita pernah ke sana, atau ketika ada wangi parfum yang sama. Lucunya, aku kadang bisa ingat detail percakapan kita atau yang kamu pakai saat itu baju warna apa. Kadang aku heran dengan daya ingatku tentang kamu, yang bahkan bawa dompet atau hp pun aku sering lupa. Aku tidak tahu itu karena kenanganku atau ... karena ... cinta.

Aku tahu kamu. Mungkin segalanya. Warna apa yang kamu suka, makanan dan minuman apa, caramu berpakaian bagaimana, lagu apa, sampai cara kamu menggesek bawah hidungmu dengan dua jarimu entah karena gatal atau memang karena hal biasa ketika kamu malu dan bingung mau mengatakan apa. See? I still remember you perfectly.

Kamu juga tahu aku. Entah apa juga segalanya. Kamu tahu makanan kesukaanku, apa yang harus dilakukan kalau aku sedang marah, sampai hafal kalau aku mengetukkan jari-jariku ke meja berarti ada yang sedang kupikirkan di kepala.

Kita dulu sedekat itu ya?

Tapi kamu tidak bisa tiba-tiba datang, setelah lama aku kamu tinggalkan. Tidak bisa setahun tidak memberi kabar, lalu tiba-tiba bilang menyesal. Tidak bisa tiba-tiba pergi saat aku paling mencintai, dan tanpa aba-aba datang untuk memintai dicintai lagi.

Kamu pikir aku ini apa? Patung yang bisa dibuang dan diambil begitu saja? Kontrakan yang bisa ditinggali dan pergi kalau ada rumah yang lebih besar lainnya?

Kamu pikir cinta itu apa? Akan tetap sama dan ada kalau ditinggal lama? Akan tidak berubah meski sudah diberi luka?

Jangan egois dengan inginmu, lupa dengan bahagiaku. Kamu bersamaku, pergi, lalu ingin kembali, semua inginmu. Kamu tidak peduli waktu itu aku sedang sayang-sayangnya, dan sekarang sedang benci-bencinya.

Ah lupakan.

Aku sudah bahagia sekarang. Aku tidak bisa menunggu lama. Jadi aku memutuskan kalau aku layak bahagia. Tanpamu pun tidak apa. Dan aku sudah mendapatkannya.

Mungkin saat kamu pergi, memang itu cara Tuhan menyadarkanku kalau kamu tidak layak dicintai. Mungkin, saat kamu memilihnya, itu cara Tuhan memberitahu, kalau belum apa-apa saja kamu tidak bisa setia, bagaimana kalau sudah menikah nantinya? Mungkin, saat kamu tidak memberi kabar sama sekali, itu adalah tanda kalau sebenarnya kamu tidak benar-benar mencintai. Kalau memang mencintai, kenapa pergi?

Hmmm. Kamu pergi saja sekarang.
Kalau aku ingat kamu seperti ceritaku, itu cuman mengenang sesekali. Tidak sama dengan masih mencintai atau masih ada kesempatan kembali.

Kembali itu sesuatu yang mustahil terjadi. Semua sudah tidak sama lagi. Aku bukan orang yang sama yang bisa kamu lukai lagi.

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Selalu suka sama tulisan penulisnya. Update lebih seeing bro